Masjid adalah rumah Allah yang didirikan untuk berdzikir dan shalat. Maka wajib bagi kaum lelaki untuk memakmurkan masjid-masjid Allah dengan mendirikan shalat lima waktu secara berjamaah di masjid. Dan shalat berjama’ah di masjid hukumnya wajib ‘ain, menurut pendapat yang rajih dari khilaf ulama yang ada. Bukan sunnah muakkadah, ataupun wajib kifayah.

Dalil-Dalil Wajibnya Shalat Berjamaah Di Masjid

Wajibnya shalat berjama’ah di masjid ditunjukkan oleh dalil-dalil Al Qur’an dan As Sunnah.

Dalil 1

Allah Ta’ala berfirman:

وَأَقِيمُواْ الصَّلاَةَ وَآتُواْ الزَّكَاةَ وَارْكَعُواْ مَعَ الرَّاكِعِين

Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk” (QS. Al-Baqarah: 43).

Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya mengatakan:

وقد استدل كثير من العلماء بهذه الآية على وجوب الجماعة

“Banyak para ulama berdalil denan ayat ini untuk menyatakan wajibnya shalat berjama’ah”.

Dalil 2

Allah Ta’ala juga berfirman,

وَإِذَا كُنتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلاَةَ فَلْتَقُمْ طَآئِفَةٌ مِّنْهُم مَّعَكَ وَلْيَأْخُذُواْ أَسْلِحَتَهُم

Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata” (QS. An-Nisa : 102).

Apabila Allah mewajibkan untuk menunaikan shalat secara berjamaah dalam keadaan takut (perang), maka lebih utama dan lebih wajib lagi jika untuk dilakukan dalam keadaan aman.

Dalil 3

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

لقد هممت أن آمر بالصلاة فتقام ثم آمر رجلا فيصلي بالناس ثم أنطلق معي برجال معهم حزم من حطب إلى قوم لا يشهدون الصلاة فأحرق عليهم بيوتهم بالنار

Sungguh aku benar-benar berniat untuk memerintahkan orang-orang shalat di masjid, kemudian memerintahkan seseorang untuk menjadi imam, lalu aku bersama beberapa orang pergi membawa kayu bakar menuju rumah-rumah orang yang tidak menghadiri shalat jama’ah lalu aku bakar rumahnya” (HR. Bukhari no. 7224, Muslim no. 651).

Andaikan di rumah-rumah tidak ada wanita dan anak-anak kecil, beliau sudah melakukan hal tersebut. Sebagaimana dalam riwayat Ahmad disebutkan bahwa beliau Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

لولا ما في البيوتِ مِنَ النِّساءِ والذرِّيَّةِ لَأقَمتُ الصَّلاةَ، صلاةَ العشاءِ، وأَمَرتُ فتياني يُحَرِّقون ما في البيوتِ بالنَّارِ

Andaikan di rumah-rumah tidak ada wanita dan anak-anak kecil sungguh aku akan dirikan shalat Isya kemudian aku perintahkan para pemuda untuk membakar rumah-rumah dengan api” (HR. Ahmad no. 8796, dishahikan oleh Syu’aib Al Arnauth dalam Takhrij Al Musnad).

Maka tidak mungkin sikap beliau demikian tegas dan kerasnya, andaikan shalat berjamaah di masjid hanya disunnahkan.

Dalil 4

Dari Abdullah bin Abbas radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

مَن سَمِعَ النِّداءَ فلَم يأتِ فلا صَلاةَ لَه إلَّا مِن عُذرٍ

Barangsiapa yang mendengar adzan, namun tidak mendatanginya maka tidak ada shalat baginya, kecuali ada udzur” (HR. Abu Daud no.551, Ibnu Majah no.793, dishahihkan oleh Ibnu Hajar dalam Bulughul Maram [114]).

Dalil 5

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu,

أن رجلاً أعمى قال يا رسول الله: ليس لي قائد يقودني إلى المسجد، فهل لي من رخصة أن أصلي في بيتي، فقال له صلى الله عليه وسلم: هل تسمع النداء بالصلاة؟ قال: نعم، قال: فأجب

“Ada seorang buta menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata, “Wahai Rasulullah, saya tidak memiliki seseorang yang akan menuntunku ke masjid. Apakah ada keringanan bagiku untuk shalat di rumah?“. Maka Rasulullah pun bertanya kepadanya, “Apakah engkau mendengar panggilan shalat (azan)?”. Laki-laki itu menjawab, “Ya”. Beliau bersabda, “Kalau begitu penuhilah panggilan tersebut (hadiri shalat berjamaah)” (HR. Muslim no. 653).

