Lelaki membonceng wanita yang bukan mahram dalam berkendaraan tidak diperbolehkan. Karena rawan terjadi sentuhan, dapat menimbulkan fitnah dan penyakit hati. Sebagaimana telah kami jelaskan dalam tulisan “Muslimah Berboncengan Motor Dengan Lelaki Non Mahram“.

Namun terdapat syubhat (kerancuan) seputar hal ini. Bukankah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah ingin membonceng Asma binti Abu Bakar yang merupakan kakak ipar beliau? Sedangkan saudara ipar bukan termasuk mahram yang boleh bersentuhan dan berduaan. Apakah ini menunjukkan bahwa boleh membonceng wanita yang bukan mahram? Bagaimana jawabannya?

Kisah mengenai Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam ingin membonceng Asma binti Abu Bakar benar adanya. Kisah ini dicatat dalam Shahih Bukhari dan Muslim:

عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَتْ : كُنْتُ أَنْقُلُ النَّوَى مِنْ أَرْضِ الزُّبَيْرِ الَّتِي أَقْطَعَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى رَأْسِي وَهِيَ مِنِّي عَلَى ثُلُثَيْ فَرْسَخٍ ( والفرسخ ثلاثة أميال ) فَجِئْتُ يَوْمًا وَالنَّوَى عَلَى رَأْسِي فَلَقِيتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَعَهُ نَفَرٌ مِنْ الْأَنْصَارِ فَدَعَانِي ثُمَّ قَالَ إِخْ إِخْ ( كلمة تقال للبعير لمن أراد أن ينيخه ) لِيَحْمِلَنِي خَلْفَهُ فَاسْتَحْيَيْتُ أَنْ أَسِيرَ مَعَ الرِّجَالِ وَذَكَرْتُ الزُّبَيْرَ وَغَيْرَتَهُ وَكَانَ أَغْيَرَ النَّاسِ فَعَرَفَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنِّي قَدْ اسْتَحْيَيْتُ فَمَضَى فَجِئْتُ الزُّبَيْرَ فَقُلْتُ لَقِيَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى رَأْسِي النَّوَى وَمَعَهُ نَفَرٌ مِنْ أَصْحَابِهِ فَأَنَاخَ لأَرْكَبَ فَاسْتَحْيَيْتُ مِنْهُ وَعَرَفْتُ غَيْرَتَكَ فَقَالَ وَاللَّهِ لَحَمْلُكِ النَّوَى كَانَ أَشَدَّ عَلَيَّ مِنْ رُكُوبِكِ مَعَهُ قَالَتْ حَتَّى أَرْسَلَ إِلَيَّ أَبُو بَكْرٍ بَعْدَ ذَلِكَ بِخَادِمٍ تَكْفِينِي سِيَاسَةَ الْفَرَسِ فَكَأَنَّمَا أَعْتَقَنِي

Dari Asma binti Abu Bakar radhiallahu’anha, ia berkata: dahulu aku memindahkan biji-bijian dari kebun Zubair yang dibagikan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam untukku. Jaraknya 2/3 farsakh (farsakh = tiga mil). Suatu hari aku berjalan membawa biji-bijian di atas kepalaku. Kemudian aku bertemu Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam bersama  beberapa orang dari kaum Anshar. Kemudian beliau memanggilku dan mengatakan: hus hus (suara yang biasa digunakan untuk menjinakkan unta) untuk memberikan isyarat kepadaku untuk membonceng beliau. Namun aku malu berjalan membonceng Nabi sedangkan ada beberapa orang lelaki di sana. Dan aku ingat Zubair adalah orang yang pencemburu bahkan ia adalah orang yang paling pencemburu. Maka Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam pun paham bahwa aku malu, maka beliau pun  melanjutkan perjalanan.

Kemudian aku menemui Zubair dan menceritakan kepadanya bahwa aku bertemu Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam ketika membawa biji-bijian di atas kepalaku, dan bahwa ketika itu beliau bersama beberapa orang sahabat. Aku ceritakan bahwa beliau meminggirkan untanya agar aku naik, akan tetapi aku malu dan mengetahui kecemburuanmu (Zubair). Maka Zubair berkata, “Demi Allah, aku lebih cemburu ketika kamu membawa kesulitan biji-bijian dibandingkan jika kamu dibonceng oleh Rasulullah”.

