Salam itu doa, mengirim salam berarti meminta orang lain menyampaikan doa kepada seseorang. Lalu bagi orang yang mendapat kiriman salam, bagaimana ia menjawabnya? Simak yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berikut ini.

Dari kakeknya seorang lelaki dari Bani Numair radhiallahu’anhu, ia berkata:

بعثني أبي إلى رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ فقال ائتِه فأقرِئهِ السلامَ قال فأتيتُه فقلتُ إنَّ أبي يقرئُك السلامَ فقال عليكَ السلامُ وعلى أبيكَ السلامُ

Ayahku mengutusku untuk menemui Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, Nabi bersabda: “datangkan ia“. Lalu aku mengucapkan salam kepada Nabi dan mendatanginya. Lalu aku berkata: “ayahku mengirim salam untukmu wahai Nabi“. Nabi bersabda: “wa’alaikas salaam wa’ala abiikas salaam” (semoga keselamatan untukmu dan untuk ayahmu) (HR. Abu Daud no. 5231, dihasankan Al Albani dalam Shahih Abi Daud).

Ibnu Muflih dalam Adabus Syar’iyyah mengatakan:

ولو سلم الغائب عن العين من وراء جدار أو ستر: السلام عليك يا فلان، أو سلم الغائب عن البلد برسالته أو كتابه وجبت الإجابة عند البلاغ عندنا وعندنا الشافعية لأن تحية الغائب كذلك، ويستحب أن يسلم على الرسول

“Jika orang yang berada balik tembok atau suatu penghalang mengatakan: assalamu’alaikum wahai Fulan. Atau orang yang berada di tempat lain mengirim salam melalui orang lain atau menulisnya melalui surat, wajib menjawabnya menurut madzhab kami (Hambali) dan juga menurut Syafi’iyyah. Karena tahiyyah (salam penghormatan) orang yang tidak di hadapan kita sama dengan tahiyyah orang yang di hadapan kita. Dan disunnahkan memberi salam juga kepada orang yang menyampaikan salamnya”.

Intinya, ketika mendapat kiriman salam, kita diwajbkan menjawab salam untuk yang mengirim salam dan disunnahkan memberi salam juga bagi yang menyampaikan salam.

Bisa dijawab dengan: “wa’alaikassalaam wa’alaihissalaam” (semoga keselamatan untukmu dan untuknya)

Atau: “wa’alaika wa’alaihissalaam” (semoga keselamatan untukmu dan untuknya)

atau semacamnya.

Wallahu a’lam.