Diantara landasan manhaj Ahlussunnah yang disebutkan Imam Ahmad dalam Ushulus Sunnah adalah:

والسمع والطاعة للأئمة وأمير المؤمنين البَـرّ والفاجر

“mendengar dan taat kepada para pemimpin dan penguasa yang Mukmin, baik ia shalih maupun fajir (ahli maksiat)”

Para Imam Ahlussunnah melarang khuruj kepada para pemimpin Muslim, dan khuruj ini ada beberapa bentuk. Syaikh Shalih Al Fauzan mengatakan:

الخروج أنواع منه الخروج بالكلام إذا كان يحث على الخروج ويرغب بالخروج على ولي الأمر هذا خروج ولو ما حمل السلاح؛ بل ربما يكون هذا أخطر من حمل السلاح، الذي ينشر فكر الخوارج ويرغب فيه هذا أخطر من حمل السلاح، يكون الخروج بالقلب أيضا إذا لم يعتقد ولاية ولي الأمر وما يجب له ويرى بغض ولاة الأمور المسلمين هذا خروج بالقلب، الخروج قد يكون بالقلب والنية، قد يكون بالكلام، ويكون بالسلاح أيضا

“Khuruj (tidak taat dan memberontak) kepada penguasa ada beberapa bentuk. Diantaranya dengan perkataan, yaitu mendorong orang agar untuk khuruj kepada penguasa, meskipun tidak dengan mengangkat senjata. Bahkan terkadang perbuatan jenis ini lebih berbahaya dari mengangkat senjata. Karena menyebarkan pemahaman Khawarij (untuk tidak taat dan memberontak pada penguasa) itu lebih berbahaya dari mengangkat senjata kepada penguasa.

Khuruj juga bisa berupa perbuatan hati, yaitu dengan tidak meyakini sahnya kekuasaan penguasa Muslim tersebut, meyakini tidak wajib mentaatinya, serta membencinya. Ini adalah khuruj dengan hati. Jadi, khuruj kepada penguasa bisa jadi dengan hati dan niat dalam hati, bisa pula dengan lisan dan terkadang dengan senjata juga” (Sumber: http://www.alfawzan.af.org.sa/node/14223).

Advertisements