Beredar tulisan dari sebagian tokoh Islam liberal bahwa bunga bank bukanlah riba menurut pendapat si Fulan dan si Alan.

Kita katakan bahkan para ulama besar Ahlussunnah di dunia yang kompeten dalam masalah fikih dan ekonomi Islam telah bersepakat bahwa bunga bank itu merupakan riba dan haram hukumnya.

Ibnu Munzir rahimahullah mengatakan:

أَجْمَعَ كُلُّ مِنْ نَحْفَظُ عَنْهُ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ عَلَى إبْطَالِ الْقِرَاضِ إذَا شَرَطَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا لِنَفْسِهِ دَرَاهِمَ مَعْلُومَةً

“Para ulama yang pendapatnya dianggap telah bersepakat tentang batilnya akad hutang jika dipersyaratkan salah satu atau kedua pelakunya untuk menambahkan sejumlah dirham tertentu” (Al Mughni, 5/28).

Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts wal Ifta Saudi Arabia menegaskan:

الفائدة التي تأخذها البنوك من المقترضين، والفوائد التي تدفعها للمودعين عندها، هذه الفوائد من الربا الذي ثبت تحريمه بالكتاب والسنة والإجماع

“Bunga yang diambil bank dari para penghutang, dan bunga yang diberikan kepada para nasabah wadi’ah (tabungan) di bank, maka semua bunga ini termasuk riba yang telah valid keharamannya berdasarkan Al Qur’an As Sunnah dan ijma” (Fatawa Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts wal Ifta juz 13, no. 3197, hal. 349).

Para ulama dalam Majma’ Al Fiqhil Islami dalam muktamar ke-3 di Amman tanggal 8-13 Safar 1407H diantaranya menetapkan:

بخصوص أجور خدمات القروض في البنك الإسلامي للتنمية:

أولاً: يجوز أخذ أجور عن خدمات القروض على أن يكون ذلك في حدود النفقات الفعلية. ثانياً: كل زيادة على الخدمات الفعلية محرمة لأنها من الربا المحرم شرعاً

“Mengenai biaya jasa hutang-piutang di bank-bank Islam yang digunakan untuk pengembangan, maka rinciannya:
Pertama: dibolehkan mengambil biaya administrasi hutang-piutang sesuai dengan nafaqat fi’liyyah (effort dalam mengurus administrasi)
Kedua: setiap tambahan untuk jasa hutang-piutang hukumnya haram karena termasuk riba yang diharamkan syariat”

Demikian juga Majma’ Al Fiqhil Islami dalam muktamar ke-2 di Jeddah tanggal 10-16 Rabiuts Tsani 1406H diantaranya menetapkan:

إن كل زيادة (أو فائدة) على الدَّين الذي حل أجله، وعجز المدين عن الوفاء به مقابل تأجيله، وكذلك الزيادة (أو الفائدة) على القرض منذ بداية العقد: هاتان الصورتان رباً محرم شرعاً.

“Setiap tambahan (atau bunga) kepada hutang yang telah jatuh temponya, namun penghutang belum bisa melunasinya sehingga didenda sebagai imbalan dari penundaannya, atau juga tambahan (atau bunga) terhadap hutang yang dikenakan sejak awal akad, kedua bentuk ini termasuk riba yang diharamkan syariat”.

Para ulama dalam Majma’ Al Buhuts Al Islami di Mesir pada Muktamar ke-2 di Kairo tahun 1385H diantaranya menetapkan:

أولاً: الفائدة على أنواع القروض كلها ربا محرم، لا فرق في ذلك بين ما يسمى بالقرض الاستهلاكي، وما يسمى بالقرض الإنتاجي؛ لأن نصوص الكتاب والسنة في مجموعها قاطعة في تحريم النوعين.

ثانياً: كثير الربا وقليله حرام، كما يشير إلى ذلك الفهم الصحيح في قوله تعالى: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَأْكُلُواْ الرِّبَا أَضْعَافاً مُّضَاعَفَةً وَاتَّقُواْ اللّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ} [آل عمران:130].

Pertama: Bunga bank dengan berbagai jenisnya semuanya riba yang haram. Tidak ada bedanya baik dinamakan qardh istihlaki (pinjaman konsumtif) atau qardh intaji (pinjaman produktif), karena nash-nash Al Qur’an dan As Sunnah mengharamkan semuanya secara tegas termasuk kedua jenis tersebut

Kedua: Riba yang banyak ataupun sedikit semuanya haram. Inilah pemahaman yang benar dari firman Allah Ta’ala (yang artinya): “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan” (QS. Ali Imran: 130)”

Maka jangan dengarkan syubhat dari orang-orang liberal yang sudah menjadi kebiasaan mereka menghalalkan yang sudah jelas haramnya, dan mengharamkan yang sudah jelas halalnya.

Dan mereka senantiasa menghembuskan syubhat-syubhat di tengah masyaratkat sehingga kaum Muslimin menjadi rancu dan ragu lagi terhadap agamanya yang sudah terang-benderang.

Semoga Allah memberi taufik.

Advertisements