Pertanyaan:

Ketika men-takhrij suatu hadits, apakah didahulukan penyebutan referensi yang paling induk yang memuat hadits tersebut? Ataukah cukup menyebutkan sebagian saja?

Syaikh Abdul Karim Al Khudhair menjawab:

إذا كان الحديث في الصحيحين فلا داعي للإكثار من ذكر المصادر وإذا لم يكن فيهما فيذكر من المصادر ما يشتمل من الطرق على ما يصحح الخبر لا سيما الدواوين المعتبرة عند أهل العلم المشهورة دون الغريبة من الأجزاء وغيرها.

“jika hadits tersebut terdapat dalam Shahihain maka tidak perlu lagi untuk memperbanyak penyebutan referensi lain. Namun jika hadits tersebut tidak ada dalam Shahihain, maka didahulukan penyebutan referensi yang memuat jalur yang menunjukkan shahihnya hadits tersebut. Terutama hendaknya mendahulukan kitab-kitab hadits yang mu’tabar yang ditulis para ulama yang masyhur daripada kitab-kitab yang gharibah (kurang dikenal) semisal kitab-kitab Ajza’ atau lainnya”

***

Pertanyaan:

Bagaimana metode yang paling bagus dalam mengurutkan referensi ketika men-takhrij hadits. Apakah didahulukan berdasarkan sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in yang meriwayatkan hadits tersebut? Semoga Allah memberikan kebaikan pada anda dan semoga Allah membalas anda dengan kebaikan.

Syaikh Abdul Karim Al Khudhair menjawab:

ترتيب المصادر إما يبدأ بالأصح فالصحيح فما دونهما كالبخاري ثم مسلم ثم السنن ثم المسانيد والجوامع وهكذا وعلى هذا جري كثير من المحققين والمخرجين أن ترتب ترتيباً زمنياً فيقدم مالك ثم أحمد ثم البخاري ثم مسلم وهكذا. ويقتصر على ذكر الصحابي إذا سلم الحديث من اختلاف بين رواته وإلا فيذكر منهم ما يحتاج إليه لبيان الاختلاف

“Urutan referensi (ketika men-takhrij) bisa dengan mendahulukan jalan yang paling shahih kemudian yang jalur shahih setelahnya, kemudian yang lebih rendah lagi kualitasnya. Misalnya mendahulukan hadits Bukhari, kemudian Muslim, kemudian kitab-kitab Sunan, kemudian, kitab-kitab Musnad dan Jami’. Demikian. Dan banyak juga muhaqqiq dan mukharrij yang menerapkan metode pengurutan berdasarkan masa (hidup ulama penulis kitab hadits). Sehingga misalnya Imam Malik didahulukan, kemudian Imam Ahmad, kemudian Al Bukhari, lalu Muslim, dan seterusnya. Dan boleh hanya menyebutkan nama sahabat Nabi-nya saja jika hadits tersebut tidak diperselisihkan para perawinya. Namun jika terdapat perselisihan maka disebutkan apa-apa saja yang dibutuhkan untuk menjelaskan perselisihannya”.

Sumber: Liqa’at Multaqa Ahlil Hadits bil ‘Ulama, 1/18, Asy Syamilah