Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah dalam kitab “Makarimul Akhlaq” menjelaskan bahwa akhlak mulia pada diri manusia itu ada 2 macam. Beliau mengatakan:

كما يكون الخلق طبيعة، فإنه قد يكون كسباً، بمعنى أن الإنسان كما يكون مطبوعاً على الخلق الحسن الجميل، فإنه أيضاً يمكن أن يتخلق بالأخلاق الحسنة عن طريق الكسب والمرونة

“Sebagaimana terkadang akhlak itu ada yang merupakan tabi’at, maka demikian juga, terkadang akhlak itu perlu diusahakan. Maksudnya, sebagaimana terkadang seseorang sudah bawaan lahir sudah memiliki suatu akhlak yang indah, maka demikian juga, seseorang bisa memiliki suatu akhlak yang bagus dengan cara berlatih dan membiasakan diri” (Makarimul Akhlaq, hal. 13).

Maka dari penjelasan beliau, akhlak dibagi menjadi dua yaitu:

1. Akhlak yang merupakan tabi’at

Yaitu akhlak mulia yang sudah tertanam dalam diri seseorang. Sehingga ia tidak perlu bersusah payah untuk mengamalkannya, karena sudah menjadi kebiasaannya yang bersifat naluriah. Seperti orang yang tabi’atnya mudah tersenyum, maka ketika bertemu orang lain dia akan mudah sekali tersenyum dengan sendirinya.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda tentang Al Asyaj ‘Abdul Qais radhiallahu’anhu :

إنَّ فِيكَ خَصْلَتَيْنِ يُحِبُّهُما اللَّهُ: الحِلْمُ، والأناةُ

“sesungguhnya pada dirimu ada 2 hal yang dicintai Allah: sifat al hilm dan al aanah” (HR. Muslim no. 17).

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah menjelaskan: 

Al Hilm adalah kemampuan seseorang untuk mengendalikan dirinya ketika marah. Ketika ia marah dan ia mampu memberikan hukuman, ia bersikap hilm dan tidak jadi memberikan hukuman.

Al Aanah adalah berhati-hati dalam bertindak dan tidak tergesa-gesa, serta tidak mengambil kesimpulan dari sekedar yang nampak sekilas saja, lalu serta-merta menghukuminya, padahal yang benar hendaknya ia berhati-hati dan menelitinya” (Syarah Riyadhus Shalihin, 3/573).

Dalam riwayat lain, Al Asyaj Abdul Qais lanjut bertanya :

قال يا رسولَ اللهِ أنا أتخلَّقُهما أو جبَلني اللهُ عليهما قال بل جبَلك اللهُ عليهما قال الحمدُ للهِ الَّذي جبَلني على خَلَّتينِ يُحِبُّهما اللهُ ورسولُه

“Wahai Rasulullah, apakah dua sifat tersebut merupakan hal yang saya usahakan ataukah Allah yang tanamkan dalam diri saya?”. Rasulullah menjawab: “Sungguh Allah yang tanamkan dalam dirimu kedua sifat tersebut”. Al Asyaj mengatakan: “Segala puji bagi Allah yang telah menanamkan aku dua sifat yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya”

(HR. Abu Daud no. 5225, Ahmad 4/206, dihasankan Syu’aib Al Arnauth dalam Takhrij Sunan Abi Daud no.5225).

Dalam hadits ini Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mengatakan bahwa sifat al hilm dan al anah adalah sifat yang sudah Allah tanamkan dalam diri Al Asyaj. Artinya, dua sifat ini sudah menjadi tabiatnya.

2. Akhlak yang diusahakan

Yaitu akhlak yang untuk melakukannya perlu ada usaha, latihan dan perlu membiasakan diri terlebih dahulu. Seperti orang yang pemurung, sulit tersenyum, maka ketika bertemu dengan orang lain ia perlu bersengaja untuk tersenyum.

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

إِنَّما الحِلْمُ بِالتَّحَلُّمِ

“Sifat al hilm (tenang; bisa mengendalikan diri) didapatkan dengan at tahallum (melatih diri agar hilm)”

(HR. Al Bukhari secara mu’allaq dalam Shahih-nya [sebelum hadits no.68], Abu Nu’aim dalam Al Hilyah [5/198], dihasankan al Albani dalam Silsilah ash Shahihah no.342).

Hadits ini menunjukkan bahwa terkadang akhlak itu perlu dilatih.

