Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

إذا رأى أحدكم الرؤيا تُعجبُهُ فليذكُرها ، وليفسّرها ، وإذا رأى أحدكم الرؤيا تسوءهُ ، فلا يذكُرها ، ولا يفسّرها

“Jika seseorang di antara kalian mimpi indah, maka silakan ceritakan dan silakan tafsirkan. Namun jika seseorang di antara kalian mimpi buruk, maka jangan diceritakan dan jangan ditafsirkan” (HR. Ibnu Abdil Barr dalam Al Istidzkar [8/456], dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah no. 1340).

Hadits ini merupakan dalil bolehnya menafsirkan mimpi selama itu mimpi yang baik. Namun tafsir mimpi itu dibolehkan bagi orang yang memiliki ilmu tentang tafsir mimpi. Karena tafsir mimpi yang benar itu didasari dalil, atsar dan perkataan para salaf. Bukan ramalan atau perdukunan.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah mengatakan:

لا يجوز يفسر إلا بعلم. لا فتوى ولا رؤيا كلها ليس له إلا أن يكون على بصيرة، عن معرفة وعن بصيرة يطمئن إليها

“Tidak boleh menafsirkan mimpi kecuali dengan ilmu. Baik berfatwa atau menafsir mimpi, semuanya tidak boleh kecuali di atas bashirah (ilmu), dibangun di atas pengetahuan dan ilmu yang bisa dipercaya”.

Beliau juga mengatakan:

فيه بعض الكتب، لكن مثل هذا إنما ينبغي لأهل العلم، أهل البصيرة الذين يعرفون الأحاديث ويعرفون ما دل عليه القرآن، يكون على بصيرة

“Ada beberapa kitab (ulama) tentang tafsir mimpi. Namun hendaknya yang melakukan ini (tafsir mimpi) adalah ulama. Orang yang memiliki bashirah (ilmu), yang mereka mengetahui hadits-hadits dan juga dalil-dalil Al Qur’an. Sehingga perkataan mereka di atas bashirah (ilmu)”.

Sumber: https://bit.ly/3dkVjKW

Jika tidak memiliki ilmu tentang tafsir mimpi, maka tidak perlu mencoba-coba menafsirkannya dan juga tidak perlu menyibukkan diri dengannya. Cukup syukuri mimpi yang indah, dan boleh diceritakan jika mau.