Pertanyaan:

Bolehkah menggugurkan kandungan di awal-awal kehamilan?

Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan menjawab:

إذا كان الغرض من إسقاط الحمل هو كراهية الحمل وعدم إرادته فهذا لا يجوز. أما إذا كان لضرورة بأن يُخشى على حياة الحامل لو بقي وكان في طور النطفة أو العلقة فلا بأس بإسقاطه إذا قرر ذلك هيئة طبية موثوقة

Jika menggugurkan kandungan tersebut dikarenakan tidak suka dengan kehamilannya atau tidak menginginkan untuk hamil, maka ini tidak diperbolehkan. Adapun jika karena darurat, semisal dikhawatirkan sang ibu hamil mendapatkan bahaya jika janin tersebut tetap ada di perutnya, baik janin tersebut masih jadi nutfah (calon janin) atau ‘alaqah (janin hidup), maka tidak mengapa menggugurkannya. Hal ini juga sebagaimana ditetapkan oleh Hai’ah Thibbiyyah (Lembaga Perserikatan Dokter) yang terpercaya

Sumber: http://ar.islamway.net/fatwa/11666

***

Pertanyaan:

Apa hukum menggugurkan janin sebelum berusia 40 hari? Apakah itu berdosa? Jika iya, apa kafarahnya?

Syaikh Abdul Karim Al Khudhair menjawab:

جمع من أهل العلم يرون أنه لا بأس بإسقاطه قبل الأربعين بدواء مباح، والذي أميل إليه -وهو ما يراه آخرون من أهل العلم- أنه مادام استقرت هذه النطفة في رحم المرأة فإنها لا تُسْقَط إلا لحاجة، فإذا كان قد جاء النهي عن العزل مع أنه جاء «كنا نعزل والقرآن ينزل» [البخاري: 5207]، فالنهي عن الإسقاط من باب أولى

Sejumlah ulama berpendapat bahwa tidak mengapa mengugurkan janin sebelum 40 hari dengan menggunakan obat yang mubah. Namun pendapat yang lebih aku cenderungi adalah pendapat yang lain dari para ulama, bahwasanya selama nutfah (calon janin) ini masih ada di dalam rahim maka tidak boleh digugurkan kecuali jika ada kebutuhan. Karena terdapat larangan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam untuk melakukan ‘azl (mengeluarkan sperma di luar ketika berjima’), walaupun ada hadits: “Kami (para sahabat) melakukan azl ketika Al Qur’an masih turun” (HR. Bukhari no. 5207), maka larangan menggugurkan janin itu lebih terlarang lagi.

فإذا استقرت النطفة في رحم المرأة فإنها لا تُسْقَط إلا لحاجة، نعم الحاجة قد تكون أيسر من حاجة الإلقاء بعد الأربعين، حيث يشتد الأمر بعد الأربعين إلى نفخ الروح، فيباح إذا تضررت المرأة وخُشيَ عليها، وإلا فلا يجوز إسقاطها بحال بعد الأربعين، أما قبل الأربعين فالأمر أخف، لكن عندي أنها لا تُسْقَط إلا لحاجة وداعٍ لذلك

Maka selama nutfah (calon janin) ini masih ada di dalam rahim maka tidak boleh digugurkan kecuali jika ada kebutuhan. Demikian . Karena jika memang ada kebutuhan maka perkaranya lebih ringan dibandingkan jika harus menggugurkannya setelah 40 hari. Ketika sudah 40 hari perkaranya lebih berat karena sudah ditiupkan ruh. Maka ketika itu (setelah 40 hari) dibolehkan menggugurkannya jika memang dikhawatirkan bisa membahayakan sang ibu. Namun jika tidak ada kekhawatiran bahaya maka tidak boleh menggugurkan bayi setelah 40 hari. Adapun sebelum 40 hari, perkaranya lebih ringan, namun pendapat yang saya kuatkan, tidak boleh mengugurkannya kecuali ada kebutuhan atau ada tuntutan untuk mengugurkannya.

Sumber: http://ar.islamway.net/fatwa/74781

Iklan