Siapakah yang dimaksud Ahlul Bait?

Ada beberapa pendapat para ulama mengenai siapa yang dimaksud ahlul bait Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Namun perlu digaris bawahi disini bahwa siapa saja yang termasuk ahlul bait itu ditentukan berdasarkan dalil. Pendapat yang lebih rajih, yang dimaksud ahlul bait adalah para istri beliau, anak dan cucu beliau, serta seluruh kaum muslimin yang termasuk Bani Hasyim. Penjelasannya sebagai berikut:

1. Istri-istri beliau

Hal ini didasari oleh firman Allah Ta’ala, yaitu ketika Allah Ta’ala menasehati istri-istri Nabi, Allah berfirman:

إنَّمَا يُرِيدُ اللهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ البَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al Ahzab: 33)

Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad menjelaskan:

فإنَّ هذه الآيةَ تدلُّ على دخولِهنَّ حتماً؛ لأنَّ سياقَ الآيات قبلها وبعدها خطابٌ لهنَّ

Ayat ini dengan tegas menunjukkan bahwa istri-istri Nabi termasuk ahlul bait. Karena lafadz ayat ini, mulai dari ayat sebelumnya, ditujukan kepada istri-istri Nabi”

Hal ini juga diperkuat oleh dalil lain dari hadits Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, yaitu salah satu bacaan shalawat yagng diajarkan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam :

اللَّهمَّ صلِّ على محمَّدٍ وعلى أهل بيته وعلى أزواجِه وذريَّتِه، كما صلَّيتَ على آل إبراهيم إنَّك حميدٌ مجيدٌ، وبارِك على محمَّدٍ وعلى أهل بيته وعلى أزواجِه وذريَّتِه، كما بارَكتَ على آل إبراهيم إنَّك حميدٌ مجيدٌ

Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Nabi Muhammad dan kepada ahlul-bait nya, juga kepada istri-istrinya serta anak-cucunya. Sebagaimana shalawat yang telah Engkau berikan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Berilah keberkahan kepada Nabi Muhammad dan ahlul-bait nya, juga kepada istri-istrinya serta anak-cucunya. Sebagaimana keberkahan yang telah Engkau berikan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia Majid” (HR. Ahmad 5/374, di shahihkan Al Albani dalam Shifatu Shalatin Nabi)

Dengan demikian tidak benar sikap sebagian orang di zaman ini yang mengaku keturunan Nabi Shallallahu’alahi Wasallam namun mereka tidak memasukkan para istri Nabi ke dalam golongan ahlul Bait, bahkan mencela para Istri Nabi dan mengkafirkan mereka. Allahul musta’an.

2. Anak dan cucu-cucu beliau, salah satu dalilnya adalah hadits shalawat Nabi yang kami bawakan sebelumnya.

3. Setiap muslim yang termasuk keturunan Hasyim bin Abdul Manaf (Bani Haysim).

Hasyim bin Abdul Manaf adalah kakek buyut Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, beliau hanya memiliki satu anak yaitu Abdul Muthallib yang merupakan kakek Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Bani Hasyim termasuk dalam definisi ahlul bait didasari oleh beberapa dalil diantaranya kisah ketika keponakan beliau, Abdul Muthallib bin Rabi’ah bin Al Harits bin Abdul Muthallib bersama sepupu beliau, Al Fadhl bin Abbas datang kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam untuk meminta izin menggunakan harta zakat untuk dipergunakan sebagai mahar pernikahan mereka. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam lalu bersabda:

إنَّ الصَّدقة لا تنبغي لآل محمد؛ إنَّما هي أوساخُ الناس

Sesungguhnya zakat tidak boleh diberikan kepada keluarga Muhammad, karena bagi keluarga Muhammad zakat adalah kotoran manusia(HR. Muslim, 1072)

Kemudian Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam memerintahkan mereka untuk menikah, namun maharnya diambil dari khumus (seperlima dari harta hasil rampasan perang).