Dalil 6

Bahkan di zaman Nabi, orang yang tidak shalat jama’ah di masjid, sudah kentara sebagai orang munafik. Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu, ia berkata:

من سره أن يلقى الله غداً مسلماً فليحافظ على هؤلاء الصلوات حيث ينادى بهن، فإن الله شرع لنبيكم سنن الهدى وإنهن من سنن الهدى، ولو أنكم صليتم في بيوتكم كما يصلي هذا المتخلف في بيته لتركتم سنة نبيكم، ولو تركتم سنة نبيكم لضللتم ولقد رأيتنا وما يتخلف عنها إلا منافق معلوم النفاق أو مريض، ولقد كان الرجل يؤتى به يهادى بين الرجلين حتى يقام في الصف

“Barangsiapa yang ingin ketika berjumpa dengan Allah esok dalam keadaan sebagai seorang Muslim, maka hendaknya dia menjaga shalat 5 waktu di tempat dikumandangkan adzan (yaitu di masjid). Karena Allah telah mensyariatkan kepada Nabi kalian jalan-jalan petunjuk. Dan shalat 5 waktu di masjid adalah salah satu di antara jalan-jalan petunjuk. Seandainya kalian shalat di rumah-rumah kalian sebagaimana orang yang tidak ikut shalat berjamaah ini, ia shalat di rumahnya, maka sungguh kalian telah meninggalkan sunnah Nabi kalian. Dan jika kalian meninggalkan sunnah Nabi kalian, maka sungguh kalian akan tersesat. Dan sungguh aku melihat dahulu kami para sahabat, tidak ada yang meninggalkan shalat berjamaah di masjid kecuali orang munafik yang jelas kemunafikannya. Dan sungguh dahulu ada sahabat yang dibopong ke masjid dan ditopang di antara dua lelaki agar bisa berdiri untuk shalat di shaf” (HR. Muslim no.654).

Dalil 7

Dari Ibnu Umar radhiallahu’anhuma, ia berkata:

كَانَ يَأْمُرُ مُؤَذِّنًا يُؤَذِّنُ ، ثُمَّ يَقُولُ عَلَى إِثْرِهِ ‏‏: ” أَلَا صَلُّوا فِي ‏‏الرِّحَالِ ‏” فِي اللَّيْلَةِ الْبَارِدَةِ أَوْ الْمَطِيرَةِ فِي السَّفَرِ

Dahulu Nabi memerintahkan muadzin beradzan lalu di akhirnya ditambahkan lafadz /shalluu fii rihaalikum/ (shalatlah di rumah-rumah kalian) ketika malam sangat dingin atau hujan dalam safar” (HR. Bukhari no. 616, Muslim no. 699).

Dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu’anhu:

أَنَّهُ ‏قَالَ لِمُؤَذِّنِهِ فِي يَوْمٍ مَطِيرٍ : إِذَا قُلْتَ : أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ، أَشْهَدُ أَنَّ ‏ ‏مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ‏، ‏فَلَا تَقُلْ : حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ ، قُلْ ‏: ‏صَلُّوا فِي بُيُوتِكُمْ

“Ibnu Abbas berkata kepada muadzin: ketika hari hujan, setelah mengucapkan /asyhadu allaa ilaaha illallah/ jangan ucapkan /hayya ‘alash shalah/ namun ucapkan /shalluu fii buyuutikum/ (shalatlah di rumah-rumah kalian)” (HR. Bukhari no. 632, Muslim no. 697).

Diantara sunnah Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam yang diajarkan kepada para sahabat adalah menambahkan lafadz /shalluu fii rihaalikum/ (shalatlah di rumah-rumah kalian) atau /shalluu fii buyuutikum/ (shalatlah di rumah-rumah kalian) ketika hujan. Ini menunjukkan bahwa ketika tidak hujan diperintahkan shalat di masjid.

Dalil 8

Dari Jabir bin Abdllah radhiallahu’anhu, ia berkata:

خرجنا مع رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ في سفرٍ . فمُطِرْنا . فقال  ليُصلِّ من شاء منكم في رَحْلِه

Kami pernah safar bersama Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, lalu turunlah hujan. Beliau besabda: ‘bagi kalian yang ingin shalat di rumah dipersilakan‘” (HR. Muslim no. 698).

Ketika safar, Nabi membolehkan para sahabatnya yang ingin shalat di rumah. Ini menunjukkan bahwa dalam kondisi normal dan tidak safar, maka diperintahkan shalat di masjid.

Dan dalil-dalil yang lainnya yang sangat tegas menunjukkan wajibnya shalat berjama’ah. Maka wajib bagi para lelaki kaum Muslimin untuk memenuhi panggilan Allah, shalat berjama’ah di masjid 5 waktu.

