Pertanyaan:

Apakah hadits berikut ini shahih? Jika benar bahwa hadits ini shahih, maka kami memohon penjelasan tentang hadits tersebut dari anda wahai Syaikh. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

الرجلَ ليعمل الزمنَ الطويلَ بعمل أهلِ الجنَّةِ ، ثم يُختَمُ له عملُه بعمل أهلِ النَّارِ ، و إنَّ الرجلَ لَيعمل الزمنَ الطويلَ بعملِ أهلِ النَّارِ ثم يُختَمُ [ له ] عملُه بعمل أهلِ الجنَّةِ

Ada seseorang yang ia sungguh telah beramal dengan amalan penghuni surga dalam waktu yang lama, kemudian ia menutup hidupnya dengan amalan penghuni neraka. Dan ada seseorang yang ia sungguh telah beramal dengan amalan penghuni neraka dalam waktu yang lama, lalu ia menutup hidupnya dengan amalan penghuni surga

Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjawab:

Benar, hadits ini shahih. Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari hadits Ibnu Mas’ud radhiallahu’ahu[1].

Maknanya, bahwa seseorang terkadang mengamalkan amalan penghuni surga, yaitu berbagai ketaatan kepada Allah. Namun dalam hatinya ada penyakit hati atau ia terkena penyakit hati, sehingga ia beralih mengamalkan amalan penghuni neraka. Dan ia ditulis sebagai penghuni neraka.

Dalam riwayat yang lain,

إن الرجلَ ليعملَ بعملِ أهلِ الجنةِ، فيما يبدُو للناسِ ، وإنه من أهلِ النارِ, ويعملُ بعملِ أهلِ النارِ ، فيما يبدُو للناسِ ، وهو من أهلِ الجنةِ

Ada seseorang yang ia sungguh telah beramal dengan amalan penghuni surga dalam pandangan orang-orang, namun ia menjadi penghuni neraka. Dan ada seseorang yang ia sungguh telah beramal dengan amalan penghuni neraka dalam pandangan orang-orang, namun ia menjadi penghuni surga”.

Maksudnya, yang tersembunyi dalam hatinya tidak sebagaimana yang nampak. Ia memiliki kemunafikan dan hati yang kotor. Ia menunjukkan amalan-amalan zahir yang baik, namun tidak mengimaninya. Ia menunjukkan hal-hal tersebut, bisa jadi karena riya, atau karena tujuan duniawi yang lain. Kemudian kejelekan dalam hatinya kemudian menguasainya, sehingga ia pun beramal dengan amalan keburukan dan mati di atas keburukan, dan menutup hidupnya dengan amalan keburukan.

Bisa juga yang dimaksud hadits adalah orang yang memang memiliki niat yang shalih dan baik, namun ia melakukan maksiat dan keburukan di akhir hidupnya. Sehingga ia ditulis sebagai orang yang buruk.

Bisa juga yang dimaksud hadits adalah orang yang murtad, wal ‘iyyadzu billah, disebabkan karena kepepet, atau karena mencela agama, atau karena membantu orang musyrik melawan kaum Muslimin, sehingga ia menjadi penghuni neraka. Karena ia keluar dari Islam setelah melakukan pembatal-pembatal keislaman seperti mencela Islam, atau mencela Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, membantu orang kafir dalam melawan kaum Muslimin, mengejek agama Islam, dan semisalnya yang dapat membuat seseorang murtad. Nas ‘alullah al ‘afiyah was salamah.

Demikian juga, terkadang seseorang mengamalkan amalan keburukan dalam jangka waktu yang panjang. Kemudian Allah memberi hidayah ia kepada Islam sehingga ia mati di atas Islam dan ia masuk surga. Sebagaimana terjadi pada Umar bin Al Khathab dan sejumlah para sahabat Nabi. Mereka dahulu berada dalam kekafiran dan kesesatan, kemudian Allah memberinya hidayah dan lalu masuk Islam. Bahkan sebagian mereka hidup di atas Islam hanya sebentar atau beberapa hari saja, karena Allah wafatkan mereka atau mereka mati syahid. Maka mereka masuk surga walaupun mayoritas kehidupannya selama di dunia didominasi oleh kekufuran dan kesesatan. Namun Allah beri mereka hidayah kepada Islam dan mati di atas Islam.

Model yang pertama benar-benar terjadi, dan model yang kedua juga benar-benar terjadi. Dan Allah itu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui, Ia Maha Suci dan Maha Tinggi.

***

Sumber: http://www.binbaz.org.sa/noor/9506

[1] HR. Al Bukhari no. 2898, 4282, Muslim no. 112, 2651

Faidah:

Dengan mengetahui hal ini hendaknya seseorang senantiasa terus istiqamah berada dalam ketaatan dan dalam kebenaran, hingga ajal menjemputnya. Jangan teralihkan kepada maksiat dan jalan kesesatan, karena bisa jadi ketika itu diambil nyawanya dan ia ditulis sebagai orang yang buruk. Wal ‘iyyadzu billah. Jangan tertipu dengan banyaknya amalan dan hebatnya amalan, senantiasalah merasa kurang dan senantiasa takut terkena penyakit nifaq. Semoga Allah memberi taufiq.

Advertisements