Soal:

Mengenai aqiqah untuk anak yang masih hidup, kapan waktu pelaksanaannya yang paling utama?

Syaikh Shalih Al Fauzan menjawab:

الأفضل يوم سابعه، هذا هو الأفضل المنصوص عليه. فإن تأخرت عن ذلك فلا بأس بذلك. ولا حدَّ لآخر وقتها إلا أن بعض أهل العلم يقول: إذا كبر المولود يفوت وقتها، فلا يرى العقيقة عن الكبير، والجمهور على أنه لا مانع من ذلك حتى ولو كبر.

Yang paling utama adalah hari ke tujuh, ini lah yang paling utama sebagaimana yang terdapat dalam nash[1]. Jika ditunda dari hari ke tujuh, maka tidak mengapa. Dan tidak ada batasan akhir usia dibolehkannya menunda aqiqah.

Namun sebagian ulama berpendapat, jika masa kecil sudah dilewati, maka tidak disyariatkan lagi aqiqah untuk orang yang sudah dewasa. Namun jumhur ulama berpendapat bahwa tidak mengapa aqiqah untuk orang yang sudah terlewat masa kecilnya, walaupun ia sudah dewasa.

Sumber: https://ar.islamway.net/fatwa/10873

___

[1] Berdasarkan hadits dari Samurah bin Jundub radhiallahu’anhu, bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

الغلامُ مرتهنٌ بعقيقِته يُذبح عنه يومَ السابعِ، ويسمَّى، ويحلقُ رأسه

Seorang anak itu tergadai dengan aqidahnya, disembelih hewan sembelihan baginya pada hari yang ke tujuh, lalu ia diberi nama dan dicukur kepalanya” (HR. At Tirmidzi no. 1522, ia mengatakan: “hasan shahih”).

Iklan