Pertanyaan:

Seseorang sudah taubat dari riba, namun ia memiliki harta riba yang banyak. Bagaimana cara melepaskan diri darinya?

Syaikh Abdul Karim Al Khudhair menjawab:

Pertama, riba itu haram berdasarkan Al Qur’an dan As Sunnah serta ijma ulama. Dan riba adalah merupakan dosa besar serta merupakan perkara yang membinasakan. Bertransaksi riba juga berarti mengumumkan perang terhadap Allah dan Rasul-Nya Shallallahu’alaihi Wasallam.

Jika seorang yang bertransaksi riba bertaubat, maka wajib baginya untuk melepaskan diri dari harta riba-nya sehingga yang tersisa hanya modal awalnya saja. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

وَإِن تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ

Jika kalian bertaubat (dari riba) maka bagi kalian ru’usul amwal (modal awal) kalian, sehingga kalian tidak menzalimi dan tidak dizalimi” (QS. Al Baqarah: 279).

Para ulama berbeda pendapat mengenai makna ru’usul amwal. Apakah maksud ru’usul amwal di sini adalah modal awal sebelum ada tambahan riba. Ataukah ru’usul amwal di sini adalah seluruh harta yang dimiliki ketika taubat (walaupun ada bagian riba di sana, pent.), dan taubat menghapus semua kesalahan yang ada sebelumnya. Namun harta yang didapatkan yang selain ru’usul amwal tidak boleh memanfaatkannya.

Sebagian ulama mengatakan ru’usul amwal di sini adalah modal awal yang dimasukkan dalam transaksi (sebelum ada tambahan riba). Dan sebagian ulama juga mengatakan bahwa ru’usul amwal adalah harta yang ia miliki ketika taubat. Ini adalah masalah khilafiyah di antara para ulama. Namun ‘ala kulli haal, harta tambahan yang selain ru’usul amwal wajib untuk berlepas diri darinya.

Sebagian ulama mengatakan cara berlepas dirinya adalah dengan menyalurkannya pada hal-hal yang bermanfaat namun bukan dengan niat taqarrub. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik. Sebagian ulama mengatakan cara berlepas dirinya adalah dengan menyalurkannya pada hal-hal yang khabits (sifatnya kotor) seperti untuk membuat saluran air limbah, pakan ternak, dan semacamnya. Sebagaimana terdapat dalam hadits Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:

كسب الحجام خبيث

penghasilan tukang bekam itu khabits” (HR. Muslim no. 1568).

Lalu Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

أعلفه ناضحك

gunakan itu untuk memberi makan untamu” (HR. Abu Daud no. 3422).

Dan tidak ragu lagi bahwa harta riba itu lebih kotor dari pada upah bekam. Wallahul musta’an.

***

Sumber: http://ar.islamway.net/fatwa/72368/

Iklan