Terkadang kita melihat ada sebagian lelaki yang menggulung celananya ketika hendak shalat. Namun di luar shalat, mereka membiarkan pakaian atau celananya menjulur lebih dari mata kaki. Nampaknya mereka berkeyakinan bahwa isbal hanya terlarang ketika shalat. Benarkah keyakinan tersebut?

Hukum isbal

Isbal artinya menjulurkan pakaian melebihi mata kaki. Isbal terlarang dalam Islam, hukumnya minimal makruh atau bahkan haram. Banyak sekali dalil dari hadits Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam yang mendasari hal ini.

Dalil seputar masalah ini ada dua jenis:

Pertama, mengharamkan isbal jika karena sombong.

Nabi shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda:

من جر ثوبه خيلاء ، لم ينظر الله إليه يوم القيامة . فقال أبو بكر : إن أحد شقي ثوبي يسترخي ، إلا أن أتعاهد ذلك منه ؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : إنك لن تصنع ذلك خيلاء . قال موسى : فقلت لسالم : أذكر عبد الله : من جر إزاره ؟ قال : لم أسمعه ذكر إلا ثوبه

Barangsiapa menjulurkan pakaiannya karena sombong, tidak akan dilihat oleh Allah pada hari kiamat. Abu Bakar lalu berkata: ‘Salah satu sisi pakaianku akan melorot kecuali aku ikat dengan benar’. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: ‘Engkau tidak melakukan itu karena sombong’.Musa bertanya kepada Salim, apakah Abdullah bin Umar menyebutkan lafadz ‘barangsiapa menjulurkan kainnya’? Salim menjawab, yang saya dengan hanya ‘barangsiapa menjulurkan pakaiannya’. ”. (HR. Bukhari 3665, Muslim 2085)

 

لا ينظر الله يوم القيامة إلى من جر إزاره بطراً

Pada hari Kiamat nanti Allah tidak akan memandang orang yang menyeret kainnya karena sombong” (HR. Bukhari 5788)

Kedua, hadits-hadits yang mengharamkan isbal secara mutlak baik karena sombong ataupun tidak.

Nabi shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda:

ما أسفل من الكعبين من الإزار ففي النار

Kain yang panjangnya di bawah mata kaki tempatnya adalah neraka” (HR. Bukhari 5787)

ثلاثة لا يكلمهم الله يوم القيامة ولا ينظر إليهم ولا يزكيهم ولهم عذاب أليم المسبل والمنان والمنفق سلعته بالحلف الكاذب

Ada tiga jenis manusia yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari Kiamat, tidak dipandang, dan tidak akan disucikan oleh Allah. Untuk mereka bertiga siksaan yang pedih. Itulah laki-laki yang isbal, orang yang mengungkit-ungkit sedekah dan orang yang melariskan barang dagangannya dengan sumpah palsu”. (HR. Muslim, 106)

 

مَرَرْتُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفِي إِزَارِي اسْتِرْخَاءٌ فَقَالَ: يَا عَبْدَ اللَّهِ ارْفَعْ إِزَارَكَ! فَرَفَعْتُهُ. ثُمَّ قَالَ: زِدْ! فَزِدْتُ. فَمَا زِلْتُ أَتَحَرَّاهَا بَعْدُ. فَقَالَ بَعْضُ الْقَوْمِ: إِلَى أَيْنَ؟ فَقَالَ: أَنْصَافِ السَّاقَيْنِ

Aku (Ibnu Umar) pernah melewati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sementara kain sarungku terjurai (sampai ke tanah). Beliau pun bersabda, “Hai Abdullah, naikkan sarungmu!”.  Aku pun langsung menaikkan kain sarungku. Setelah itu Rasulullah bersabda, “Naikkan lagi!” Aku naikkan lagi. Sejak itu aku selalu menjaga agar kainku setinggi itu.” Ada beberapa orang yang bertanya, “Sampai di mana batasnya?” Ibnu Umar menjawab, “Sampai pertengahan kedua betis.” (HR. Muslim no. 2086)

Dari dalil-dalil di atas, para ulama sepakat haramnya isbal karena sombong dan berbeda pendapat mengenai hukum isbal jika tanpa sombong.

