Dalam perkataan Nabi Hud yang disebutkan dalam Al Qur’an:

إِنِّي تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ رَبِّي وَرَبِّكُمْ مَا مِنْ دَابَّةٍ إِلَّا هُوَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهَا إِنَّ رَبِّي عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada suatu binatang melata pun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus” (QS. Hud: 56).

Al Baghawi rahimahullah menjelaskan,

قال الضحاك : يحييها ويميتها . قال الفراء : مالكها والقادر عليها . وقال القتيبي : يقهرها ،لأن من أخذت بناصيته فقد قهرته .
وقيل : إنما خص الناصية بالذكر لأن العرب تستعمل ذلك إذا وصفت إنسانا بالذلة ، فتقول : ناصية فلان بيد فلان ، وكانوا إذا أسروا إنسانا وأرادوا إطلاقه والمن عليه جزوا ناصيته ليعتدوا بذلك فخرا عليه ، فخاطبهم الله بما يعرفون

“Adh Dhahhak berkata: “maksudnya, Allah ta’ala yang menghidupkannya dan mematikannya”. Al Farra mengatakan: “maksudnya, Allah ta’ala yang memilikinya dan menguasainya”. Al Qutaibi mengatakan: “maksudnya, Allah yang menguasainya. Karena siapa yang memegang ubun-ubun dari seseorang, dia menguasainya”.

Sebagian ulama mengatakan, “dikhususkannya penyebutan ubun-ubun di sini karena orang Arab biasa menggunakan istilah demikian ketika sedang mensifati seseorang dengan kerendahan. Orang Arab biasa mengatakan: ubun-ubun si Fulan berada di tangan si Fulan. Dan jika orang Arab jika menawan seseorang sebagai tahanan kemudian melepaskannya, maka mereka memotong rambut di ubun-ubunnya untuk memberikan kebanggaan bagi kaum yang menahan orang tersebut. Maka Allah pun berfirman sesuai dengan bahasa yang biasa digunakan orang Arab” (Tafsir Al Baghawi).

Dan ini bukanlah bentuk ta’wil, karena kata آخِذٌ بِنَاصِيَتِهَا adalah bentuk lafadz haqiqi ‘urfi, bukan majaz. Yaitu kata yang biasa digunakan orang Arab untuk mensifati suatu makna. Oleh karena itu Ath Thabari rahimahullah menjelaskan,

فخص بالأخذ ” الناصية ” دون سائر أماكن الجسد. قيل: لأن العرب كانت تستعمل ذلك في وصفها من وصفته بالذلة والخضوع

، فتقول: ما ناصية فلان إلا بيد فلان أي : أنه له مطيع يصرفه كيف شاء . وكانوا إذا أسروا الأسير فأرادوا إطلاقه والمنّ عليه ، جزُّوا ناصيته ، ليعتدّوا بذلك عليه فخرًا عند المفاخرة. فخاطبهم الله بما يعرفون في كلامهم، والمعنى ما ذكرت

“Allah ta’ala mengkhususkan penyebutan ubun-ubun dan bukan bagian tubuh yang lain, karena orang Arab biasa menggunakan kata “ubun-ubun” untuk mensifati kerendahan dan ketundukan. Ketika ada yang berkata “ubun-ubun si Fulan ada di tangan si Fulan”, maksudnya, semua makhluk tunduk kepada Allah. Allah Maha Kuasa mengatur mereka sesuai kehendak-Nya. Dahulu orang Arab jika mereka memiliki tawanan lalu ingin melepaskannya dan memberikannya kelonggaran, maka mereka pun mengiris sedikit ubun-ubunnya. Agar menjadi kebanggaan bagi yang menawannya ketika pamer kebanggaan. Maka dalam ayat ini, Allah ta’ala berbicara kepada orang Arab sesuai dengan apa yang mereka biasa digunakan dalam pembicaraan mereka. Maknanya sebagaimana telah saya sebutkan” (Tafsir Ath Thabari).

Dan sudah ma’ruf bahwa Ath Thabari adalah orang yang tidak melakukan ta’wil yang fasiq terhadap ayat-ayat sifat.

Diantara tadabbur dari ayat ini adalah hendaknya kita tawakal dan menggantungkan hati kita kepada Allah ta’ala dalam semua urusan kita. Urusan yang kecil maupun urusan yang besar. Karena Dialah Allah yang menguasai semua urusan, Dialah yang menakdirkan sulitnya urusan dan Dialah juga yang memudahkan urusan. Wallahu a’lam.