Paham pluralisme agama, atau keyakinan bahwa semua agama sama, sedang mendapatkan angin segar baru-baru ini. Nahasnya, sebagian orang yang mengaku fanatis imam Asy Syafi’i atau pengikut madzhabnya, ikut menebarkan paham menyesatkan ini. Padahal jelas Allah Ta’ala berfirman:

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima [agama itu] daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi“ (QS. Al Imran: 85).

Demikian juga Al Imam Muhammad bin Idris Asy Syaf’i, beliau bukan penganut paham pluralisme agama. Beliau meyakini agama yang haq satu-satunya adalah Islam, dan agama selain Islam itu batil. Misalnya, beliau menafikan adanya persaudaraan antara orang Mukmin dan orang kafir. Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Sesungguhnya kaum Mukminin itu bersaudara, maka perbaikilah hubungan di antara mereka, dan bertakwalah kepada Allah semoga kalian mendapatkan rahmat” (QS. Al Hujurat: 10).

Al Imam Asy Syafi’i menjelaskan makna ayat ini:

جعل الأخوة بين المؤمنين وقطع ذلك بين المؤمنين والكافرين

“Allah menjadikan persaudaraan hanya pada kaum Mukminin, dan Allah memutuskan persaudaraan antara kaum Mukminin dengan kaum kafirin” (Al Umm, 6/40).

Lebih tegas lagi perkataan beliau berikut ini:

ومن كان على دين اليهودية والنصرانية فهؤلاء يدّعون دين موسى وعيسى – صلوات الله وسلامه عليهما – وقد بدّلوا منه ، وقد أخذ عليهم فيهما الايمان بمحمد صلى الله عليه وسلم فكفروا بترك الايمان به واتباع دينه ، مع ما كفروا به من الكذب على الله قبله .

“Barangsiapa yang berada dalam agama Yahudi atau NAsrani, maka mereka mengklaim mengikuti Musa dan Isa ‘alaihimas salam, padahal mereka telah mengubah-ubahnya. Mereka mengetahui adanya kewajiban beriman kepada Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam namun mereka mengkufurinya dengan meninggalkan keimanan kepada Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam dan tidak mengikuti ajaran beliau. Disamping kekufuran mereka karena telah mendustakan Allah sebelumnya”.

فقد قيل لي : إن فيهم من هو مقيم على دينه ، يشهد أن لا إله إلا الله وأن محمداً عبده ورسوله ويقول : لم يبعث إلينا . فإن كان فيهم أحد هكذا فقال أحد منهم : أشهد أن لا إله إلا الله وأن محمداً عبده ورسوله . لم يكن هذا مستكمل الاقرار بالايمان حتى يقول : وأن دين محمد حق أو فرض ، وأبرأ مما خالف دين محمد صلى الله عليه وسلم أو خالف دين الاسلام . فإذا قال هذا فقد استكمل الاقرار بالايمان

“Jika ada yang berkata: “di antara mereka ada yang masih berada pada ajaran asli agamanya, bersyahadat laa ilaaha illalla wa anna muhammadan abduhu wa rasuuluh“, namun mereka mengatakan: “bahwa Muhammad tidak diutus untuk kami”.

Jawabnya, jika memang benar ada yang demikian di antara mereka, lalu diantara mereka bersyahadat laa ilaaha illalla wa anna muhammadan abduhu wa rasuuluh, maka ia tidak sempurna pengakuan keimanannya hingga mengatakan bahwa agama yang dibawa Muhammad itu benar dan wajib diikuti. Dan sampai dia berlepas diri dari semua yang bertentangan dari ajaran yang dibawa Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam atau berlepas diri dari semua yang bertentangan dengan Islam. Jika ia mengatakan ini barulah pengakuan keimanannya sempurna” (Al Umm, 6/158).

Bahkan Al Imam Asy Syafi’i menyakini semua pemeluk agama kemusyrikan itu kafir. Ibnu Hazm rahimahullah mengatakan:

الكفر والشرك سواء ، وكل كافر فهو مشرك وكل مشرك فهو كافر وهو قول الشافعي وغيره

“Kufur dan syirik itu sama. Setiap orang kafir maka dia musyrik dan setiap musyrik itu kafir. Ini adalah pendapat Asy Syafi’i dan yang lainnya” (Al Fishal fil Milal wal Ahwa wan Nihal, 3/124).

Bahkan Al Imam Asy Syafi’i juga bukan penganut toleransi kebablasan. Beliau melarang Muslim membantu membangun gereja atau merawatnya. Beliau mengatakan:

وأكره للمسلم أن يعمل بنَّاءً، أو نجاراً، أو غير ذلك في كنائسهم التي لصلاتهم

“Aku melarang orang Muslim bekerja membangun gereja, atau menjadi tukang kayu bagi gereja atau semisalnya, di gereja-gereja yang mereka gunakan untuk ibadah” (Al Umm, 4/203).

Maka dari nukilan-nukilan di atas sudah sangat jelas, terang-benderang, Al Imam Asy Syafi’i mengkafirkan Yahudi dan Nasrani serta semua penganut agama selain Islam. Beliau bukan penganut pluralisme atau toleransi kebablasan.

Namun anehnya banyak orang menisbatkan diri kepada madzhab beliau malah menyebarkan paham yang menyesatkan ini.

Allahul musta’an wa ilaihit tuklan.