Sebagian orang di masa wabah ini masih bingung shalat ke masjid atau tidak. Maka para ulama memfatwakan bahwa masih berlaku keringanan untuk shalat di rumah dan tidak menghadiri shalat Jum’at di masjid, selama ancaman wabah masih ada.

Karena kondisi wabah masih belum mereda, resiko terkena bahaya dan membahayakan orang lain masih mengintai. Hai’ah Kibaril Ulama menetapkan:

من خشي أن يتضرر أو يضر غيره فيرخص له في عدم شهود الجمعة والجماعة لقوله صلى الله عليه وسلم: ( لا ضرر ولا ضرار) رواه ابن ماجه. وفي كل ما ذكر إذا لم يشهد الجمعة فإنه يصليها ظهراً أربع ركعات

“Barangsiapa khawatir terkena bahaya atau khawatir membahayakan orang lain, maka ada keringanan baginya untuk tidak menghadiri shalat Jum’at dan shalat Jama’ah. Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu’alahi Wasallam: “tidak boleh membiarkan bahaya dan tidak boleh membahayakan orang lain” (HR. Ibnu Majah). Bagi orang-orang tersebut, jika tidak menghadiri shalat Jum’at maka ia wajib shalat Zuhur 4 raka’at” (Sumber: https://www.spa.gov.sa/2047028).

Fatwa ini ditetapkan oleh para ulama besar seperti Syaikh Abdul Aziz Alu Asy Syaikh, Syaikh Shalih Al Fauzan, Syaikh Sa’ad Asy Syatsri, Syaikh Abdul Karim Al Khudhair, Syaikh Abdullah bin Muhammad bin Abdil Lathif, Syaikh Abdullah Al Mani’, Syaikh Abdullah Al Muthlaq, Syaikh Shalih Al Ushaimi, dll.

Orang yang shalat di rumah dalam keadaan wabah seperti ini, insyaAllah tetap mendapatkan keutamaan shalat di masjid. Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:

إذَا مَرِضَ العَبْدُ، أوْ سَافَرَ، كُتِبَ له مِثْلُ ما كانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا

“Jika seorang ahli ibadah jatuh sakit atau safar, ia tetap diberi pahala ibadah sebagaimana ketika ia sehat atau sebagaimana ketika ia tidak dalam safar” (HR. Bukhari no. 2996).

As Sa’di mengatakan: “Ini adalah sebuah nikmat yang besar yang dikaruniakan Allah Ta’ala kepada hamba-Nya yang beriman. Yaitu jika seorang hamba terbiasa melakukan sebuah amal ibadah sunnah secara kontinu, kemudian suatu kala ia terhalang untuk melakukannya dikarenakan sakit atau safar, maka pada saat itu ia mendapat pahala ibadah tersebut secara utuh” (Bahjatul Qulubil Abrar, syarah no. 30).

Bukan Munafik

Dan orang-orang yang tidak menghadiri shalat Jum’at dan Jama’ah dalam kondisi ini bukan orang munafik, walaupun meninggalkan shalat Jum’at lebih dari 3 kali. Dari Abul Ja’d Adh Dhamri radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

مَن ترَك الجمعةَ ثلاثًا مِن غيرِ عذرٍ فهو منافقٌ

“Barangsiapa yang meninggalkan shalat jum’at tiga kali tanpa udzur, maka dia orang munafik” (HR. Ibnu Hibban no.258, dishahihkan Al Albani dalam Shahih At Targhib no.727).

Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu ’alaihi Wasallam bersabda:

مَنْ تَرَكَ الْجُمُعَةَ ثَلَاثًا مِنْ غَيْرِ ضَرُورَةٍ طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قَلْبِهِ

“Barangsiapa yang meninggalkan shalat jum’at tiga kali padahal bukan kondisi darurat, maka Allah akan kunci hatinya” (HR. Ibnu Majah no.1126, dihasankan Al Albani dalam Shahih Ibnu Majah).

Yang dicela dalam hadits-hadits di atas adalah yang meninggalkan shalat jum’at dengan sengaja, tanpa ada udzur. Karena ancaman dalam hadits dikaitkan dengan syarat “… karena meremehkannya”, “… tanpa udzur” atau “… padahal bukan kondisi darurat”. Adapun jika ada udzur atau kondisi darurat maka tidak berdosa dan bukan orang munafik, walaupun meninggalkannya lebih dari 3 kali.

Dan diantara udzur yang menyebabkan bolehnya meninggalkan shalat Jum’at adalah adanya penyakit. Al Mardawi rahimahullah dalam kitab Al Insaf mengatakan:

وَيُعْذَرُ فِي تَرْكِ الْجُمُعَةِ وَالْجَمَاعَةِ الْمَرِيضُ بِلَا نِزَاعٍ، وَيُعْذَرُ أَيْضًا فِي تَرْكِهِمَا لِخَوْفِ حُدُوثِ الْمَرَضِ

“Diberi udzur untuk meninggalkan shalat jama’ah dan shalat jum’at bagi orang sakit tanpa ada khilaf di antara ulama. Demikian juga diberi udzur untuk meninggalkan shalat jama’ah dan shalat jum’at ketika ada kekhawatiran terkena penyakit”.

