Berikut ini beberapa fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah seputar hutang puasa yang belum terbayar sedangkan Ramadhan berikutnya sudah akan datang. Semoga bermanfaat.

***

Soal: 

Seorang wanita yang sudah tua, ia melewatkan puasa satu bulan pada tahun sebelumnya karena sakit dan tidak mampu puasa ketika itu. Ia menanyakan tentang bagaimana cara meng-qadha puasanya, namun saat ini ia sudah tidak mampu puasa lagi mengingat kondisi kesehatannya.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjawab:

إن كانت لا تستطيع القضاء لمرضها، فعليها القضاء بعد الشفاء، وتمهَل لقول الله سبحانه وتعالى: وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ، أما إن كانت لا تستطيع لكبر سنها وضعف بدنها، وعجزها عن الصبر عن الطعام والشراب إلى الليل، فإنها تطعم عن كل يوم مسكينًا، ولا شيء عليها، والحمد لله.

Jika ia tidak mampu meng-qadha puasa karena sakit, maka ia wajib meng-qadha-nya setelah sembuh. Berdasarkan firman Allah Ta’ala:

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain” (QS. Al Baqarah: 184).

Adapun jika ia tidak mampu meng-qadha puasa karena usianya sudah renta dan badannya sudah lemah, dan sudah tidak bisa lagi menahan diri dari tidak makan dan minum sampai malam, maka ia (membayar fidyah dengan) memberi makan orang miskin satu makanan untuk satu hari yang ditinggalkan, dan tidak ada kewajiban lainnya. Walillahil hamd.

(Fatawa Nurun ‘alad Darbi, 16/323, s.id/jSi).

***

Soal:

Bolehkah meng-qadha puasa Ramadhan pada sepuluh hari terakhir bulan Sya’ban atau sebelumnya bagi wanita?

Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjawab:

لا حرج بالنسبة للمرأة والرجل جميعًا، يجوز تأخير القضاء إلى شعبان، كما تفعله عائشة رضي الله عنها، ولأن الله جل وعلا قال: فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ . فلم يقل في كذا ولا في كذا، ولم يقل يجب المبادرة، فدل هذا على الإرجاء، فإذا قضى أيام رمضان في شوال، في ذي العقدة، في ذي الحجة، في محرم، في صفر، إلى آخره ليس فيه مانع.

Hal tersebut boleh bagi wanita ataupun lelaki. Dibolehkan mengakhirkan qadha puasa Ramadhan hingga Sya’ban, sebagaimana pernah dilakukan ‘Aisyah radhiallahu’anha. Karena Allah Jalla wa ‘Ala berfirman:

فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain” (QS. Al Baqarah: 184).

Dan Allah tidak mengatakan: “qadha-lah pada hari ini dan itu” atau “jangan qadha pada hari ini dan itu”. Dan Allah juga tidak mengatakan untuk segera meng-qadha-nya. Maka ini menunjukkan bolehnya menunda qadha. Tidak mengapa meng-qadha puasa di bulan Syawal, di bulan Dzulqa’dah, Muharram, Shafar, dan bulan-bulan lainnya.

(Fatawa Nurun ‘alad Darbi, 16/318, s.id/jSP).

***

Soal:

Samahatus Syaikh, seorang wanita memiliki hutang puasa Ramadhan selama 5 hari, lalu datang bulan Ramadhan selanjutnya dan ia belum sempat meng-qadha puasa 5 hari tersebut. Apa yang semestinya ia lakukan? Dan apa kewajiban yang mesti ia tunaikan?

Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjawab:

عليها أن تقضيها بعد العيد بالنية عن رمضان السابق، وعليها إطعام مسكين عن كل يوم زيادة، إذا كانت أخرتها تساهلاً، إطعام مسكين نصف صاع عن كل يوم، تعطاها بعض الفقراء عن الخمسة الأيام، مع التوبة إلى الله، والندم والإقلاع والاستغفار؛ لأنها أخطأت في تأخيرها أما إذا كان أخرتها لمرض عجز، أو رضاع عجز هذا تقضيها ولا عليها شيء.

Wajib baginya untuk meng-qadha puasa tersebut setelah Idul Fitri, dengan niat meng-qadha puasa Ramadhan yang terdahulu. Dan sebagai tambahan, wajib juga baginya untuk (membayar fidyah dengan) memberi makan orang miskin satu makanan untuk setiap harinya. Jika terlambatnya qadha puasa tersebut karena ia lalai, maka ada tambahan membayar fidyah dengan memberi makan 1/2 sha’ untuk setiap hari yang ditinggalkan, yang ia berikan kepada 5 orang fakir.

Juga disertai taubat kepada Allah, menyesal, bertekad tidak mengulangi lagi, dan memohon ampunan kepada Allah. Karena ia telah berbuat kesalahan dengan terlambat meng-qadha-nya.

Adapun jika ia terlambat meng-qadha-nya karena sakit yang membuat ia tidak mampu puasa, atau karena menyusui yang membuat ia tidak bisa puasa, ia hanya cukup meng-qadha saja dan tidak ada kewajiban lain.