Syaikh Alwi bin Abdil Qadir As Segaf hafizhahullah berkata:

“Para ulama bersepakat tentang haramnya isbal karena sombong, namun mereka berbeda pendapat jika isbal dilakukan tanpa sombong dalam 2 pendapat:

Pertama, hukumnya boleh disertai ketidak-sukaan (baca: makruh), ini adalah pendapat kebanyakan ulama pengikut madzhab yang empat.

Kedua, hukumnya haram secara mutlak. Ini adalah satu pendapat Imam Ahmad, yang berbeda dengan pendapat lain yang masyhur dari beliau. Ibnu Muflih berkata : ‘Imam Ahmad Radhiallahu’anhu Ta’ala berkata, yang panjangnya di bawah mata kaki tempatnya adalah neraka, tidak boleh menjulurkan sedikitpun bagian dari pakaian melebihi itu. Perkataan ini zhahirnya adalah pengharaman’ (Al Adab Asy Syari’ah, 3/492). Ini juga pendapat yang dipilih Al Qadhi ‘Iyadh, Ibnul ‘Arabi ulama madzhab Maliki, dan dari madzhab Syafi’i ada Adz Dzahabi dan Ibnu Hajar Al Asqalani cenderung menyetujui pendapat beliau.  Juga merupakan salah satu pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, pendapat madzhab Zhahiriyyah, Ash Shan’ani, serta para ulama di masa ini yaitu Syaikh Ibnu Baaz, Al Albani, Ibnu ‘Utsaimin. Pendapat kedua inilah yang sejalan dengan berbagai dalil yang ada.

Dan kewajiban kita bila ulama berselisih yaitu mengembalikan perkaranya kepada Qur’an dan Sunnah. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” (QS. An Nisa: 59). Dan dalil-dalil yang mengharamkan secara mutlak sangat jelas dan tegas” (Sumber : http://www.dorar.net/art/144 ).

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah mengatakan:

فإن كان مسبلاً خيلاء فإن عقوبته ألا ينظر الله إليه يوم القيامة، ولا يزكيه، وله عذاب أليم، وإن كان قد نزل إزاره إلى ما تحت الكعب من غير خيلاء فإنه يعذب: “ما أسفل من الكعبين من الإزار ففي النار”، ولهذا كان إنزال الثوب والسروال والمشلح إلى ما تحت الكعبين حراماً بكل حال

“Jika seseorang isbal karena sombong, maka hukumannya adalah Allah tidak akan melihatnya di hari kiamat dan tidak akan mensucikannya dan baginya adzab yang pedih. Jika ia melakukan isbal tanpa bermaksud sombong, maka ia diadzab. Sebagaimana hadits: ‘Kain yang panjangnya di bawah mata kaki tempatnya adalah neraka‘. Maka isbal pada pakaian, celana, atau kain yang melebihi mata kaki hukumnya haram dalam semua keadaan” (Sumber: https://ar.islamway.net/fatwa/16843).

Isbal dalam shalat

Setelah kita mengetahui hukum isbal, bahwa isbal itu hukumnya haram dalam semua keadaan, maka ini mencakup isbal di dalam shalat maupun di luar shalat. Namun ada satu pertanyaan, apakah isbal dalam shalat berpengaruh pada shalat yang dilakukan?

Syaikh Sa’ad bin Turki Al Khatslan hafizhahullah menjelaskan:

“Para ulama berbeda pendapat mengenai pengaruh isbal terhadap shalat, baik isbal karena sombong ataupun tanpa sombong. Ada 2 pendapat dalam masalah ini:

Pendapat pertama: ulama Hanabilah, Syafi’iyyah, dan Malikiyyah dan pendapat yang kuat dari Hanafiyah, mereka berpendapat bahwa shalatnya tetap sah namun berdosa

Pendapat kedua: shalatnya tidak sah, ini adalah pendapat Ibnu Hazm.

