Karena teman itu ada dua: teman dekat, teman biasa.

Teman dekat wajib dari kalangan orang-orang shalih yang baik agamanya dan semangat menuntut ilmu agama. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

الرجل على دين خليله، فلينظر أحدكم من يخالل

Seseorang itu sesuai dengan keadaan agama khalil (teman dekat) nya. Maka hendaknya ia memperhatikan siapa teman dekatnya” (HR. Abu Daud no. 4833, dihasankan Al Albani dalam Shahih Al Jami no.3545).

Adapun teman biasa, bisa dari berbagai kalangan. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

المؤمنُ الذي يخالطُ الناسَ ويَصبرُ على أذاهم خيرٌ منَ الذي لا يُخالطُ الناسَ ولا يصبرُ على أذاهمْ

Seorang mukmin yang bergaul di tengah masyarakat dan bersabar terhadap gangguan mereka, itu lebih baik dari pada seorang mukmin yang tidak bergaul di tengah masyarakat dan tidak bersabar terhadap gangguan mereka” (HR. At Tirmidzi 2507, Al Bukhari dalam Adabul Mufrad 388, Ahmad 5/365, syaikh Musthafa Al ‘Adawi mengatakan hadits ini shahih dalam Mafatihul Fiqh 44).

Terhadap teman biasa ini, jika ada manfaatnya maka silakan berinteraksi. Jika kita bisa memberi manfaat kepada dia, juga silakan berinteraksi. Syaikh Muhammad bin Ibrahim mengatakan, “Seorang penuntut ilmu agama hendaknya tidak bergaul kecuali dengan orang yang bisa diberi manfaat atau bisa mendapatkan manfaat darinya. Dan jika ia dibutuhkan untuk menjadi seorang teman, maka jadilah teman yang shalih, yang berpegang pada agama, yang bertaqwa, yang wara (menjauhi yang haram, makruh dan syubhat), teman yang cerdas, yang banyak kebaikannya, sedikit keburukannya, senantiasa ber-mudaarah (mengalah demi kebaikan), jarang mendebat, jika temannya lupa ia mengingatkannya (dalam kebaikan), jika temannya ingat suatu kebaikan ia mendukungnya, jika temannya sedih dan gelisah ia menasehatinya untuk bersabar” (Mukhtashar Al Mu’lim, 69).

Jika tidak manfaat dan tidak bisa memberi manfaat maka tinggalkan. Terlebih lagi jika teman tersebut malah merusak dan membahayakan. Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda:

من حسن إسلام المرء تركُه ما لا يعنيه

Diantara tanda kebagusan agama seseorang, ia meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya” (HR. At Tirmidzi no. 2318, dishahihkan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi).

Wallahu a’lam.