Allah ta’ala berfirman:

وَمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah al hayawan, kalau mereka mengetahui” (QS. Al Ankabut: 64).

Kata “hayawan” dalam ayat ini maknanya bukan “hewan”. Dalam Mu’jam Al Wasith disebutkan:

الحَيوانُ : الحياة

al hayawan: al hayah (kehidupan)”.

Abul Baqa’ Al ‘Akbari rahimahullah menjelaskankan:

وَالْأَصْلُ حَيَيَانٌ، فَقُلِبَتِ الْيَاءُ وَاوًا لِئَلَّا يَلْتَبِسَ بِالتَّثْنِيَةِ، وَلَمْ تُقْلَبْ أَلِفًا لِتَحَرُّكِهَا وَانْفِتَاحِ مَا قَبْلَهَا لِئَلَّا تُحْذَفَ إِحْدَى الْأَلِفَيْنِ

“Asal kata ini adalah hayayan. Namun huruf ya’ (yang kedua) berubah menjadi wau, agar tidak disangkakan sebagai isim mutsanna. Dan tidak berubah menjadi alif karena hurufnya berharakat dan huruf sebelumnya berharakat fathah. Andaikan diubah jadi alif maka harus menghapus salah satu alifnya” (At Tibyan fi I’rabil Qur’an, 2/1035).

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah menafsirkan ayat di atas dengan mengatakan:

وأما الدار الآخرة، فإنها دار { الحيوان } أي: الحياة الكاملة

“Adapun negeri akhirat, dia adalah negeri al hayawan, yaitu kehidupan yang sempurna” (Tafsir As Sa’di).

Ibnu Katsir rahimahullah juga menjelaskan:

” الحيوان ” أي الحياة الدائمة الحق الذي لا زوال له ولا انقضاء بل هي مستمرة أبد الآباد

“[al hayawan] artinya kehidupan yang terus-menerus dan kehidupan yang hakiki yang tidak akan sirna dan tidak akan berhenti. Bahkan ia terus menerus secara abadi” (Tafsir Ibnu Katsir).

Di antara tadabbur dari ayat ini adalah bahwa negeri akhirat adalah negeri yang abadi. Hendaknya kita fokus mempersiapkan diri mencari bekal untuk negeri yang abadi, bukan fokus mencari bekal untuk negeri yang fana.