Asma mengatakan, ”Ternyata Abu Bakar (ayah beliau) setelah itu mengirim pembantu yang cukup untuk merawat kuda-kuda, sehingga seakan-akan saya bebas (dari pekerjaan merawat kuda)” (HR. Bukhari no. 4823, Muslim no. 4050).

Namun para ulama mengatakan bahwa ini adalah diantara kekhususan Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam, yaitu beliau boleh membonceng wanita yang bukan mahram beliau.

Al Hathab Al Maliki menjelaskan:

ومن خصائصه عليه الصلاة والسلام جواز خلوته بالأجنبية كما نقل الدماميني في حاشيته على البخاري في أول كتاب الجهاد في دخوله صلى الله عليه وسلم على أم حرام بنت ملحان وقال الشيخ جلال الدين في المباحات : واختص صلى الله عليه وسلم بإباحة النظر للأجنبيات والخلوة بهن وإردافهن

“Di antara kekhususan Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam adalah dibolehkannya beliau berduaan dengan wanita ajnabiyah (non mahram), sebagaimana dinukil oleh Ad Damamini dalam Hasyiyah-nya terhadap kitab Shahih Al Bukhari. Yaitu di permulaan bab Jihad, saat Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam menemui Ummu Haram bintu Milhan. Syaikh Jalaluddin di kitab Al Mubahat mengatakan, “dikhususkan bagi Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam bolehnya melihat wanita ajnabiyah dan berduaan dengannya, serta memboncengnya”” (Mawahib Al Jalil, 3/402).

Al Bujairami, ulama Syafi’iyyah mengatakan:

أما هو – صلى الله عليه وسلم- فقد اختص بإباحة النظر إلى الأجنبيات والخلوة بهن وإردافهن على الدابة خلفه ; لأنه مأمون لعصمته ; وهذا هو الجواب الصحيح عن قصة أم حرام في دخوله عليها ونومه عندها وتفليتها رأسه ولم يكن بينهما محرمية ولا زوجية , وأما الجواب بأنها كانت محرمة من رضاع فرده الدمياطي بعدم ثبوته

“Adapun beliau, Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam, diberi kekhususan dengan dibolehkannya beliau melihat wanita ajnabiyah, berduaan dan memboncengnya di kendaraan. Karena beliau aman, karena beliau ma’shum. Inilah adalah jawaban yang shahih terhadap kisah Ummu Haram, yaitu ketika Nabi masuk dan tidur di rumah Ummu Haram dan mengeluarkan kepalanya sementara di antara keduanya bukan mahram dan bukan suami-istri. Adapun yang mengatakan bahwa Ummu Haram adalah mahram sepersusuan, Ad Dimyati telah membantahnya dan mengatakan bahwa hal itu tidak shahih” (Hasyiyah Bujairami, 3/372).

Ar Ruhaibani, ulama Hambali, mengatakan:

وله أن يردف الأجنبية خلفه لقصة أسماء . وروى أبو داود عن امرأة من غفار : أن النبي صلى الله عليه وسلم أردفها على حقيبته . وله أن يخلو بها لقصة أم حرام

“Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam dibolehkan membonceng wanita ajnabiyah berdasarkan kisah Asma. Demikian juga diriwayatkan oleh Abu Dawud tentang kisah wanita dari Ghifar, bahwa Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam memboncengnya di atas pelana unta. Dan Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam juga dibolehkan berduaan dengan wanita ajnabiyah berdasarkan kisah Ummu Haram” (Mathalib Ulin Nuha, 5/34).

Maka jelaslah bahwa kebolehan bagi Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam untuk membonceng wanita non mahram adalah kekhususan bagi beliau.

Terlebih telah jelas dan sangat banyak hadits-hadits Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam tentang bahaya fitnah wanita, larangan bersentuhan, larangan berduaan, larangan memandang, dan larangan mendekati zina walaupun zina maknawi. Sehingga alasan di atas tidak dapat dibenarkan untuk membolehkan laki-laki membonceng wanita non mahram.

Wabillahi at taufik was sadaad.

***

Disarikan dari fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al Munajjid (https://islamqa.info/ar/answers/45696)

Advertisements