Pertanyaan:

Shahihkah kisah yang pernah kami dengar dalam Sirah Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam bahwa beliau memiliki tetangga Yahudi dan Nabi berbuat baik kepadanya? Sebab saya pernah membaca bahwa kisah ini tidak shahih.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Munajjid menjawab:

Alhamdulillah,

Pertama:

Kisah yang disebutkan tersebut mengenai Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam yang bertetangga dengan seorang Yahudi memang terdapat dalam beberapa kitab hadits:

عن بريدة رضي الله عنه قال :( كنا جلوسا عند رسول الله صلى الله عليه وسلم ، فقال : اذهبوا بنا نعود جارنا اليهودي . قال : فأتيناه ، فقال : كيف أنت يا فلان ؟ فسأله ، ثم قال : يا فلان ، اشهد أن لا إله إلا الله ، وأني رسول الله . فنظر الرجل إلى أبيه ، فلم يكلمه ، ثم سكت ثم قال وهو عند رأسه ، فلم يكلمه ، فسكت ، فقال : يا فلان ، اشهد أن لا إله إلا الله ، وأني رسول الله . فقال له أبوه : اشهد له يا بني . فقال : أشهد أن لا إله إلا الله ، وأنك رسول الله . فقال : الحمد لله الذي أعتق رقبة من النار )

Dari Buraidah radhiallahu’anhu ia berkata: “kami pernah duduk di sisi Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, kemudian beliau bersabda: ‘ayo pergi bersamaku untuk mengunjungi tetanggaku seorang Yahudi’. Lalu kami mendatanginya (Yahudi tersebut). Nabi berkata kepadanya: ‘Bagaimana kabarmu wahai Fulan?’. Lalu Nabi berbicara dengannya, hingga beliau bersabda: ‘Wahai Fulan, bersyahadatlah bahwa tiada sesembahan yang haq kecuali Allah dan bahwasanya aku adalah Rasulullah’. Lalu lelaki Yahudi tersebut memandang ayahnya dan tidak berbicara apapun. Lalu ia berbisik sesuatu dengan ayahnya lalu diam. Nabi bersabda kembali: ‘Wahai Fulan, bersyahadatlah bahwa tiada sesembahan yang haq kecuali Allah dan bahwasanya aku adalah Rasulullah’. Ayahnya lalu berkata: ‘wahai anakku, bersyahadatlah’. Lalu lelaki Yahudi tersebut berkata: ‘Aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq kecuali Allah dan bahwasanya engkau adalah Rasulullah’. Nabi bersabda: ‘Segala puji bagi Allah yang telah membebaskan ia dari api neraka‘”

Diriwayatkan oleh Ibnus Sunni dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah (no. 553), bab “Apa yang dikatakan ketika menjenguk Ahlul Kitab yang sakit“, sanadnya lemah.

Kisah ini juga terdapat dalam hadits dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu yang diriwayatkan oleh Al ‘Uqaili dalam Adh Dhu’afa Al Kabir (2/242), dan sanadnya lemah juga. Al ‘Uqaili mengatakan: “Kisah ini diriwayatkan dengan jalan yang lain yang kualitas sanadnya lebih bagus dari ini”.

Juga terdapat dalam hadits dari Anas bin Malik radhiallahu’anhu yang diriwayatkan oleh Al Jauzaqani dalam Al Abathil wal Manakir (2/195). Ad Daruquthi menguatkan bahwa riwayat ini lebih tepatnya dikatakan mursal dan bukan musnad dari Anas bin Malik radhiallahu’anhu (lihat Al ‘Ilal karya Ad Daruquthni [12/31-32]).

Juga terdapat dalam hadits dari Ibnu Abi Husain yang diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dalam Al Mushannaf (6/34-35, 10/315-316) dan Ibnu Abi Husain (nama aslinya adalah Umar bin Sa’id bin Abi Husain) adalah termasuk shighar tabi’in. Beliau tidak berjumpa dengan seorang pun dari sahabat Nabi (lihat Tahdzibut Tahdzib, 7/453), Maka sanadnya mursal munqathi‘.

Kesimpulannya, sanad-sanad dari kisah ini semuanya lemah, tidak ada yang shahih sama sekali.

Dan perlu kami peringatkan tentang ziyadah (tambahan) atas kisah ini yang banyak disebutkan orang-orang di masa sekarang, yaitu bahwasanya tetangga Nabi seorang Yahudi tersebut biasa mengganggu Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, biasa melemparkan kotoran dan duri-duri di jalan menuju rumahnya Nabi. Yang benar, ziyadah ini tidak ada asalnya sama sekali dari kitab-kitab sunnah (kitab hadits). Dan tidak pernah disebutkan oleh seorang ulama pun. Ziyadah ini hanya populer di kalangan orang-orang sekarang, lebih tepatnya di kalangan para penceramah dan motivator, tanpa menyebutkan rujukan dan tanpa sanad. Dan seorang Muslim hendaknya hanya menerima khabar yang shahih dan maqbul.

Lebih lagi dalam matan ziyadah ini terdapat nakarah (sisi kemungkaran). Yaitu bahwasanya sangat mustahil ada seorang Yahudi yang menjadi tetangga Nabi dan selalu menganggu Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam tanpa ada penentangan dan pembelaan dari para sahabat Nabi.

Kedua:

Faktor lain yang menguatkan batilnya ziyadah tersebut, yaitu bahwa si tetangga tersebut biasa menganggu Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, adanya hadits lain selain hadits di atas yang menceritakan hal sebaiknya.

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : كَانَ غُلَامٌ يَهُودِيٌّ يَخْدُمُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَمَرِضَ ، فَأَتَاهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعُودُهُ ، فَقَعَدَ عِنْدَ رَأْسِهِ فَقَالَ لَهُ : أَسْلِمْ !! فَنَظَرَ إِلَى أَبِيهِ وَهُوَ عِنْدَهُ ، فَقَالَ لَهُ : أَطِعْ أَبَا الْقَاسِمِ ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ . فَأَسْلَمَ ، فَخَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَقُولُ : ( الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْقَذَهُ مِنْ النَّارِ ) .

Dari Anas bin Malik radhiallahu’anhu, ia berkata: Ada seorang pemuda Yahudi yang biasa membantu Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Suatu ketika ia sakit. Maka Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam pun menjenguknya, lalu beliau duduk di dekat kepalanya dan mengatakan: “berislamlah anda…”. Lelaki tersebut lalu memandang ke arah ayahnya yang ada di sisinya. Ayahnya mengatakan: “Turuti perkataan Abul Qasim Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam!”. Lalu pemuda itupun masuk Islam. Nabi Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam pun keluar seraya berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah membebaskannya dari neraka“”.

Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad (13565), Al Bukhari (1356), Abu Daud (3095).

Dalam hadits ini disebutkan bahwa pemuda Yahudi tersebut biasa membantu Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Bahkan dalam sebagian riwayat, sebagaimana dalam Musnad Ahmad (12381), disebutkan bahwa:

كَانَ يَضَعُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَضُوءَهُ وَيُنَاوِلُهُ نَعْلَيْهِ

ia biasa membawakan air untuk wudhu Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dan mengambilkan sandal beliau“.

Maka dari mana dikatakan bahwa ia biasa menganggu Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam? Dan pernyataa bahwasanya pemuda Yahudi biasa membantu Nabi bukanlah hal yang mustahil karena memang ia adalah tetangga Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam.

Wallahu a’lam.

***

Diterjemahkan dari: https://islamqa.info/ar/154589

Iklan