Dibolehkan bagi lelaki untuk tidak menghadiri shalat jama’ah di masjid lalu ia shalat di rumahnya jika ada masyaqqah (kesulitan) seperti hujan, adanya angin, udara sangat dingin atau semacamnya.

Dari Ibnu Umar radhiallahu’anhuma:

كَانَ يَأْمُرُ مُؤَذِّنًا يُؤَذِّنُ ، ثُمَّ يَقُولُ عَلَى إِثْرِهِ ‏‏: ” أَلَا صَلُّوا فِي ‏‏الرِّحَالِ ‏” فِي اللَّيْلَةِ الْبَارِدَةِ أَوْ الْمَطِيرَةِ فِي السَّفَرِ

Dahulu Nabi memerintahkan muadzin beradzan lalu di akhirnya ditambahkan lafadz /shalluu fii rihaalikum/ (shalatlah di rumah-rumah kalian) ketika malam sangat dingin atau hujan dalam safar” (HR. Bukhari no. 616, Muslim no. 699).

Dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu’anhu:

أَنَّهُ ‏قَالَ لِمُؤَذِّنِهِ فِي يَوْمٍ مَطِيرٍ : إِذَا قُلْتَ : أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ، أَشْهَدُ أَنَّ ‏ ‏مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ‏، ‏فَلَا تَقُلْ : حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ ، قُلْ ‏: ‏صَلُّوا فِي بُيُوتِكُمْ

“Ibnu Abbas berkata kepada muadzin: ketika hari hujan, maka setelah mengucapkan /asyhadu allaa ilaaha illallah/ jangan ucapkan /hayya ‘alash shalah/ namun ucapkan /shalluu fii buyuutikum/ (shalatlah di rumah-rumah kalian)” (HR. Bukhari no. 632, Muslim no. 697).

Dari Jabir bin Abdllah radhiallahu’anhu, ia berkata:

خرجنا مع رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ في سفرٍ . فمُطِرْنا . فقال ” ليُصلِّ من شاء منكم في رَحْلِه “

Kami pernah safar bersama Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, lalu turunlah hujan. Beliau besabda: ‘bagi kalian yang ingin shalat di rumah dipersilakan‘” (HR. Muslim no. 698).

Asy Syaukani membawakan hadits-hadits ini dalam bab:

باب الأعذار في ترك الجماعة

“Udzur-udzur yang membolehkan untuk tidak menghadiri shalat jama’ah”

Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan:

صلوا في بيوتكم إذا كان فيه مشقة على الناس من جهة المطر أو الزلق في الأسواق

Shalatlah di rumah-rumah kalian, maksudnya jika ada masyaqqah (kesulitan) yang dirasakan orang-orang, semisal karena hujan, atau jalan yang licin” (https://www.binbaz.org.sa/noor/5631).

Namun bagi yang berusaha shalat di masjid, itu lebih utama selama tidak membahayakan. Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan:

الصلاة في الرحال رخصة لمن أراد أن يترخص . ومعنى هلموا إلى الصلاة : ندب لمن أراد أن يستكمل الفضيلة ولو بحمل المشقة

“Shalat di rumah itu keringanan bagi siapa yang mau mengambilnya. Makna lafadz /halumma ilas shalah/ (ayo menuju shalat) menunjukkan dianjurkan untuk tetap menyempurnakan keutamaan (untuk shalat di masjid) dengan menghadapi kesulitan yang ada” (dinukil dari Nailul Authar, 1/185-186).

Syaikh Abdul Karim Al Khudhair menjelaskan:

الأصل والعزيمة حي على الصلاة حي على الفلاح، لكن من يشق عليه ارتكاب العزيمة فله رخصة أن يصلي في رحله، ألا صلوا في الرحال في الليلة الباردة، فالبرد القر الشديد القارس، الذي يشق على المصلين

“Asalnya berusaha untuk shalat di masjid itu lebih utama berdasarkan lafadz ‘hayya alas shalah’ (ayo menuju shalat). Namun bagi yang mendapatkan kesulitan jika ia berusaha menuju shalat jama’ah, maka ia mendapat keringanan untuk shalat di rumah, ini berdasarkan lafadz ‘alaa shalluu fii rihaal fi lailatil baaridah’. Al barodu artinya dingin yang ekstrem yang membuat kesulitan orang yang pergi untuk shalat” (Syarah Al Muharrar fil Hadits, 33/16).

Dari dalil-dalil dan penjelasan para ulama di atas bisa kita ambil faedah juga bahwa shalat berjama’ah di masjid bagi laki-laki hukum asalnya wajib ketika tidak ada udzur dan masyaqqah (kesulitan).

Wallahu a’lam.

Advertisements