Para ulama membahas hukum asal pernikahan itu monogami atau poligami? Jika hukum asalnya monogami, maka monogami yang lebih dianjurkan adapun poligami hanya bagi yang mampu saja. Sedangkan jika hukum asalnya poligami, maka poligami lebih dianjurkan sedangkan monogami hanya bagi yang tidak mampu.

Allah Ta’ala berfirman:

فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً

maka nikahilah wanita-wanita yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Namun jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka nikahilah seorang saja” (QS. An Nisa: 3).

Dalam ayat ini Allah Ta’ala memerintahkan untuk menikah dan yang disebutkan pertama kali adalah ta’addud (poligami).

Oleh karena ini sebagian ulama mengatakan, yang asalnya dianjurkan bagi seorang lelaki adalah ta’addud, jika tidak mampu baru hukumnya beralih kepada menikahi satu saja.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah mengatakan:

الأصل التعدد، والواحدة هي التي يحصل بها عند العجز

“Hukum asal yang dianjurkan adalah ta’addud. Adapun menikahi satu saja itu dilakukan ketika tidak mampu (ta’addud)” (Sumber: https://binbaz.org.sa/fatwas/1782).

Syaikh Masyhur Hasan Alu Salman rahimahullah mengatakan:

والأصل في الزواج التعداد لأن الله بدأ بالمثنى. وثبت عن ابن عباس رضي الله عنهما أنه قال: “خير الناس أكثرهم أزواجاً”، يريد النبي صلى الله عليه وسلم، قد عقد على ثلاث عشرة امرأة، ودخل بإحدى عشر، ومات عن تسع من النسوة فالتعداد من ديننا

“hukum asal dari pernikahan adalah poligami, karena Allah Ta’ala memulainya dengan al matsna (dua). Dan terdapat hadits shahih dari Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma, bahwa beliau bersabda: “sebaik-baik kalian adalah yang paling banyak istrinya“. Yang dimaksud oleh Ibnu Abbas di sini adalah Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Karena beliau menikahi 13 wanita namun yang pernah berjimak dengannya hanya 11 orang. Dan beliau ketika wafat meninggalkan 9 orang istri. Maka poligami itu disyariatkan dalam agama kita” (Sumber: https://ar.islamway.net/fatwa/30974).

Namun ulama Syafi’iyyah dan Hanabilah berpendapat yang dianjurkan asalnya adalah menikahi satu saja, jika lebih dari satu hukumnya boleh. Dari Abul Hasan Al Imrani rahimahullah ia mengatakan:

قال الشافعي: وأحب له أن يقتصر على واحدة وإن أبيح له أكثر

“Imam Asy Syafi’i berkata: aku lebih menyukai seseorang mencukupkan dengan satu istri saja, walaupun jika lebih dari satu juga boleh” (Al Bayan fi Madzhab Imam Asy Syafi’i, 11/189).

Al Hijawi Al Hambali rahimahullah dalam matan Zadul Mustaqni mengatakan:

ويسن نكاح واحدة

“Dan disunnahkan menikahi satu istri saja”.

Dalil pendapat kedua ini diantaranya adalah ayat:

وَلَنْ تَسْتَطِيعُوا أَنْ تَعْدِلُوا بَيْنَ النِّسَاءِ وَلَوْ حَرَصْتُمْ فَلا تَمِيلُوا كُلَّ الْمَيْلِ فَتَذَرُوهَا كَالْمُعَلَّقَةِ

Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri- istri (mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung” (QS. An Nisa: 129).

Syaikh Ibnu Jibrin rahimahullah menjelaskan:

فهذا دليل على أن الإنسان -غالبا- لا يستطيع العدل إلا بصعوبة

“Ayat ini dalil bahwa lelaki ini umumnya tidak mampu adil kecuali dengan upaya yang berat” (Syarah Akhsharil Mukhtasharat, 6/57).

Wallahu a’lam, hati ini lebih tenang dengan pendapat kedua. Karena diantara maqashid syariah adalah kemudahan dan kelapangan bagi hamba Allah. Allah Ta’ala berfirman:

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

Allah tidak membebani manusia kecuali sesuai kemampuannya” (QS. Al Baqarah: 286)

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ ، وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلاَّ غَلَبَهُ ، فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا

Sesungguhnya agama itu mudah. Orang yang berlebihan dalam agama akan kesusahan. Maka istiqamahlah, atau mendekati istiqamah, lalu bersiaplah menerima kabar gembira” (HR. Bukhari no.39).

Jika hukum asal pernikahan adalah poligami, maka ini menjadi perkara yang sulit kecuali hanya bagi segelintir orang.

Namun bagi ulama yang berpegang pada pendapat pertama atau pun kedua, semuanya sepakat poligami itu disyariatkan dan dibolehkan. Barangsiapa mengatakan poligami itu tercela atau tidak boleh maka dia telah mendustakan Al Qur’an dan ijma para ulama.

Semoga Allah memberi taufik.

Advertisements