Syaikh Musthafa Al ‘Adawi dalam kitab Mafatihul Fiqhi fid Diin membuat judul bab:

مسائل يسع المسلمون فيه الخلاف

“Masalah-masalah khilafiyah yang kaum Muslimin (para ulama) bersikap longgar (toleran)”

Diantaranya masail yang beliau bawakan adalah masalah qunut subuh.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz ketika ditanya mengenai masalah qunut subuh beliau menjawab yang rajih adalah tidak bolehnya merutinkan qunut pada shalat subuh kecuali ketika terjadi nazilah. Kemudian beliau katakan:

هذا ليس تبديعاً للشافعي ولكن من باب تحري الأرجح من الأقوال، من باب تحري الأرجح لأن من قال: إنه بدعة احتج بحديث طارق بن أشيم الأشجعي ومن زعم أنه سنة ومستحب احتج بأحاديث أخرى فيها ضعف والأخذ بالشيء الثابت في الصحيح أولى وأحق عند أهل العلم مع عدم التشنيع على من قنت فإن هذه المسألة مسألة خفيفة لا ينبغي فيها التشنيع والنزاع وإنما يتحرى فيها الإنسان ما هو الأفضل والأقرب إلى السنة

“Ini bukan berarti kita memvonis bid’ah kepada Imam Asy Syafi’i, namun ini dalam rangka memilih pendapat yang lebih rajih dari pendapat-pendapat yang ada. Karena ulama yang berpendapat bahwa qunut subuh secara rutin itu bid’ah berdalil dengan hadits Thariq bin Asyim Al Asyja’i. Dan yang berpendapat bahwa perbuatan tersebut sunnah berdalil dengan hadits-hadits yang lain yang terdapat kelemahan. Dan mengambil hadits yang shahih itu lebih utama dan lebih tepat bagi para ulama. Namun tanpa disertai celaan kepada orang yang berpendapat sunnahnya qunut subuh. KARENA MASALAH INI ADALAH MASALAH YANG LONGGAR, tidak semestinya ada saling mencela dan saling cekcok. Ini adalah masalah yang seseorang memilih pendapat yang menurutnya lebih mendekati sunnah Nabi” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi, https://binbaz.org.sa/fatwas/10393).

Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhali juga mengatakan:

إذا صلى الإمام وقنت فاقنت معه ،مخالفة الإمام للمأموم حتى لو يرى أن صلاة الإمام ليست بصحيحة في مذهبه ؛هي صحيحة في مذهب هذا الإمام ولكنها ليست صحيحة عندك ؛صلّ وراءه

“Jika imam membaca doa qunut di shalat shubuh, maka ikutilah dia. Walau anda sebagai ma’mum berpendapat berbeda. Bahkan jika anda sebagai ma’mum menganggap shalat sang imam itu tidak sah menurut mazhab anda, namun sah menurut mazhab sang imam, anda tetap boleh berma’mum kepadanya”

Beliau juga mengatakan:

ولشيخ الإسلام ابن تيمية كلام :أنك تصلي وراء الإمام إذا كنت تختلف أنت وإياه في قضية ؛ترى أن عنده باطل ،صلاته ليست صحيحة لكن هو عنده أصول وعنده أدلة ؛يرى أن صلاته صحيحة ،فصل ّوراءه

“Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah juga memiliki pendapat dalam hal ini: “Jika anda bermakmum pada imam yang memiliki perbedaan pendapat dengan anda dalam masalah sah atau tidaknya shalat. Lalu anda berpendapat bahwa shalat yang dilakukannya itu tidak sah, namun ia memiliki hujjah dan dalil bahwa shalat yang ia lakukan sudah sah, maka anda boleh bermakmum kepadanya”” (http://www.rabee.net/ar/articles.php?cat=11&id=276).

Kita lihat bahwa para ulama ahlussunnah yang tidak diragukan kekokohannya ternyata bersikap longgar dalam hal ini.

Maka hendaknya para penuntut ilmu juga bersikap longgar dalam masalah-masalah yang para ulama bersikap longgar.

Wallahu a’lam

Advertisements