Beberapa Ahlul Bait Nabi dan keutamaan mereka

1. Hamzah bin Abdul Muthallib Radhiallahu’anhu

Ibnu Abdil Barr berkata: “Hamzah bin Abdul Muthallib bin Hasyim, paman Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Ia dijuluki Asadullah (Singa Allah) dan Asadu Rasulullah (Singa Rasulullah) ” (Hasyiah Al Ishabah, 1/270)

2. Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib Radhiallahu’anhu

Rasulullah menegaskan dan mengistimewakan Ali bersama Fathimah, Al Hasan dan Al Husain sebagai ahlul bait Nabi, diantaranya dalam hadits:

لَمَّا نزلت هذه الآيةُ {فَقُلْ تَعَالَوْا نَدْعُ أَبْنَاءَنَا وَأَبْنَاءَكُمْ} دعا رسولُ الله صلى الله عليه وسلم عليًّا وفاطمةَ وحَسناً وحُسيناً، فقال: اللَّهمَّ هؤلاء أهل بيتِي

“Ketika turun ayat: ‘Maka katakanlah (kepadanya): “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu” (QS. Al Imran: 61), Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam memanggil Ali, Fathimah, Hasan dan Husan lalu bersabda: ‘Ya Allah mereka ini adalah Ahlul-baitku‘” (HR. Muslim, 2404)

Ibnu Taimiyah berkata: “Tidak diragukan lagi bahwa Ali Radhiyallahu ‘anhu termasuk orang orang yang mencintai Allah dan yang dicintai Allah” (Minhajus Sunnah, 7/218)

Beliau juga berkata: “Keutamaan Ali, kewalian beliau, tingginya kedudukan beliau di sisi Allah merupakan perkara yang sudah diketahui bersama, walillahilhamd. Hal tersebut diketahui dari riwayat-riwayat yang valid yang memberikan sebuah keyakinan” (Minhajus Sunnah, 8/165)

3. Al Hasan Radhiallahu’anhu

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menegaskan dan mengistimewakan beliau sebagai ahlul bait Nabi sebagaimana hadits tadi. Adz Dzahabi berkata: “Ia adalah Imam dan Sayyid, kesayangan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, cucu beliau, ia adalah pemimpin para pemuda di surga. Kun-yah nya adalah Abu Muhammad Al Qurasyi Al Hasyimi, ia adalah seorang syuhada.” (As Siyar, 3/245-246)

4. Al Husain Radhiallahu’anhu

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menegaskan dan mengistimewakan beliau sebagai ahlul bait Nabi sebagaimana hadits tadi. Ibnu Taimiyah berkata: “Al Husain Radhiallahu’anhu, Allah Ta’ala telah memuliakannya dengan status syuhada di hari Asyura. Allah Ta’ala telah menghinakan orang yang membunuhnya dan orang yang membantu membunuhnya. Al Husain telah meneladani para syuhada sebelumnya. Beliau juga saudara dari pemimpin pemuda surga (Al Hasan). Mereka berdua dibesarkan dalam kemuliaan Islam” (Majmu’ Fatawa, 4/511)

5. Abdullah bin Abbas Radhiallahu’anhuma

Sa’ad bin Abi Waqqash Radhiallahu’anhu berkata: “Aku melihat Ibnu Abbas memiliki pemahaman yang luas dan mendalam, ilmu yang banyak, kerendahan hati yang besar, dan aku melihat Umar Bin Khattab sering memanggilnya jika ada masalah-masalah yang sulit dipecahkan” (Thabaqat Ibni Sa’ad, 2/369)

6. Ja’far bin Abi Thalib Radhiallahu’anhu

Abu Hurairah berkata: “Sebaik-baik manusia terhadap orang miskin adalah Ja’far bin Abi Thalib. Dia terus mengunjungi kami dan memberi kami makan apa yang ada di rumahnya, sampai-sampai membawa tempat makanan tanpa berisi makanan. Kami pun memegangnya, lalu menjilati sisa yang ada di tempat makanan tersebut” (HR. Bukhari, 3708)