Bukan Lemah Iman

Dan orang-orang yang tidak menghadiri shalat Jum’at dan Jama’ah dalam kondisi ini tidak bisa dikatakan orang yang lemah iman. Karena keringanan yang diizinkan syari’at ketika dilakukan, tidak merusak iman sama sekali. Justru meyakini adanya keringanan tersebut, merupakan bagian dari keimanan. Dari Jabir bin Abdllah radhiallahu’anhu, ia berkata:

خرجنا مع رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ في سفرٍ . فمُطِرْنا . فقال ” ليُصلِّ من شاء منكم في رَحْلِه “

“Kami pernah safar bersama Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, lalu turunlah hujan. Beliau besabda: ‘bagi kalian yang ingin shalat di rumah dipersilakan‘” (HR. Muslim no. 698).

Apakah orang-orang yang dipersilakan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dikatakan lemah iman? Tentu tidak.

Demikian juga contohnya keringanan menjamak shalat, dari Abdullah bin Abbas radhiallahu’anhu beliau mengatakan

:جمع رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ بين الظهرِ والعصرِ ، والمغربِ والعشاءِ بالمدينةِ من غيرِ خوفٍ ولا مطرٍ

“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menjamak shalat Zhuhur dan shalat Ashar, dan menjamak shalat Maghrib dan Isya, di Madinah padahal tidak sedang dalam ketakutan dan tidak hujan” (HR. Muslim no. 705).

Apakah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam lemah iman karena menjamak shalat padahal tidak ada hujan dan tidak ada ketakutan? Tentu tidak sama sekali.

Akidah Ahlussunnah dalam masalah iman adalah:

الإيمان يزيد بالطاعة وينقص بالمعصية

“Iman itu bertambah karena ketaatan dan berkurang karena maksiat”.

Maka iman itu berkurang dan melemah karena maksiat. Sedangkan mengambil rukhshah (keringanan) beribadah di rumah di kala wabah bukanlah maksiat, sehingga bukan bentuk lemahnya iman.

Bahkan terkadang mengambil rukhshah itu lebih utama jika lebih besar maslahat-nya dan lebih menjauhkan dari mudharat. Dari Abdullah bin Umar radhiallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

إنَّ اللهَ تعالى يُحِبُّ أنْ تُؤْتى رُخَصُهُ ، كما يَكرَهُ أنْ تُؤْتى مَعصيَتُهُ

“Sesungguhnya Allah ta’ala menyukai jika rukhshah-Nya diambil, sebagaimana Allah benci ketika maksiat kepada-Nya dilakukan” (HR. Ibnu Hibban no. 2742, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami’ no. 1886).

Sebagaimana dalam hadits Jabir bin Abdillah radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

لَيْسَ مِنْ الْبِرِّ الصَّوْمُ فِي السَّفَرِ

“Bukanlah suatu kebaikan, orang yang berpuasa ketika safar” (HR. Bukhari no. 1946, Muslim no. 1115).

Maksud hadits ini, mengambil rukhshah untuk tidak puasa Ramadhan itu lebih utama jika bisa memberi kesulitan besar dan bisa menimbulkan mudharat. An Nawawi rahimahullah menjelaskan:

مَعْنَاهُ : إِذَا شَقَّ عَلَيْكُمْ وَخِفْتُمْ الضَّرَر , وَسِيَاق الْحَدِيث يَقْتَضِي هَذَا التَّأْوِيل . . . فالْحَدِيث فِيمَنْ تَضَرَّرَ بِالصَّوْمِ

“Maksud hadits ini: jika ia mengalami kesulitan dan dikhawatirkan terkena bahaya. Konteks hadits membawa kepada makna ini … maka hadits ini berlaku untuk orang yang mendapat bahaya jika puasa” (Syarah Shahih Muslim, 7/233).

Namun orang yang tetap pergi ke masjid di masa-masa seperti ini pun tidak kami ingkari selama mengikuti syarat-syarat yang disampaikan para ulama dan ahli kesehatan. Karena mereka mengedepankan ‘azimah (tetap berlakunya kewajiban) daripada rukhshah.

Terakhir, hendaknya yang beribadah ke masjid tidak mencela yang beribadah di rumah. Demikian juga sebaliknya. Selama kedua pihak beribadah atas dasar tuntunan syari’at dan bimbingan para ulama, bukan serampangan dan atas hawa nafsu, maka semoga diterima sebagai amal shalih dan membawa keberkahan serta menjadi sebab diangkatnya wabah ini.

Semoga Allah memberi taufik.