Kita ketahui ulama khilaf mengenai batasan minimal i’tikaf menjadi 4 pendapat:

  • Satu hari atau satu malam. Ini merupakan pendapat Abu Hanifah, sebagian Malikiyyah, salah satu pendapat Syafi’iyyah
  • Sehari semalam. Ini merupakan pendapat Malikiyyah.
  • Sepuluh hari. Ini merupakan pendapat Imam Malik.
  • Beberapa saat (sebentar). Ini merupakan pendapat jumhur ulama.

Yang dikuatkan oleh Faqihuzzaman (pakar fikih zaman ini) Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah adalah pendapat pertama, yaitu i’tikaf itu sehari atau semalam. Beliau mengatakan:

أما المسنون فالعشر كلها، وأما غير المسنون فيجزئ اليوم أو الليلة

“Yang dianjurkan, i’tikaf itu 10 hari full. Adapun di luar yang dianjurkan ini, i’tikaf sudah cukup jika sehari atau semalam” (Fathu Dzil Jalaal, 7/534).

Ini juga pendapat yang dikuatkan oleh dua murid senior beliau, Syaikh Khalid Al Musyaiqih dalam kitab Fiqhul I’tikaf dan juga Syaikh Khalid Al Mushlih –hafizhahumallah-.

Syaikh Khalid Al Mushlih membantah pendapat jumhur, bahwa andaikan i’tikaf itu hanya sebentar saja maka tentu Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam akan menganjurkan para sahabat untuk niat i’tikaf setiap kali akan masuk masjid di setiap waktu.

Maka i’tikaf itu kata beliau adalah berdiam diri di masjid di luar dari kebiasaan. Dan itulah makna bahasa dari i’tikaf yaitu:

المكث و اللزوم

“berdiam lama dan menetap”

Dengan demikian, maka pendapat yang menyatakan sebentar saja sudah sah untuk i’tikaf tidak sesuai dengan konsekuensi bahasa dan juga konsekuensi syar’i.

Maka minimal i’tikaf itu kata beliau:

فالإعتكاف هو المكث, كليلة أو يوم أو أكثر ليلة أو أكثر يوم

“Maka i’tikaf itu menetap lama (di masjid) seperti semalam, sehari, atau mayoritas malam atau mayoritas hari”. Simak penjelasan beliau di: https://www.youtube.com/watch?v=lcTa7idvBbc

Juga dikuatkan oleh riwayat dari Umar bin Khathab radhiallahu’anhu:

أن عمر قال : يا رسول الله ، إني نذرت في الجاهلية أن أعتكف ليلة في المسجد الحرام ، قال : ( أوف بنذرك )

Umar berkata: ‘Wahai Rasulullah, di masa Jahiliyyah aku pernah bernadzar untuk beri’tikaf satu malam di masjidil haram’. Rasulullah bersabda: ‘Penuhi nadzarmu’” (HR. Bukhari, no. 6697).

Dan diantara pembatal i’tikaf yang disekapati ulama adalah: keluar dari masjid tanpa hajat. Dan pembatal ini hampir tidak ada maknanya jika i’tikaf itu hanya sesaat saja. Poin ini bisa dikatakan sebagai pembatal i’tikaf jika seseorang berdiam di masjid dalam waktu lama.

Tentu saja ini masalah khilafiyah ijtihadiyyah yang wajib legowo dengan pendapat yang berbeda. Namun bagi yang mengambil pendapat jumhur, hendaknya berusaha memperlama berdiam diri di masjid, tidak hanya sesaat saja. Tentunya semakin lama, semakin besar pahala yang didapat.

Wallahu a’lam.

 

Keterangan:

  • I’tikaf semalam berarti masuk ketika maghrib, keluar setelah subuh.
  • I’tikaf sehari berarti masuk ketika subuh, keluar setelah maghrib.
  • Dan boleh mayoritas malam atau mayoritas siang, tidak satu malam full atau satu siang full.