Allah ta’ala berfirman:

مَا يُجَادِلُ فِي آيَاتِ اللَّهِ إِلَّا الَّذِينَ كَفَرُوا فَلَا يَغْرُرْكَ تَقَلُّبُهُمْ فِي الْبِلَادِ

“Tidak ada yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah, kecuali orang-orang yang kafir. Karena itu janganlah bolak-baliknya mereka (orang kafir) dari suatu kota ke kota yang lain, membuat kamu tertipu” (QS. Ghafir: 4).

Kekayaan dan kehebatan orang-orang kafir dan durhaka yang bisa traveling kesana-kemari, jalan-jalan ke berbagai negara, bukan patokan kebenaran dan bukan indikasi kebahagiaan mereka.

Syaikh As Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini:

لا ينبغي للإنسان أن يغتر بحالة الإنسان الدنيوية، ويظن أن إعطاء الله إياه في الدنيا دليل على محبته له وأنه على الحق ولهذا قال: { فَلَا يَغْرُرْكَ تَقَلُّبُهُمْ فِي الْبِلَادِ } أي: ترددهم فيها بأنواع التجارات والمكاسب، بل الواجب على العبد، أن يعتبر الناس بالحق، وينظر إلى الحقائق الشرعية ويزن بها الناس، ولا يزن الحق بالناس، كما عليه من لا علم ولا عقل له

“Tidak semestinya seseorang tertipu tentang perkara duniawi. Sehingga ia menjadikan kenikmatan yang Allah berikan dalam urusan dunia sebagai indikasi bahwa Allah mencintainya atau patokan kebenarannya.

Oleh karena itu Allah ta’ala berfirman (yang artinya): “Karena itu janganlah bolak-baliknya mereka (orang kafir) dari suatu kota ke kota yang lain, membuat kamu tertipu“. Maksudnya, bolak-baliknya mereka untuk berbagai jenis bisnis dan pekerjaan (jangan membuatmu terpedaya).

Hendaknya seorang hamba berpatokan pada kebenaran. Dan melihat pada hakekat suatu perkara dalam pandangan syar’i, serta menjadikan syariat sebagai timbangan untuk menilai manusia. Bukan menjadikan manusia sebagai timbangan kebenaran. Sebagaimana yang dilakukan orang yang tidak punya ilmu dan orang yang tidak punya akal” (Taisiir Kariimirrahmaan).

Wallahu a’lam.