Disebutkan dalam fatwa tersebut: “Dalam ayat-ayat tersebut dijelaskan bahwa Allah beristiwa’ atau bersemayam di atas ‘Arsy, dan kita wajib beriman kepada-Nya dengan tidak perlu bertanya-tanya bagaimana dan dimana. Adapun yang dimaksud dengan qarib, (dekat) ialah: Bahwa Allah mengetahui segala sesuatu, Dia mendengar perkataan manusia, dan melihat segala macam perbuatannya, tidak ada hijab antara Allah dan manusia, tiada perantara atau wali yang menyampaikan doa’a mereka kepada Allah, tiada yang membantuNya dalam mengabulkan permohonan manusia kepada-Nya, Allah akan mengabulkan do’a manusia tanpa perantara seorangpun, apabila sesorang berdo’a kepada-Nya, sebab Allah-lah yang menciptakannya. Dia Maha Mengetahui segala apa yang ada dalam hati setiap orang. Demikianlah yang dimaksud dengan “aqrabu ilaihi min hablil warid”. (lebih dekat kepadanya daripada urat leher) yang disebutkan dalam surat Qaf (50): 16. Maka jelaslah, bahwa ayat-ayat tersebut tidak bertentangan antara ayat yang menyatakan bahwa Allah bersemayam di atas ‘Arsy, dengan ayat yang menyatakan bahwa Allah SWT sangat dekat dengan kita” [selesai nukilan].

Inilah aqidah yang shahih yang secara gamblang disebutkan oleh ayat-ayat Qur’an dan hadits-hadits Nabi dan diyakini oleh Ahlus Sunnah Wal Jama’ah sejak dahulu hingga sekarang.

Maka tidak benar sebagian orang yang serampangan menuduh sesat orang yang berkeyakinan bahwa Allah ber-istiwa di atas ‘Arsy.

Download fatwa: http://tarjih.muhammadiyah.or.id/download-fatwa-236.html