Sebagian orang bertabarruk dengan surat Al Fatihah dengan cara-cara yang tidak pernah diajarkan syariat. Sehingga dalam berbagai kesempatan mereka membaca “alaa hadzihin niyyah al faatihah….” (dengan niat demikian, kita bertabarruk dengan al fatihah… ).

Mereka berdalil dengan hadits:

الفاتحةُ لما قُرئتْ له

“Al Fatihah (khasiatnya) tergantung niat pembacanya”.

Padahal hadits ini disebutkan oleh para ulama sebagai hadits palsu. Al Mulla Ali Al Qari rahimahullah (wafat 1014H) mengatakan:

قيل لا أصل له أو بأصله موضوع

“Disebutkan oleh para ulama bahwa ini hadits yang tidak ada asalnya (sanadnya), atau asalnya dari hadits palsu” (Al Asrar Al Marfu’ah, 313).

Az Zarqani rahimahullah (wafat 1122H) mengatakan:

لا أعرفه

“Aku tidak mengetahui (adanya sanad) hadits ini” (Mukhtashar Al Maqashid, 682).

Wajihuddin Ibnu Diba’ Asy Syafi’i rahimahullah (wafat 944H) berkata:

ما وقعت عليه

“Saya belum menemukan sanadnya” (Tamyiz at Thayyib minal Khabits, 128).

Muhammad Jarullah As Sha’di rahimahullah (wafat 1181H) berkata:

لم يرد بهذا

“Tidak ada hadits seperti ini” (An Nawafikh Al ‘Athirah, 214).

Maka tidak dibenarkan melakukan amalan bertabarruk dengan membaca Al Fatihah sebagaimana disebutkan di atas. Karena dasarnya adalah hadits palsu, sedangkan ibadah itu tauqifiyyah, harus didasari oleh dalil yang shahih.

Semoga Allah memberi taufik.