Yang dimaksudkan adalah ulama, kajian dan ustadz yang dakwahnya mengajak untuk kembali kepada sunnah Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Istilah seperti ini biasa digunakan para ulama, sebagaimana mereka sering menyebut istilah “ulama sunnah”.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan:

فالقائلون بأن الإيمان قول من الفقهاء كحماد بن أبي سليمان وهو أول من قال ذلك، ومن اتبعه من أهل الكوفة وغيرهم متفقون مع جميع علماء السنة

“orang-orang yang mengatakan bahwa iman itu cukup perkataan dari kalangan fuqoha adalah Hammad bin Sulaiman, dan ia fuqoha yang pertama kali mengatakannya dan para pengikutnya dari penduduk Kufah, adapun selain mereka sepakat dengan seluruh ULAMA SUNNAH” (Al Iman, 1/233)

Adz Dzahabi rahimahullah mengatakan:

ويحق لكل صاحب سنة أن يفخر بما تركه علماء السنة من تراث عظيم حوى منهج أهل الحق

“layak bagi seluruh pengikut sunnah untuk berbangga atas apa yang ditinggalkan para ULAMA SUNNAH yaitu warisan yang agung berupa manhaj ahlul haq” (Al ‘Arsy, 1/12)

Ibnu Abil Izz Al Hanafi rahimahullah mengatakan:

وَلَكِنَّ الْمَشْهُورَ مِنِ اسْتِعْمَالِ هَذَا اللَّفْظِ عِنْدَ عُلَمَاءِ السُّنَّةِ الْمَشْهُورِينَ: أَنَّهُمْ لَا يُرِيدُونَ بِنَفْيِ التَّشْبِيهِ نَفْيَ الصِّفَاتِ

“yang masyhur di kalangan para ULAMA SUNNAH yang masyhur dalam penggunakan istilah ini: bahwa mereka tidak memaksudkan penafian tasybih itu dengan penafian sifat” (Syarah Thahawiyah, 1/74)

As Safarini rahimahullah mengatakan:

ثُمَّ بَيَّنَ لَهُمْ عُلَمَاءُ السُّنَّةِ بِالْقَوَاعِدِ الْكَلَامِيَّةِ مَعْقُولِيَّةَ مَا أَنْكَرُوا

“.. kemudian para ULAMA SUNNAH menjelaskan kepada mereka dengan kaidah-kaidah ilmu kalam yang logis untuk membantah apa yang mereka ingkari… ” (Lawami’ Al Anwar, 1/71).

Abu Buthain rahimahullah mengatakan:

وينبغي على طالب النجاة والسلامة أن يتحرى علماء السنة، ولا يغامر بدينه مع علماء الفرق المبتدعة من الصوفية وغيرهم

“sudah semestinya para pencari keselamatan untuk mencari ULAMA SUNNAH, dan tidak menyerahkan agamanya kepada ulama firaq (firqah-firqah menyimpang), ulama mubtadi’ dari kalangan sufiyah dan lainnya” (Ar Radd ‘alal Burdah, 5).

dan masih banyak lagi…

Maksudnya adalah untuk membedakan mana ulama, ustadz dan kajian yang mengajak kepada Sunnah Nabi, bukan mengajak kepada politik, kepada harta dunia, kepada golongannya, kepada partainya, kepada tradisinya, kepada hal-hal lainnya selain Allah dan Rasul-Nya.

Tentu saja penggunana istilah demikian bukanlah vonis bid’ah atau pun vonis makruh kepada orang lain, sangat jauh. Masalah vonis bid’ah juga hukum makruh itu ada pada bab yang berbeda.

Dan kepada para da’i, jika memang ingin dikenal sebagai da’i sunnah, maka segera hentikan ajakan anda kepada partai anda, hentikan ajakan anda kepada golongan anda, hentikan ajakan anda kepada tradisi anda, ajaklah manusia kepada Allah, jadilah da’i ilallah dengan mengajarkan manusia Sunnah Nabi-Nya.

Wallahu a’lam

Iklan