Pertanyaan:

Apa hukum memelihara anjing? Apakah menyentuh anjing itu membuat tangan kita ternajisi? Dan bagaimana membersihkan wadah-wadah yang terjilat olehnya?

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menjawab:

Memelihara anjing tidak diperbolehkan kecuali untuk beberapa tujuan yang diberi kelonggaran oleh syariat. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam memberi kelonggaran memelihara anjing untuk 3 tujuan:

  1. Anjing untuk menjaga hewan ternak dari serangan singa atau serigala
  2. Anjing untuk menjaga ladang
  3. Anjing untuk berburu yang hasil buruannya dimanfaatkan

Ini tiga jenis anjing yang diberi keringanan oleh Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam untuk memeliharanya. Selain tiga jenis ini maka tidak diperbolehkan.

Oleh karena itu maka rumah yang berada di tengah kota, tidak ada kebutuhan untuk memelihara anjing penjaga. Maka memelihara anjing untuk tujuan demikian termasuk yang tidak diperbolehkan dan membuat pemiliknya berkurang terus pahalanya satu qirath atau dua qirath setiap harinya[1]. Maka hendaknya mereka melepaskan anjing tersebut dan tidak memeliharanya.

Adapun jika rumah tersebut berada di daerah yang sepi tidak ada rumah di sekitarnya, maka boleh memelihara anjing penjaga untuk menjaga rumah dan penghuninya. Dan menjaga penghuni rumah dalam keadaan ini lebih darurat daripada menjaga binatang ternak dan ladang.

Adapun menyentuh anjing, jika bukan dalam keadaan lembab maka ia tidak menajiskan tangan. Namun jika dalam keadaan lembab maka itu menajiskan menurut pendapat banyak ulama. Dan wajib untuk mencucinya sebanyak tujuh kali salah satunya dengan tanah.

Adapun wadah-wadah yang terjilat olehnya (yaitu yang digunakan untuk minum anjing) wajib untuk mencucinya tujuh kali salah satunya dengan tanah. Sebagaimana hadits dalam Shahihain dan dalam kitab hadits lain, dari hadits Abu Hurairah radhiallahu’anhu, dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:

إذا ولغ الكلب في إناء أحدكم فليغسله سبعاً إحداها بالتراب

Jika anjing menjilat pada bejana kalian, maka cucilah sebanyak tujuh kali dan salah satunya dengan tanah“.

Dan yang paling baik, penggunaan tanah adalah pada cucian yang pertama. Wallahu a’lam.

Sumber: http://ar.islamway.net/fatwa/12199

***

[1] Berdasarkan dua hadits berikut:

Dari Abu Hurairah radhiallahu’ahu, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

مَنْ أَمْسَكَ كَلْبًا فَإِنَّهُ يَنْقُصُ كُلَّ يَوْمٍ مِنْ عَمَلِهِ قِيرَاطٌ إِلا كَلْبَ حَرْثٍ أَوْ مَاشِيَةٍ

barangsiapa yang memelihara anjing, maka berkurang pahala amalan kebaikan yang ia miliki setiap harinya satu qirath. Kecuali anjing untuk menjaga ladang dan ternak” (HR. Bukhari no. 2145).

Dari Abu Hurairah radhiallahu’ahu, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

مَنْ اقْتَنَى كَلْبًا لَيْسَ بِكَلْبِ صَيْدٍ وَلا مَاشِيَةٍ وَلا أَرْضٍ فَإِنَّهُ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِهِ قِيرَاطَانِ كُلَّ يَوْمٍ

Barangsiapa yang memelihara anjing, yang bukan untuk berburu atau menjaga ternak atau menjaga ladang, maka berkurang pahala kebaikannya setiap hari dua qirath” (HR. Muslim no. 2974).

Tentang ukurang qirath, terdapat dalam hadits Tsauban radhiallahu’anhu, ia berkata:

سئل النبيُّ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ عن القيراطِ ؟ فقال : مثلُ أحدٍ

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam ditanya mengenai qirath. Beliau menjawab: semisal gunung Uhud” (HR. Muslim no. 946).

Advertisements