Dari Abu Umamah Al Bahili radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

مَن أحبَّ للهِ ، وأبغَضَ للهِ ، وأَعْطَى للهِ ، ومنَعَ للهِ ، فقد استَكْمَلَ الإيمانَ

“Siapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi harta karena Allah, menahan harta karena Allah, maka telah sempurna imannya” (HR. Abu Daud no.4681, dishahihkan Syaikh Al Albani dalam Shahih Abu Daud).

Hadits ini bicara tentang al hubbu LILLAH. Dijelaskan oleh Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad hafizhahullah :

والمعنى أحب لله من يحبه الله، وأحب لله ما يحبه الله، والمراد: من يحبه الله من الأشخاص، وما يحبه الله من الأعمال والأقوال، إذاً فالحب يكون للأشخاص وللأقوال وللأفعال التي يحبها الله ويرضى بها، (من أحب لله، وأبغض لله) أي: أبغض من يبغضه الله، وأبغض ما يبغضه الله

“Maknanya, mencintai seseorang yang dicintai oleh Allah. Dan juga mencintai suatu perkara yang dicintai oleh Allah. Dengan kata lain, ia mencintai seseorang karena Allah atau mencintai suatu perkara baik amalan atau perkataan, karena Allah. Dengan demikian, cintanya tersebut kepada person tertentu, atau kepada suatu perkataan atau kepada suatu perbuatan yang dicintai oleh Allah dan diridhai oleh-Nya.

[Siapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah], maksudnya, membenci orang yang dibenci oleh Allah dan membenci perkara yang dibenci oleh Allah” (Syarah Sunan Abu Daud, 255/9).

Dari Al Barra’ bin ‘Azib radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

إِنَّ أَوْثَقَ عُرَى الْإِيمَانِ: أَنْ تُحِبَّ فِي اللهِ، وَتُبْغِضَ فِي اللهِ

“Tali ikatan iman yang paling kuat adalah: engkau mencintai karena Allah dan engkau membenci karena Allah” (HR. Ahmad no.18524, dihasankan Al Albani dalam Shahih At Targhib no. 3030).

Hadits ini bicara tentang al hubbu FILLAH. Dijelaskan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah :

الحب في الله أن تحب من أجل الله جل وعلا؛ لأنك رأيته ذا تقوى وإيمان فتحبه في الله، وتبغضه في الله؛ لأنك رأيته كافرًا عاصيًا لله فتبغضه في الله، أو عاصيًا وإن كان مسلمًا فتبغضه بقدر ما عنده من المعاصي، هكذا المؤمن

“Al hubbu fillah maknanya anda mencintai (seseorang) karena Allah jalla wa ‘ala. Karena anda melihat ia adalah orang yang bertakwa dan beriman, sehingga anda pun mencintainya karena Allah. Dan anda membenci (seseorang) juga karena Allah. Karena anda melihat ia seorang yang kufur atau ahli maksiat, maka anda pun membencinya karena Allah. Atau anda membenci ahli maksiat, walaupun ia Muslim, anda benci dia sekadar maksiat yang ia lakukan. Inilah sikap seorang Mukmin” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi, 1/209).

Jika diperhatikan penjelasan di atas, maka makna al hubbu LILLAH dengan al hubbu FILLAH tidak jauh berbeda. Syaikh Abdurrahman bin Nashir Al Barrak ketika ditanya apa perbedaan di antara keduanya, beliau menjawab:

المعنى قريب

“Maknanya dekat (hampir sama)”.

Ibnul Qayyim rahimahullah juga ketika menyebutkan jenis-jenis mahabbah, beliau menyebutkan jenis yang ketiga:

الحب لله وفيه وهي من لوازم محبة ما يحب الله ولا يستقيم محبة ما يحب الله إلا بالحب فيه وله

“Al hubbu lillah dan al hubbu fillah, keduanya merupakan konsekuensi dari mencintai apa yang dicintai oleh Allah. Tidak akan terwujud dengan benar kecuali dengan al hubbu fillah dan al hubbu lillah” (Al Jawabul Kafi, 1/134).

Mengisyaratkan bahwa beliau menyamakan antara al hubbu fillah dan al hubbu lillah.

Sebagian ulama menjelaskan,

* al hubbu lillah adalah cinta dalam rangka taqarrub (ibadah) kepada Allah.

* sedangkan al hubbu fillah adalah mencintai seseorang atau sesuatu selama ia sesuai dengan agama Allah.

Namun al hubbu fillah dan al hubbu lillah saling berkelaziman satu sama lain. Ibnul Qayyim menjelaskan:

فالحب في الله هو من كمال الإيمان والحب مع الله هو عين الشرك … أن يحب ما يحبه الله فإذا أحب ما أحبه ربه ووليه كان ذلك الحب له وفيه كما يحب رسله وأنبياءه وملائكته وأولياءه لكونه تعالى يحبهم ويبغض من يبغضهم لكونه تعالى يبغضهم وعلامة هذا الحب والبغض في الله

Al hubbu fillah adalah tanda kesempurnaan iman. Sedangkan al hubbu ma’allah adalah inti kesyirikan … Ketika seseorang mencintai apa yang dicintai oleh Allah dan para walinya, itu adalah al hubbu lillah dan fillah. Sebagaimana ketika seseorang mencintai para Rasul Allah, para Nabi-Nya, pada Malaikat-Nya, para wali-Nya, karena Allah ta’ala cinta kepada mereka. Dan ketika seseorang membenci orang-orang yang dibenci oleh Allah karena Allah membenci mereka. Dan pertanda adanya cinta seperti ini adalah al hubbu wal bughdhu fillah” (Ar Ruh, 1/254).

Wallahu ta’ala a’lam. Semoga bermanfaat.