7. ‘Aisyah Radhiallahu’anha

Adz Dzahabi berkata: “Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tidak pernah menikah dengan perawan kecuali dengan beliau. Tidak ada orang yang lebih dicintai oleh Rasulullah kecuali Aisyah. Dari seluruh wanita di dunia, bahkan dari seluruh manusia, Aisyah lah wanita yang paling berilmu” (As Siyar, 2/140)

8. Fathimah Radhiallahu’anha

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menegaskan dan mengistimewakan beliau sebagai ahlul bait Nabi sebagaimana hadits yang telah kami bawakan. ‘Aisyah Radhiallahu’anha berkata: “Aku tidak pernah melihat orang yang paling mirip dengan Rasulullah dalam rupanya, ciri-cirinya, tingkah lakunya, cara duduk maupun berdirinya, kecuali Fathimah bintu Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam (HR. Abu Daud, 5217. At Tirmidzi, 3872. Sanadnya hasan)

Fathimah Radhiallahu’anha juga dijuluki oleh Rasulullah sebagai pemimpin para wanita di surga.

9. Shafiyyah binti Abdul Muthallib Radhiallahu’anha

Adz Dzahabi berkata: “Yang benar, tidak ada bibi Rasulullah yang masuk Islam kecuali beliau. Beliau pernah menemukan saudaranya, Hamzah telah mati di medan perang. Beliau bersabar dan memohonkan pahala atasnya. Beliau juga mengikuti hijrah yang pertama” (As Siyar, 1/270)

Sikap ahlus sunnah wal jama’ah terhadap Ahlul Bait

Sudah selayaknya setiap muslim mencintai Ahlul Bait Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam sebagaimana Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam juga mencintai mereka. Demikian pula sikap para sahabat Radhiallahu’anhum ajma’in. Abu Bakar Ash Shiddiq Radhiallahu’anhu berkata:

والذي نفسي بيدِه لَقرابةُ رسول الله صلى الله عليه وسلم أحبُّ إليَّ أنْ أَصِلَ من قرابَتِي

“Demi Allah, aku lebih menyukai untuk menyambung kekerabatan dengan keluarga Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dari pada kerabatku sendiri” (HR. Bukhari, 3712)

Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad –hafizhahullah– memaparkan:

عقيدةُ أهل السُّنَّة والجماعة وسَطٌ بين الإفراطِ والتَّفريط، والغلُوِّ والجَفاء في جميعِ مسائل الاعتقاد، ومِن ذلك عقيدتهم في آل بيت الرَّسول صلى الله عليه وسلم ، فإنَّهم يَتوَلَّونَ كلَّ مسلمٍ ومسلمةٍ من نَسْل عبدالمطلِّب، وكذلك زوجات النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم جميعاً، فيُحبُّون الجميعَ، ويُثنون عليهم، ويُنْزلونَهم منازلَهم التي يَستحقُّونَها بالعدلِ والإنصافِ، لا بالهوى والتعسُّف، ويَعرِفون الفضلَ لِمَن جَمع اللهُ له بين شرِف الإيمانِ وشرَف النَّسَب،

“Akidah ahlussunnah wal jama’ah dalam semua permasalahan aqidah adalah aqidah yang pertengahan antara ekstrim kiri dan ekstrim kanan, antara berlebih-lebihan dan sikap lembek. Termasuk juga aqidah terhadap ahlul bait Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Ahlussunnah mencintai setiap muslim dan muslimah yang merupakan termasuk Bani Abdul Muthallib, mereka juga mencintai para istri Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Ahlussunnah mencintai mereka, memuji mereka, menempatkan mereka pada kedudukan yang layak secara adil, bukan berdasarkan hawa nafsu atau serampangan. Ahlussunnah mengenal dengan baik keutamaan ahlul bait, karena dalam diri-diri ahlul bait terdapat kemuliaan iman sekaligus kemuliaan nasab.”