Beliau juga menjelaskan: “para ulama yang mengatakan pendapat pertama beralasan dengan bahwa larangan isbal tidak khusus terkait dengan shalat, dan juga tidak terkait dengan syarat-syarat shalat, maka tidak berpengaruh pada keabsahan shalat sebagaimana jika seseorang shalat dengan imamah dari sutra”.

Adapun Ibnu Hazm, berdalil dengan sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu,

بينما رجلُ يصلي مسبلاً إزاره إذ قال له رسول الله صلى الله عليه وسلم: ” اذهب فتوضأ ” فذهب فتوضأ ثم جاء ثم قال : ” اذهب فتوضأ ” فذهب فتوضأ ثم جاء. فقال له رجل : يا رسول الله : ما لك أمرته أن يتوضأ ؟ فسكت عنه ثم قال : ” إنه يصلي وهو مسبل إزاره وأن الله تعالى لا يقبل صلاة رجلٍ مسبل

Ada seorang lelaki yang shalat dalam keadaan musbil (yang melakukan isbal). Lalu Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: ‘pergilah wudhu lagi’. Maka ia pergi untuk wudhu lagi, namun Nabi bersabda: ‘pergilah wudhu lagi’. Lalu ia pergi untuk wudhu lagi kemudian ia datang dan bertanya: ‘wahai Rasulullah, mengapa anda menyuruh saya berwudhu?’. Nabi diam sejenak lalu bersabda: ‘Sesungguhnya ia shalat dalam keadaan isbal kainnya, sesungguhnya Allah Ta’ala tidak menerima shalat orang yang isbal’” (HR. Abu Daud no. 543).

Syaikh Sa’ad bin Turki Al Khatslan menjelaskan: “pendalilan dengan hadits ini memiliki cacat dari segi sanad dan matan. Adapun dari segi sanad, cacatnya adalah hadits ini lemah. Karena di dalamnya ada perawi yang majhul yaitu Abu Ja’far, seorang lelaki penduduk Madinah yang tidak diketahui namanya”.

Beliau juga mengatakan: “adapun dari segi matan, telah kami jelaskan bahwa penafian diterimanya shalat jika digandengkan dengan suatu maksiat, maka maksudnya bukan penafian keabsahan, namun penafian pahala”.

Setelah memaparkan panjang-lebar semua pendalilan dari masing-masing pendapat, Syaikh Sa’ad berkesimpulan: “setelah memaparkan dua pendapat ulama dalam masalah ini dan dalil-dalilnya, yang nampak lebih kuat bagiku -wallahu a’lam- adalah pendapat pertama yaitu tetap sahnya shalat orang yang musbil tapi tetap berdosa. Ini dikarenakan kuatnya dalil-dalil pendapat pertama dan selamatnya ia dari cacat. Dan karena lemahnya dalil-dalil pendapat kedua dan ia tidak selamat dari cacat” (diringkas dari Al Isbal fil Libar Atsaruhu ‘ala Sihhatis Shalah, http://www.islaamlight.com/index.php?option=content&task=view&id=11318).

Anti-isbal hanya dalam shalat saja?

Setelah kita pahami bersama pemaparan di atas, dapat kita simpulkan:

  1. Isbal terlarang dalam semua keadaan, baik dalam shalat maupun di luar shalat
  2. Isbal di dalam shalat tidak mempengaruhi keabsahan shalat

Maka dari sini kita dapat simpulkan bahwa tidak perlu mengkhususkan shalat untuk tidak isbal karena baik dalam shalat maupun di luar shalat, hukumnya tetap haram dan pelakunya berdosa (jika sudah mengetahui hukumnya). Maka tidak tepat keyakinan bahwa terlarangnya isbal hanya ketika shalat saja, bahkan isbal ketika shalat tidak mempengaruhi keabsahan shalat.

Kecuali orang yang berkeyakinan bahwa ketika shalat ia ingin menghadap Allah dalam keadaan terbaik dan jauh dari perkara yang diharamkan, sedangkan di luar shalat ia tidak memiliki keyakinan ini. Tentu ini keliru, karena baik di dalam shalat maupun di luar shalat, Allah Maha Melihat apa yang ia lakukan.

Wallahu a’lam bis shawab.

 

 

Iklan