Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah menjawab:

Hal tersebut bukan termasuk sunnah. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam memanjangkan rambut karena orang-orang di masa itu biasa memanjangkan rambut. Oleh karena itu ketika beliau melihat ada seorang anak kecil memangkas habis sebagian rambutnya, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

احْلِقُوهُ كُلَّهُ، أَوِ اتْرُكُوهُ كُلَّهُ

“Pangkas habis semuanya, atau biarkan semua” (HR. Abu Daud no.4195, dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah no. 1123).

Andaikan dianjurkan untuk memanjangkan rambut, maka tentu Nabi akan berkata: “panjangkan!“. Oleh karena itu kami katakan, memanjangkan rambut bukan termasuk sunnah.

Namun jika masyarakat biasa melakukan itu, maka hendaknya lakukanlah. Jika masyarakat tidak biasa melakukan itu, maka lakukanlah apa yang dilakukan masyarakat.

Karena sunnah itu terkadang pada sunnah bi ‘ainihi (pada objeknya) dan terkadang sunnah bi jinsihi (pada jenisnya). Maka selama tidak mengandung keharaman, yang sesuai sunnah adalah mengikuti kebiasaan masyarakat. Karena Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam biasa mengikuti urf (kebiasaan) yang ada di tengah masyarakat.

Dan kami katakan, yang menjadi kebiasaan masyarakat (di Saudi, pent.) adalah tidak memanjangkan rambut. Dan inilah yang dilakukan oleh para ulama kibar, seperti Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Muhammad bin Ibrahim, dan para ulama kibar lainnya, mereka tidak memanjangkan rambut. Karena mereka tidak menganggap ini sebagai sunnah, demikian juga kami tidak menganggap ini sebagai sunnah. Padahal mereka adalah orang-orang yang paling kencang dalam mengikuti sunnah Nabi.

Maka yang benar adalah mengikuti kebiasaan masyarakat. Jika anda di suatu tempat yang di sana lelaki biasa memanjangkan rambut, maka silakan panjangkan. Jika tidak demikian, maka jangan panjangkan.

Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=nyCwUm4vXf0

Join channel telegram @fawaid_kangaswad