Beliau juga melanjutkan:

ومَن جمع اللهُ له بينهما فقد جمع له بين الحُسْنَيَيْن، ومَن لَم يُوَفَّق للإيمان، فإنَّ شرَفَ النَّسَب لا يُفيدُه شيئاً، وقد قال الله عزَّ وجلَّ: {إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللهِ أَتْقَاكُمْ}، وقال صلى الله عليه وسلم في آخر حديث طويلٍ رواه مسلم في صحيحه (2699) عن أبي هريرة رضي الله عنه: ((ومَن بطَّأ به عملُه لَم يُسرع به نسبُه))

“Orang yang Allah takdirkan untuk memiliki keduanya (kemuliaan iman dan nasab), maka telah terkumpul pada dirinya dua kebaikan. Namun jika keluhuran nasab tidak disertai keluhuran iman, maka ketahuilah bahwa keluhuran nasab tidak bermanfaat sama sekali. Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللهِ أَتْقَاكُمْ

Orang yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa” (QS. Al Hujurat:13)

Dalam sebuah hadits yang panjang, yang diriyawatkan oleh Imam Muslim, dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu, di akhir hadits, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

ومَن بطَّأ به عملُه لَم يُسرع به نسبُه

Orang yang lambat amalnya, tidak bisa dipercepat oleh nasabnya” (HR. Muslim 2699)

Dengan demikian, sudah selayaknya bagi setiap muslim untuk mencintai ahlul bait Nabi baik yang sudah wafat maupun yang masih ada sampai hari ini. Namun dengan catatan, jika orang yang mengaku ahlul bait bersama keluhuran nasabnya tersebut ternyata tidak membawa keluhuran iman, atau bahkan ia menjadi penghulu kemaksiat, kebid’ahan atau kesyirikan, maka ia tidak berhak mendapatkan kecintaan itu. Seorang yang berbuat maksiat tetaplah berdosa karena maksiatnya, walaupun ia keturunan Nabi. Seorang penggemar maksiat, penggemar kesyirikan dan kebid’ahan, layak kita benci walaupun ia keturunan Nabi. Bukankah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ ، وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ ، وَايْمُ اللَّهِ ، لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ ابْنَةَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا

Sungguh yang membuat kaum sebelum kalian binasa, jika ada seorang pencuri dari kalangan orang bermartabat maka dibiarkan. Sedangkan jika pencuri dari kalangan orang lemah, barulah di tegakkan hukuman. Demi Allah, andaikan Fathimah binti Muhammad mencuri, akan aku potong tangannya” (HR. Bukhari 3288, Muslim 1688).

Jika kepada putri beliau, yang juga ahlul bait beliau, hukum Islam tetap adi ditegakkan maka bagaimana lagi dengan keturunan beliau di zaman ini?

Selain itu, ada sebagian orang yang beranggapan bahwa semua ahlul bait pasti dijamin masuk surga. Hal ini sama sekali tidak pernah disampaikan oleh Allah dalam Kitab-Nya ataupun oleh Rasulullah dalam sabda beliau. Adapun soal masuk surga atau neraka, adalah perkara gaib, hanya Allah yang mengetahuinya. Tidak ada seorang pun yang bisa menjamin dirinya atau mengetahui seseorang pasti masuk surga atau neraka. Kecuali, orang yang telah dijamin oleh Rasulullah sebagai penghuni surga berdasarkan sabda-sabda beliau, diantaranya Fathimah Radhiallahu’anha. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda kepada Fathimah:

 أَمَا تَرْضَيْنَ أَنْ تَكُونِى سَيِّدَةَ نِسَاءِ أَهْلِ الْجَنَّةِ أَوْ نِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ

Tidakkah engkau ridha bahwa engkau adalah penghulu para wanita surga –atau para wanita yang ber-iman- ?” (HR. Bukhari 3426, Muslim 2450)

Maka, ahlul bait Nabi di masa ini, walaupun memiliki nasab yang mulia, wajib dicintai oleh setiap muslim, namun tetap belum tahu bagaimana akhir hidupnya kelak. Merekapun tetap dituntut untuk beramal shalih dan menjauhi larangan agama sebagai usaha untuk menggapai surga, sama seperti umat muslim yang lainnya.