Pendapat Ulama Madzhab 

Para ulama madzhab memang berbeda pendapat mengenai hukum shalat jama’ah.

  1. Imam Ahmad bin Hambal, Atha’, Al Auza’i, Abu Tsaur, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan ulama zhahiriyah berpendapat bahwa shalat jama’ah hukumnya fardhu ‘ain.
  2. Imam Malik, Abu Hanifah dan jumhur Syafi’iyyah berpendapat hukumnya sunnah muakkadah
  3. Imam Asy Syafi’i, juga jumhur Malikiyyah dan jumhur Hanafiyyah berpendapat hukumnya fardhu kifayah

Namun tentu pendapat ulama dan khilafiyah bukanlah dalil, dan wajib kembali kepada dalil ketika menghadapi perbedaan pendapat ulama.

Jawaban Terhadap Dalil-Dalil Yang Tidak Mewajibkan

Para ulama yang tidak mewajibkan shalat berjama’ah berdalih dengan dalil-dalil berikut ini.

Dalil 1

Dari Yazid bin Al Aswad radhiallahu’anhu, ia berkata:

شَهِدْتُ معَ النَّبيِّ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ حجَّتَهُ فصلَّيتُ معَهُ صلاةَ الصُّبحِ في مسجدِ الخَيفِ ، قال : فلمَّا قضى صلاتَهُ وانحرفَ إذا هوَ برجُلَيْنِ في أخرى القومِ لم يصلِّيا معَهُ فقالَ : عليَّ بِهِما فجيءَ بِهِما ترعدُ فرائصُهُما فقالَ : ما منعَكُما أن تصلِّيا معَنا ؟ فقالا : يا رسولَ اللَّهِ إنَّا كنَّا قد صلَّينا في رحالِنا ، قالَ : فلا تفعلا إذا صلَّيتُما في رحالِكُما ، ثمَّ أتيتُما مسجدَ جماعةٍ فصلِّيا معَهُم فإنَّها لَكُما نافلةٌ

Aku ikut dalam rombongan haji bersama Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Aku pun shalat bersama beliau yaitu shalat shubuh di masjid Al Khaif. Ketika selesai shalat beliau beranjak, kemudian melihat ada dua orang lelaki dari kaum yang lain yang mereka tidak ikut shalat bersama Nabi ketika itu. Maka Nabi bersabda: bawalah dua orang itu kemari. Maka mereka berdua pun gemetaran karena takut. Nabi bersabda: apa yang menghalangi kalian untuk shalat bersama kami? Mereka berdua menjawab: wahai Rasulullah, kami sudah shalat di rumah kami. Nabi bersabda: jangan kalian lakukan itu! Jika kalian sudah shalat di rumah, kemudian mendatangi masjid jama’ah, maka shalatlah bersama mereka. Dan shalat tersebut adalah shalat sunnah bagi kalian” (HR. Tirmidzi no. 219, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Sunan At Tirmidzi).

Dalam hadits ini, dua orang tersebut shalat di rumahnya namun tidak diingkari oleh Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Beliau hanya mengingkari perbuatan mereka yang tidak ikut shalat ketika berada di masjid.

Sanggahan:

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menyanggah pendalilan di atas:

 الصلاة في الجماعة واجبة في المساجد وهذان الرجلان اللذان صليا في رحالهما يحتمل أنهما لم يعلما بوجوب الصلاة في المساجد مع الناس ويحتمل أنهما ظنا أن الناس قد صلوا ويحتمل احتمالات أخرى والقاعدة في الاستدلال أنه إذا وجد الاحتمال بطل الاستدلال وأن النصوص المتشابهة ترد إلى المحكم فإذا كان لدينا نص محكم يدل على وجوب الصلاة جماعة في المساجد فلا يمكن أن نبطل دلالة هذا النص المحكم من أجل دلالة حديث متشابه أو نص متشابه سواء آية أو حديث

“Shalat jama’ah wajib dilakukan di masjid. Adapun dua orang ini (dalam hadits Yazid bin Al Aswad) yang shalat di rumah mereka, dimungkinkan mereka belum mengetahui wajibnya shalat di masjid bersama orang-orang. Dan dimungkinkan juga mereka mengira shalat sudah selesai didirikan. Dan ada kemungkinan-kemungkinan lainnya. Maka kaidah mengatakan: idzaa wujidal ihtimaal, bathalal istidlal (jika ada kemungkinan-kemungkinan, batal lah pendalilan). Dan nash-nash yang musytabihah (samar pendalilannya) wajib dikembalikan kepada nash-nash yang muhkam (jelas). Dan kita memiliki nash-nash yang jelas yang menyatakan wajibnya shalat jama’ah di masjid. Maka tidak mungkin kita membatalkan pendalilan dengan nash-nash yang muhkam ini karena adanya hadits atau nash yang musytabihah (samar pendalilannya), baik itu ayat ataupun hadits.” (Ta’liqat Ibnu Al Utsaimin ‘alal Kafi, 1/339).

