Imam Muhammad bin Idris Asy Syafi’i rahimahullah mengatakan:

والعلم طبقات شتى:

“Ilmu itu bertingkat-tingkat:

الأولى الكتاب والسنة إذا ثبتت السنة

“Pertama: Al Kitab (Al Qur’an) dan As Sunnah jika derajatnya shahih”.

ثم الثانية الإجماع فيما ليس فيه كتاب ولا سنة

“Kedua: ijma (sahabat Nabi), ketika tidak ada dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah”.

والثالثة أن يقول بعض أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم ولا نعلم له مخالفا منهم

“Ketiga: pendapat sebagian sahabat Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam yang tidak kita ketahui adanya pendapat sahabat lain yang menyelisihinya”

والرابعة اختلاف أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم في ذلك

“Keempat: beberapa pendapat para sahabat Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dalam masalah tersebut”

الخامسة القياس على بعض الطبقات

“Kelima: melakukan qiyas terhadap sebagian tingkatan di atas”

ولا يصار إلى شيء غير الكتاب والسنة وهما موجودان وإنما يؤخذ العلم من أعلى

“Dan tidak boleh mengambil dalil selain Al Qur’an dan As Sunnah selama ada dalil dari keduanya. Ilmu itu diambil dari paling atas terlebih dulu”

(Al Umm, 7/282; Al Makdhal ilas Sunanil Kubra [110])

Kita lihat betapa beliau sangat kencang untuk berhujjah dengan dalil Al Qur’an dan Sunnah juga dengan pemahaman salafus shalih.

Maka hendaknya kita mengambil faedah dari beliau, untuk senantiasa mendahulukan Al Qur’an dan Sunnah serta pemahaman para salafus shalih dari pada pendapat-pendapat orang lain, opini pribadi, filsafat dan logika-logika.

Semoga Allah memberi taufik.