Fatwa Syaikh Abdurrahman As Suhaim

Soal:

Suatu saat, kami makan daging burung merpati. Karena tulangnya sangat kecil, dia bisa dimakan. Maka saudara saya ada yang berkata: “jangan dimakan! makan tulang binatang itu haram“. Apakah ini benar?

Jawab:

Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman:

وَلا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَذَا حَلالٌ وَهَذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لا يُفْلِحُونَ

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “Ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung” (QS. An Nahl: 116).

Ia juga berfirman:

قُلْ لا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلاَّ أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ أَوْ فِسْقًا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلا عَادٍ فَإِنَّ رَبَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi, karena sesungguhnya semua itu kotor atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barang siapa yang dalam keadaan terpaksa sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang“” (QS. Al An’am: 145).

Bersamaan dengan itu, terdapat hadits-hadits yang mengharamkan makan binatang buas yang memiliki taring, dan burung yang memiliki cakar. Dan juga binatang-binatang lain yang terdapat nash khusus yang mengharamkannya seperti keledai jinak.

Adapun binatang-binatang selain itu maka tetap pada hukum asalnya yaitu mubah. Karena hukum asal segala sesuatu itu mubah. Dan termasuk juga tulang burung, tetap pada hukum asalnya (yaitu mubah).

Dan bahwasanya tulang itu adalah makanan saudara kita dari bangsa jin, ini tidak ada kaitannya. Karena tulang binatang yang disebutkan nama Allah ketika menyembelihnya, walaupun ia makanan kaum jin sebagaimana disebutkan dalam hadits, ini tidak berkonsekuensi hukum haram untuk memakannya. Dan tidak ada dalil larangan memakan tulang.

Barang siapa yang mengklaim haramnya sesuatu, wajib baginya untuk mendatangkan dalil. Jika tidak, maka ia terkena ancaman ayat yang pertama di atas, ia termasuk orang yang mengada-adakan kedustaan atas nama Allah.

Wallahu a’lam.

Sumber: http://www.almeshkat.net/vb/showthread.php?t=39734

***

Fatwa Syaikh Muqbil bin Hadi Al Madkhali

Soal:

Apa hukum memakan tulang? Karena kami mendapati pada ikan tuna terdapat tulang-tulang yang hancur jika dimasak pada suhu tinggi. Sebagaimana sebagian orang juga ada yang memakan tulang ayam. Bagaimana hukumnya?

Jawab:

Saya memandang tidak ada masalahnya memakan tulang. Terutama tulang yang lembut. Jika tulang itu membahayakan, karena ada sebagian tulang yang bahaya bagi usus karena bisa menyebabkan pendarahan pada usus, maka hendaknya dijauhi. Adapun tulang-tulang dan tulang lembut, semisal ingin dihisap atau digerogoti, tidak ada masalah. Namun hendaknya dijauhi yang bisa menimbulkan bahaya bagi usus.

Sumber: http://www.muqbel.net/fatwa.php?fatwa_id=4391

Iklan