Dalil 2

Dari Abu Musa Al Asy’ari radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

أَعْظَمُ النَّاسِ أجْرًا في الصَّلاةِ أبْعَدُهُمْ، فأبْعَدُهُمْ مَمْشًى والذي يَنْتَظِرُ الصَّلاةَ حتَّى يُصَلِّيَها مع الإمامِ أعْظَمُ أجْرًا مِنَ الذي يُصَلِّي، ثُمَّ يَنامُ

Orang yang paling besar pahala shalatnya adalah yang paling jauh rumahnya. Semakin jauh ia berjalan, semakin besar pahalanya. Dan orang yang menunggu shalat selanjutnya hingga ia shalat bersama imam, itu lebih besar pahalanya dari pada orang yang shalat kemudian setelah itu ia tidur” (HR. Al Bukhari 651, Muslim 662).

Hadits ini menyatakan bahwa orang yang menunggu shalat jama’ah selanjutnya lebih besar pahalanya dari pada orang yang shalat bersama imam kemudian ia pulang dan tidur kemudian shalat di rumah. Menunjukkan bahwa orang yang shalat di rumah masih mendapatkan pahala walaupun memang lebih besar pahalanya jika shalat di masjid.

Sanggahan:

Syaikh Abdul Karim Al Khudhair mengomentari pendalilan di atas:

ولا يعني هذا أن صلاة الجماعة ليست بواجبة؛ لأنه استدل به من يقول باستحباب صلاة الجماعة، وصلاة الجماعة سنة لأن له أجر، نقول: نعم له أجر، لكن عليه وزر، والجهة منفكة، له أجر الصلاة، وعليه وزر ترك الجماعة

“Hadits ini tidak berarti menunjukkan bahwa shalat jama’ah itu tidak wajib. Karena ulama yang menyatakan shalat wajib itu mustahab berdallil dengan hadits ini. Shalat jama’ah sunnah karena orang yang shalat di rumah masih dapat pahala. Maka kita katakan, ya benar, orang yang shalat di rumah tentu masih dapat pahala. Namun juga mereka mendapat dosa. Tujuan dari shalatnya menjadi sia-sia. Dia mendapat pahala shalat namun mendapat dosa karena meninggalkan shalat jama’ah” (Syarah Al Muharrar fil Hadits, 13/33).

Dalil 3

Dari Abdullah bin Umar radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

صَلاَةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلاَةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً

“Shalat berjama’ah lebih utama dari shalat sendirian 27 derajat” (HR. Bukhari no. 645, Muslim no. 650).

Dalam riwayat lain, dari Abu Sa’id Al Khudri radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

الجماعة تفضل صلاة الفذِّ بخمس وعشرين درجة

Shalat berjama’ah lebih utama dari shalat sendirian 25 derajat” (HR. Bukhari no. 646).

Jika shalat jama’ah itu lebih utama 25 atau 27 derajat, maka menunjukkan bahwa shalat sendirian masih ada keutamaannya. Hal ini menunjukkan bahwa shalat jama’ah tidak wajib.

Sanggahan:

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menyanggah pendalilan dengan hadits ini, beliau mengatakan,

هذه الأحاديث تدل على فضل الجماعة، وهذا التفضيل لا يلزم منه عدم الوجوب، فصلاة الجماعة واجبة، ومفضلة، فلا منافاة بين التفضيل والوجوب، ومن لم يصلِّها مع الجماعة فصلاته صحيحة على الراجح، مع الإثم

“Hadits-hadits ini menunjukkan keutamaan shalat jama’ah. Dan adanya tafdhil (penyebutan keutamaan lebih besar) ini tidak berarti menyatakan shalat jama’ah itu tidak wajib. Maka kesimpulan yang benar, shalat jama’ah itu wajib dan juga lebih utama. Sehingga tidak ada pertentangan antara tafdhil dan kewajiban. Orang yang tidak shalat berjama’ah (di masjid), maka shalatnya tetap sah menurut pendapat yang rajih, namun ia berdosa” (dinukil dari Shalatul Jama’ah, karya Syaikh Sa’id Wahf Al Qahthani, 1/35).

Maka dari paparan di atas, kesimpulannya, shalat wajib berjama’ah hukumnya wajib ‘ain bagi kaum lelaki. Tidak boleh meninggalkannya kecuali jika ada udzur.

Wabillahi at taufiq was sadaad.