Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إنَّ الرُّقى، والتَّمائمَ، والتِّوَلةَ شِركٌ قالَت: قلتُ: لِمَ تقولُ هذا؟ واللَّهِ لقد كانَت عيني تقذفُ وَكُنتُ أختلفُ إلى فلانٍ اليَهوديِّ يرقيني فإذا رقاني سَكَنت، فقالَ عبدُ اللَّهِ: إنَّما ذاكَ عمَلُ الشَّيطانِ كانَ ينخسُها بيدِهِ فإذا رقاها كفَّ عنها، إنَّما كانَ يَكْفيكِ أن تَقولي كما كانَ رسولُ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ يقولُ: أذهِبِ الباسَ ربَّ النَّاسِ، اشفِ أنتَ الشَّافي، لا شفاءَ إلَّا شفاؤُكَ شفاءً لا يغادرُ سَقمًا

“Sesungguhnya ruqyah (jampi-jampi), jimat dan pelet adalah kesyirikan”.

Zainab (istri Ibnu Mas’ud) berkata, “Mengapa engkau mengatakan demikian? Demi Allah tadi mataku bergerak-gerak, dan aku pergi ke si Fulan seorang Yahudi lalu ia pun meruqyahku. Ketika ia meruqyahku ternyata mataku tenang kembali (sembuh)“.

Ibnu Mas’ud berkata, “Sesungguhnya itu hanyalah perbuatan syaitan, ia yang telah menggerak-gerakan (matamu) dengan tangannya. Ketika si Fulan Yahudi itu meruqyah, setan berhenti melakukannya.

Sesungguhnya cukup bagimu untuk mengucapkan sebagaimana yang diucapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: /adzhibil ba’sa rabbannaas, isyfii, antasy syaafi, laa syifaa-a illaa syifaa-uka syifaa-an laa yughadiru saqaman/ (Ya Allah hilangkanlah penyakit, sembuhkanlah aku, Engkau lah penyembuh, tidak ada kesembuhan melainkan dari-Mu, kesembuhan yang tidak mengembalikan lagi penyakitnya)” (HR. Abu Dawud no. 3883, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abu Daud).

Perhatikan, Ibnu Mas’ud mengingkari istrinya yang diruqyah oleh orang Yahudi, walaupun dengan ruqyah tersebut terbukti sembuh.

Memberikan kita faedah bahwa berobat itu bukan sekedar mencari kesembuhan, namun harus memastikan cara pengobatannya dibenarkan dalam agama dan tidak mengandung pelanggaran syari’at.

Adanya kesembuhan, tidak membuktikan bahwa metode pengobatan tersebut dibenarkan.