Misalnya orang yang -qaddarallah- memiliki tampang garang atau menyeramkan, maka harus sering-sering menahan otot wajahnya dalam keadaan tersenyum dan cerah.

Orang yang pembawaannya cuek, maka harus melatih untuk menyapa orang, hangat dan peduli pada orang lain dalam kebaikan.

Orang yang pembawaannya terlalu banyak bicara (cerewet) yang tidak manfaat, maka harus berlatih untuk banyak diam.

Orang yang punya sifat pelit, harus melatih diri mengeluarkan harta untuk kebaikan orang lain. Dan seterusnya.

Orang yang punya akhlak buruk tidak boleh mengatakan “saya memang begini orangnya!” sebagai apologi terhadap akhlak buruknya. Namun dia harus melatih diri untuk mengubah akhlak buruk tersebut.

Mana yang lebih utama?

Apakah lebih utama orang yang memiliki akhlak yang sudah menjadi tabiat, ataukah orang yang berusaha melatih akhlaknya itu lebih utama?

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menjawab:

إنه لاشك أن الرجل الذي جُبل على الخلق الحسن أكمل من حيث تخلقه بذلك, أو من حيث وجود هذا الخلق الحسن فيه, لأنه لا يحتاج إلى عناء ولا إلى مشقة في استدعائه, ولا يفوته في بعض الأماكن والمواطن, إذ أن حسن الخلق فيه سجيه وطبع, ففي أي وقت تلقاه تجده حَسَن الخلق, وفي أي مكان تلقاه حَسَن الخلق, وعلى أي حالٍ تلقاه حَسَن الخلق, فهو من هذه الناحية أكمل بلا شك

“Tidak diragukan lagi orang yang ditanamkan akhlak mulia itu lebih sempurna, dari sisi pandang bahwa dia dianugerahi akhlak tersebut. Dan juga dari sisi pandang bahwa akhlak tersebut ada pada dirinya. Karena ia tidak perlu bersusah payah untuk menerapkannya. Ia pun tidak akan terluput untuk mengamalkan pada sebagian tempat dan waktu. Karena akhlak mulianya sudah menjadi kebiasaan dan tabiat. Kapan saja anda menemuinya, anda akan mendapatinya berakhlak mulia. Dimana pun anda menemuinya, anda akan mendapatinya berakhlak mulia. Dalam keadaan apapun anda menemuinya, anda akan mendapatinya berakhlak mulia. Maka ia dari sisi ini lebih utama tanpa ragu lagi” (Makarimul Akhlaq, hal. 14).

Beliau melanjutkan:

وأما الآخر الذي يجاهد نفسه ويروضها على حسن الخلق, فلا شك أنه يؤجر على ذلك من جهة مجاهدة نفسه, وهو أفضل من هذه الجهة, لكنه من حيث كمالُ الخلق أنقص بكثير من الرجل الأول

“Adapun orang yang kedua, ia bersungguh-sungguh untuk melatih dirinya agar berakhlak mulia. Maka tidak ragu lagi ia mendapatkan pahala dari sisi adanya mujahadatun nafsi. Dan ia lebih utama dari sisi ini. Namun dari sisi kesempurnaan akhlak, orang jenis kedua ini lebih rendah posisinya dibanding orang yang pertama” (Makarimul Akhlaq, hal. 14).

Dan tentu yang lebih utama lagi adalah orang sudah punya sebagian akhlak mulia yang menjadi tabiatnya, dan sebagian akhlak mulia yang belum dimiliki, ia mengusahakannya dan melatihnya. Sehingga ia termasuk orang jenis pertama dan kedua.

Karena kebanyakan manusia tentunya tidak memiliki semua akhlak mulia sebagai tabiat. Sebagian dimiliki dan sebagian tidak. Ada sisi plus dan minus pada setiap orang. Dan akhlak mulia merupakan hidayah dari Allah yang Allah berikan kepada orang yang Ia inginkan. Allah ta’ala berfirman:

وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَكِنْ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَلَتُسْأَلُنَّ عَمَّا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan” (QS. An Nahl: 93).

Teruslah pelihara akhlak mulia yang sudah menjadi tabiat kita, dan latihlah akhlak mulia yang belum kita miliki. Semoga Allah ta’ala memberi kita hidayah untuk menghiasi diri dengan akhlak mulia.