Kalimat tersebut merupakan bagian dari ayat:

وَقَالَ ارْكَبُوا فِيهَا بِسْمِ اللَّهِ مَجْرَاهَا وَمُرْسَاهَا إِنَّ رَبِّي لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

Dan Nuh berkata: “Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya.” Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Huud: 41).

Pertanyaannya, apakah “Bismillah majreha wamursaha” ini merupakan dzikir atau doa berkendaraan?

Terdapat hadits dari Ibnu Abbas radhiallahu’anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda:

أَمانٌ لأمَّتِي منَ الغرَقِ إذا رَكِبُوا البَحرَ أن يقولُوا : ( بِسْمِ اللَّهِ مَجْرَاهَا وَمُرْسَاهَا ) الآية ( وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ )

Umatku akan aman dari tenggelam jika mereka ketika berlayar di laut mengucapkan: ‘Bismillahi majreha wamursaha’ dan ‘Wa maa qadarullaha haqqa qadrih‘” (HR. Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Kabir[12/124], Ad Dailami dalam Musnad Al Firdaus [1667]).

Namun riwayat ini maudhu‘ (palsu) karena terdapat perawi Nahsyal bin Sa’id. Ishaq bin Rahuwaih mengatakan, “ia kadzab (pendusta)”.

Terdapat jalan lain, dari Al Husain bin Ali bin Abi Thalib radhiallahu’anhuma, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda:

أَمَانُ أُمَّتِي مِنَ الْغَرَقِ إِذَا رَكِبُوا أَنْ يَقُولُوا : بِسْمِ اللَّهِ مَجْرَاهَا وَمُرْسَاهَا إِنَّ رَبِّي لَغَفُورٌ رَحِيمٌ وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ

Umatku akan aman dari tenggelam jika mereka ketika berlayar, mereka membaca: ‘Bismillahi majreha wamursaha’ dan ‘Wa maa qadarullaha haqqa qadrih’” (HR. Abu Ya’la dalam Al Musnad[12/152]).

Namun riwayat ini juga sangat lemah bahkan maudhu’, karena terdapat perawi Jubarah bin Mighlas, ia disepakati lemahnya. Bahkan Yahya bin Ma’in, Imam Ahmad, Ibnu Numair mengatakan ia perawi yang kadzab (pendusta). Juga terdapat Yahya bin Al ‘Ala, Ibnu Hajar dan Imam Ahmad mengatakan ia perawi yang kadzab (pendusta).

Maka kesimpulannya, hadits ini maudhu‘ (palsu) sebagaimana dijelaskan Al Albani dalam Silsilah Adh Dha’ifah (2932).

Sehingga kami belum tahu dalil shahih yang menganjurkan potongan kalimat ini sebagai doa atau dzikir berkendaraan. Adapun ayat di atas tidak menunjukkan hal itu. Kita lihat penjelasan para ulama. Ibnu Katsir menjelaskan:

أَيْ: بِسْمِ اللَّهِ يَكُونُ جَرْيُها عَلَى وَجْهِ الْمَاءِ، وَبِسْمِ اللَّهِ يَكُونُ مُنْتَهَى سَيْرِهَا، وَهُوَ رُسُوها

“Maksudnya, ucapkanlah ‘bismillah‘ ketika mulai berlayar dan ucapkanlah ‘bismillah‘ ketika mengakhiri berlayar, yaitu ketika berlabuh” (Tafsir Ibnu Katsir, 4/322).

Jadi Nabi Nuh menasehatkan kaumnya untuk membaca “bismillah” ketika mulai berlayar dan ketika berlabuh. Ath Thabari menjelaskan:

بمعنى: بسم الله عند إجرائها وإرسائها، أو وقت إجرائها وإرسائها = فيكون قوله: (بسم الله) ، كلامًا مكتفيًا بنفسه، كقول القائل عند ابتدائه في عمل يعمله: “بسم الله”

“Maknanya, ucapkanlah ‘bismillah‘ ketika berlayar dan ketika berlabuh. Atau sewaktu berlayar atau sewaktu berlabuh. Maka ucapan ‘bismillah‘ saja sudah mencukupi. Sebagaimana perkataan seseorang ketika memulai suatu amalan ia mengucapkan: bismillah” (Tafsir Ath Thabari, 15/328).

Jadi ayat ini hanya menganjurkan membaca “bismillah” ketika berlayar dan berlabuh atau berkendaraan secara umum.

Adapun doa ketika berkendaraan yang shahih adalah:

سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ . وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ

/Subhaanalladzi sakhkhoro lanaa hadza wa maa kunna lahu muqrinin. Wa innaa ila robbinaa lamunqolibuun/

“Maha Suci Allah yang telah menundukkan kendaraan ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami”.

Sebagaimana ditunjukkan oleh ayat berikut:

وَالَّذِي خَلَقَ الْأَزْوَاجَ كُلَّهَا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنَ الْفُلْكِ وَالْأَنْعَامِ مَا تَرْكَبُونَ . لِتَسْتَوُوا عَلَى ظُهُورِهِ ثُمَّ تَذْكُرُوا نِعْمَةَ رَبِّكُمْ إِذَا اسْتَوَيْتُمْ عَلَيْهِ وَتَقُولُوا سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ . وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ

Dan Yang menciptakan semua yang berpasang-pasang dan menjadikan untukmu kapal dan binatang ternak yang kamu tunggangi. Supaya kamu duduk di atas punggungnya kemudian kamu ingat nikmat Tuhanmu apabila kamu telah duduk di atasnya; dan supaya kamu mengucapkan, “Maha Suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami” (QS. Zukhruf: 12-14).

Juga ditunjukkan oleh hadits Ibnu Umar radhiallahu’anhuma, ia berkata:

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا اسْتَوَى عَلَى بَعِيرِهِ خَارِجًا إِلَى سَفَرٍ، كَبَّرَ ثَلَاثًا، ثُمَّ قَالَ: «سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا، وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ، وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ، اللهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِي سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى، وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى، اللهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا، وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ، اللهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ، وَالْخَلِيفَةُ فِي الْأَهْلِ، اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ، وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ، وَسُوءِ الْمُنْقَلَبِ فِي الْمَالِ وَالْأَهْلِ»

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam ketika naik ke untanya untuk pergi safar, beliau bertakbir 3x kemudian mengucapkan:

/Subhaanalladzi sakhkhoro lanaa hadza wa maa kunna lahu muqrinin. Wa innaa ila robbinaa lamunqolibuun. Allahumma innaa nas’aluka fi safarinaa hadza al birro wat taqwa wa minal ‘amali ma tardhoa. Allahumma hawwin ‘alainaa safaronaa hadza, wathwi ‘annaa bu’dahu. Allahumma antash shoohibu fis safar, wal kholiifatu fil ahli. Allahumma inni a’udzubika min wa’tsaa-is safari wa ka-aabatil manzhori wa suu-il munqolabi fil maali wal ahli/

Maha Suci Allah yang telah menundukkan kendaraan ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami. Ya Allah kami memohon kebaikan dan ketaqwaan dalam safar kami dan keridhaan dalam amalan kami. Ya Allah mudahkanlah safar kami ini. Lipatlah jauhnya jarak safar ini. Ya Allah Engkaulah yang menyertai kami dalam safar ini, dan pengganti yang menjaga keluarga kami. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kesulitan safar ini, dari pemandangan yang menyedihkan, serta dari tempat kembali yang buruk baik dalam perkara harta dan perkara keluarga” (HR. Muslim no. 1342).

Wallahu a’lam.

Advertisements