Tidak boleh sembarang mengaku Ahlul Bait

Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad berkata:

وقد كثُرَ في العرب والعجم الانتماءُ إلى هذا النَّسب، فمَن كان من أهل هذا البيت وهو مؤمنٌ، فقد جمَع الله له بين شرف الإيمان وشرف النَّسب، ومَن ادَّعى هذا النَّسبَ الشريف وهو ليس من أهله فقد ارتكب أمراً محرَّماً، وهو متشبِّعٌ بِما لَم يُعط، وقد قال النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم -:

((المتشبِّعُ بِما لَم يُعْطَ كلابس ثوبَي زور))، رواه مسلمٌ في صحيحه (2129) من حديث عائشة رضي الله عنها.

وقد جاء في الأحاديث الصحيحة تحريمُ انتساب المرء إلى غير نسبِه، ومِمَّا ورد في ذلك حديثُ أبي ذر رضي الله عنه أنَّه سَمع النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يقول: ((ليس مِن رجلٍ ادَّعى لغير أبيه وهو يَعلَمه إلاَّ كفر بالله، ومَن ادَّعى قوماً ليس له فيهم نسبٌ فليتبوَّأ مقعَدَه من النار))

“Banyak orang arab dan juga orang di luar arab yang mengaku-ngaku keturunan Nabi Shallalahu’alaihi Wasallam. Jika memang benar demikian dan ia seorang yang beriman, maka berarti Allah telah menggabungkan pada dirinya kemuliaan nasab dan kemuliaan iman. Namun jika ia hanya mengaku-ngaku padahal sebenarnya ia bukan ahlul bait, maka ia telah melakukan perbuatan yang haram, yaitu mengaku-ngaku sesuatu yang tidak diberikan kepadanya. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

المتشبِّعُ بِما لَم يُعْطَ كلابس ثوبَي زور

Orang yang mengaku-ngaku sesuatu yang tidak diberikan kepadanya bagaikan memakai dua pakaian kedustaan” (HR. Muslim 2129, dari Aisyah Radhiallahu’anha).

Selain itu, banyak hadist-hadits shahih yang melarang menasabkan diri kepada selain nasab yang sebenarnya. Diantaranya hadits Abu Dzar Radhiallahu’anhu, beliau mendengar Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

ليس مِن رجلٍ ادَّعى لغير أبيه وهو يَعلَمه إلاَّ كفر بالله، ومَن ادَّعى قوماً ليس له فيهم نسبٌ فليتبوَّأ مقعَدَه من النار ))، رواه البخاريُّ (3508)، ومسلم (112)، واللفظ للبخاري

Orang yang mengaku-ngaku nasab selain nasab ayahnya, padahal sebenarnya ia tahu, maka ia telah kufur (nikmat) kepada Allah. Orang yang mengaku-ngaku keturunan dari sebuah kaum, padahal bukan, maka siapkanlah tempat duduknya di neraka” (HR. Bukhari 3508, Muslim 112).

Demikian pembahasan yang singkat ini, semoga bermanfaat. Ya Allah, limpahkanlah shalawat serta salam kepada Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam dan kepada ahlul-bait nya, juga kepada istri-istrinya serta anak-cucunya. Sebagaimana shalawat yang telah Engkau berikan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.

[Disarikan dari Fadhlu Ahlil Baiti Wa ‘Uluwwu Makanatihim, karya Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad Al Badr Hafizhahullah, dengan beberapa tambahan]

Penulis: Yulian Purnama