Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

ثلاثةٌ لا يَدخلُونَ الجنةَ: العاقُّ لِوالِدَيْهِ ، و الدَّيُّوثُ ، ورَجِلَةُ النِّساءِ

Tidak masuk surga orang yang durhaka terhadap orang tuanya, AD DAYYUTS, dan wanita yang menyerupai laki-laki” (HR. Al Baihaqi dalam Al Kubra 10/226, Ibnu Khuzaimah dalam At Tauhid 861/2, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami’, 3063).

Siapa itu dayyuts? Dan apakah saya dan anda termasuk dayyuts? Wal ‘iyyadzu billah.

Dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dalam hadits lain:

ثَلَاثَةٌ قَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ الْجَنَّةَ مُدْمِنُ الْخَمْرِ وَالْعَاقُّ وَالدَّيُّوثُ الَّذِي يُقِرُّ فِي أَهْلِهِ الْخَبَثَ

Ada tiga orang yang Allah haramkan mereka masuk surga. Pecandu khamr, anak yang durhaka pada orang tua dan AD DAYYUTS, yaitu orang yang setuju pada khabats (maksiat) yang dilakukan oleh anak-istrinya” (HR. Ahmad no. 5372, dishahhihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami‘ no.3052).

Juga dalam hadits lain Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

ثَلَاثَةٌ لَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ أَبَدًا : الدَّيُّوثُ وَالرَّجُلَةُ مِنَ النِّسَاءِ ، وَمُدْمِنُ الْخَمْرِ ) ، قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ أَمَّا مُدْمِنُ الْخَمْرِ فَقَدْ عَرَفْنَاهُ ، فَمَا الدَّيُّوثُ ؟ ، قَالَ : ( الَّذِي لَا يُبَالِي مَنْ دَخُلُ عَلَى أَهْلِهِ ) ، قُلْنَا : فَمَا الرَّجُلَةُ مِنْ النِّسَاءِ ؟ قَالَ : ( الَّتِي تَشَبَّهُ بِالرِّجَالِ) .

Ada tiga orang yang tidak masuk surga: AD DAYYUTS, wanita yang ar rajulah dan pecandu khamr”. Para sahabat bertanya: “wahai Rasulullah, adapun pecandu khamr kami sudah paham maksudnya, lalu apa makna ad dayyuts?”. Nabi bersabda: “yaitu orang yang tidak peduli siapa yang mendatangi anak-istrinya”. Para sahabat bertanya lagi: “Lalu apa wanita yang ar rajulah itu?”. Nabi menjawab: “Wanita yang menyerupai laki-laki” (HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman no.10800, dishahihkan Al Albani dalam Shahih At Targhib no. 2367).

Kemudian kita lihat juga penjelasan para ulama. Al Munawi mengatakan:

أن الديوث ذلل حتى رأى المنكر بأهله فلا يغيره

Ad dayyuts adalah sebuah kerendahan, sehingga ketika ia melihat anak-istrinya melakukan kemungkaran ia tidak cemburu” (Faidhul Qadir, 3/327).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan:

والديوث: الذي لا غيرة له

“Ad Dayyuts adalah lelaki yang tidak punya rasa cemburu” (Majmu’ Al Fatawa, 32/141).

Ibnu Hajar Al Haitami mengatakan:

قال العلماء : الديوث الذي لا غيرة له على أهل بيته

“Para ulama mengatakan: ad dayyuts adalah orang yang tidak punya rasa cemburu terhadap anak-istrinya” (Az Zawajir, 2/347).

Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan:

الديوث هو الذي يرضى الفاحشة في أهله، يرضى بأن تزني يرضى بفعلها الفاحشة هذا هو الديوث الذي يرضى بالمعصية والشر في أهله أي الفساد في أهله يقرهم على ذلك

“Ad Dayyuts adalah orang yang ridha ketika anak-istrinya berbuat fahisyah, misalnya ia ridha anak-istrinya berzina atau melalukan fahisyah. Inilah dayyuts. Juga yang ridha ketika anak-istrinya melakukan maksiat dan keburukan, intinya dia menyetujui kerusakan yang dilakukan anak-istrinya” (Sumber: https://binbaz.org.sa/fatwas/1199).

Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts wal Ifta menjelaskan:

فمن نظر إلى ما جاء في الرواية الأولى أطلق كلمة (الديوث) على كل من أقر الخبث في كل من له ولاية عليه؛ من زوجته وبنته وأخته ونحو ذلك، سواء كان الخبث زنا ، أو وسائل إلى الزنا، من كشف عورة أمام أجنبي وخلوة به ، وتطيب عند الخروج ونحو ذلك مما يثير الفتنة، ويغري بالفاحشة، ورأى أن الأحاديث الخاصة الواردة في هذا داخلة في عموم الحديث الأول، لكن هذه الأحاديث فيها من المطاعن ما تقدم بيانه، مع العلم بأن سكوت الإنسان عن المنكر محرم، سواء كان في أهله أم في غيرهم، إلا أن سكوته عن إنكاره فيمن ولاه الله أمرهم أشد نكرا، وأعظم إثما

“Orang yang memperhatikan riwayat pertama, bahwa dayyuts adalah orang yang menyetujui khabats ketika dilakukan oleh orang yang dalam tanggungannya semisal istrinya, anak wanitanya, saudarinya dan semisalnya.

Baik khabats ini dimaknai zina atau semua wasilah menuju zina semisal membuka aurat di depan lelaki non mahram, berkhalwat dengan lelaki non mahram, memakai parfum ketika keluar, dan semisalnya yang semua ini menyebabkan fitnah dan menggoda untuk melakukan fahisyah. Maka anda akan melihat hadits-hadits yang menyebutkan ini secara khusus masuk pada keumuman hadits pertama ini. Namun hadits-hadits ini mengandung ancaman-ancaman yang telah disebutkan penjelasannya.

Ini semua setelah kita ketahui bersama bahwa mendiamkan kemungkaran itu perbuatan yang diharamkan, baik itu dilakukan oleh anak-istri ataupun selain mereka. Namun mendiamkan kemungkaran yang dilakukan oleh orang-orang yang dalam tanggungan kita, itu lebih parah dan lebih besar dosanya” (Fatawa Al Lajnah Ad Daimah, 17/197).

Maka kesimpulannya, ad dayyuts adalah orang yang membiarkan keluarganya melakukan maksiat. Termasuk di dalamnya:
* Suami membiarkan anak-istrinya berzina
* Suami membiarkan anak-istrinya membuka aurat di hadapan lelaki non-mahram
* Suami membiarkan anak-istrinya berduaan dengan lelaki non mahram
* Ayah membiarkan anaknya pacaran
* Suami membiarkan anak-istrinya memakai hijab yang tidak syar’i
* Suami membiarkan anak-istrinya memakai parfum di luar rumah
* Suami membiarkan anak-istrinya safar tanpa mahram
* Suami membiarkan anak-istrinya upload foto di medsos
* Suami membiarkan anak-istrinya nyanyi dan berjoget
Dan perbuatan yang dilarang agama lainnya.

Ad Dayyuts adalah dosa besar karena pelakunya diancam tidak masuk surga sebagaimana dalam hadits. Namun para ulama mengatakan ad dayyuts ini bertingkat-tingkat tergantung maksiat apa yang dibiarkannya. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Munajjid menjelaskan:

والذي يظهر والله أعلم أن الدياثة دركات ، فأعلاها إقرار الزنا في أهله ، ومنها إقرار غير الزنا مما يدخل في عدم الغيرة ، كإقرار الاختلاط ، ودخول الرجال على أهله

“Yang nampak lebih kuat bagiku, wallahu a’lam, diyatsah (dayyuts) itu bertingkat-tingkat. Yang paling parah adalah membiarkan (anak-istri) berzina. Dan termasuk diyatsah juga, membiarkan anak-istri melakukan maksiat selain zina yang terdapat unsur tidak ada kecemburuan, semisal ikhtilath (campur-baur dengan lelaki), membiarkan anak-istri ditemui lelaki, dan lainnya” (Fatawa Mauqi’ Al Islam Sual wa Jawab, no. 251104).

Semoga Allah memberi kita hidayah dan melindungi kita agar tidak menjadi dayyuts.

Advertisements