(Fatawa Nurun ‘alad Darbi, 16/320, s.id/jTH).

***

Soal:

Bagaimana hukum syar’i terhadap seorang yang menunda qadha hutang puasa hingga lewat Ramadhan berikutnya karena suatu udzur, dan seorang yang lain yang menunda qadha hutang puasa hingga lewat Ramadhan berikutnya tanpa udzur?

Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjawab:

من أخَّره بعذر شرعي كالمرض ونحوه فلا حرج عليه؛ لقول الله سبحانه: وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ، وقوله سبحانه: فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ . أما من أخَّر ذلك لغير عذر فقد عصى ربه، وعليه التوبة من ذلك مع القضاء، وإطعام مسكين لكل يوم، مقداره نصف صاع من قوت البلد من أرز أو غيره، ومقداره بالوزن كيلو ونصف تقريبًا، ويدفع ذلك إلى بعض الفقراء، ولو واحدًا قبل الصيام أو بعده. والله ولي التوفيق.

Orang yang menundanya karena udzur syar’i seperti sakit atau semacamnya maka tidak mengapa. Berdasarkan firman Allah Ta’ala:

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain” (QS. Al Baqarah: 184).

dan firman Allah Ta’ala:

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu” (QS. At Taghabun: 16).

Adapun yang menundanya tanpa udzur maka ia telah bermaksiat kepada Rabb-nya. Ia wajib bertaubat dari perbuatan demikian dan tetap wajib meng-qadha-nya. Serta memberi makan satu orang miskin untuk setiap hari yang ditinggalkan, dengan kadar 1/2 sha’ berupa makanan pokok di negerinya, semisal beras atau selainnya. Atau beratnya sekitar 1,5 kilogram. Diberikan kepada orang-orang miskin, walaupun hanya satu hari yang ditinggalkannya. Diberikan sebelum ia puasa atau setelahnya. Wallahu waliyyut taufiq.

(Fatawa Nurun ‘alad Darbi, 16/320, s.id/jUL).

***

Soal:

Penanya bertanya tentang qadha puasa Ramadhan, yang ia pernah tidak berpuasa karena nifas dan haid, bolehkah ia meng-qadha-nya satu-per-satu? Jika hutang puasanya belum lunas hingga datang Ramadhan lagi, bagaimana hukumnya? Jazaakumullah khayran.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjawab:

الواجب عليها القضاء ولو غير متتابعة ولو مفرقة لا بأس ، لأن الله يقول: وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ، هكذا النفساء والحائض تقضي، لكن لا بأس أن تفرق، تصوم يومًا وتفطر يومًا لا حرج، ولا يجوز تأخيره إلى رمضان بل يجب البدار حتى يصام قبل رمضان، وإذا أخرت حتى جاء رمضان آخر، ثم قضت فإن عليها التوبة، وعليها القضاء، وعليها إطعام مسكين عن كل يوم زيادة، ثلاثة أمور: عليها التوبة إلى الله، والندم، وعليها القضاء، وعليها إطعام مسكين عن كل يوم، إذا كان التأخير هذا بغير عذر، إذا كان مع القدرة ما عندها مانع، ما عندها مرض يمنعها، ولا عذر لكن أخرت تساهُلاً، فعليها القضاء والتوبة وإطعام مسكين عن كل يوم، نصف صاع عن كل يوم، يجمع ويعطى على عدد الفقراء بعدد الأيام، كيلو ونصف من طعام البلد

Wajib baginya untuk meng-qadha walaupun tidak berurutan, walaupun harinya terpisah-pisah tidak mengapa. Karena Allah Ta’ala berfirman:

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain” (QS. Al Baqarah: 184).

Demikian juga wanita yang nifas dan haid, mereka meng-qadha puasanya. Tidak mengapa jika harinya terpisah-pisah. Misalnya hari ini ia puasa, esoknya tidak puasa, ini tidak mengapa.

Tidak boleh menunda qadha puasa hingga datang Ramadhan berikutnya, bahkan wajib bersegera meng-qadha-nya sebelum Ramadhan. Jika ia menundanya hingga datang Ramadhan berikutnya, maka wajibnya baginya untuk bertaubat, dan tetap meng-qadha serta memberi makan satu orang miskin untuk setiap hari yang ia tinggalkan sebagai tambahan. Jadi ada tiga hal yang wajib baginya: taubat kepada Allah, qadha, dan memberi makan satu orang miskin untuk setiap hari yang ia tinggalkan. Ini jika penundaan tersebut tanpa udzur, dalam keadaan ia mampu meng-qadha-nya, tidak ada penghalang, ia tidak sakit, dan tidak ada udzur lainnya, namun ia demikian karena lalai, maka wajib baginya qadha, taubat dan memberi makan satu orang miskin untuk setiap hari yang ia tinggalkan. Sekadar 1/2 sha’ untuk setiap hari yang ditinggalkan. Dikumpulkan dan diberikan kepada orang-orang miskin sesuai jumlah hari yang ditinggalkan. Atau berupa 1,5 kilogram makanan pokok di negerinya.

(Fatawa Nurun ‘alad Darbi, 16/320, s.id/jUO).

Advertisements