Fatwa Syaikh Abdul Karim Al Khudhair

Soal:

Apa makna huruf ha’ (ح) yang diletakkan sebagian ahli hadits di tengah-tengah penulisan sanad dalam kitab-kitab mereka, seperti pada Shahih Bukhari dan Shahih Muslim dan selainnya? Dan yang membuat saya bingung adalah Imam Muslim meletakkan tanda tersebut setelah menyebutkan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Dan pada tempat yang lain beliau meletakannya pada bagian dari matan, jadi apa makna tanda tersebut?

Jawab:

Huruf ha’ (ح) ini memang disebutkan para ulama dalam kitab-kitab ilmu hadits. Dan tidak ragu lagi memang tanda ini terdapat dalam Shahih Muslim dengan jumlah yang banyak. Demikian juga dalam Sunan Abi Daud. Dan juga terdapat dalam kitab-kitab sunan yang lain seperti Shahih Al Bukhari dan lainnya. Namun dalam Shahih Muslim dan Sunan Abi Daud jumlahnya paling banyak. Karena dalam kedua kitab ini tanda huruf ha’ (ح) sering disebutkan beberapa kali dalam satu hadits. Dan ia digunakan pada titik pertemuan antara beberapa sanad, untuk meringkas sanad-sanadnya, dan disebut juga dengan ha’ tahwil.

Diantara ulama juga ada yang berpendapat bahwa huruf ha’ (ح) ini artinya: hadits. Semisal mereka ingin menyebutkan: “hadits” (الحديث) lalu mereka meningkatnya lalu menulisnya: ha’ (ح). Dan dalam Shahih Al Bukhari sebagian ada yang mengira-ngira bahwa tanda tersebut asalnya kho’ (خ) sehingga maksudnya penulis, yaitu Al Bukhari, memaksudkan bahwa sanad tersebut kembali kepadanya.

Dan tanda ini juga ada di tengah-tengah sanad, untuk menyingkat sanad.  Dan juga diletakkan pada pertemuan dua sanad dari sanad-sanad yang ada. Untuk tahwil (berpindah) dari satu sanad ke sanad yang lain. Jadi fungsinya adalah untuk penyingkatan sanad jika ada di tengah-tengah sanad, sebagaimana yang dilakukan Imam Muslim, Abu Daud dan selainnya.

Namun jika ia terdapat di akhir sanad, seakan-akan Al Bukhari menyebutkan sanadnya secara keseluruhan sampai Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam lalu menyebutkan ha’ (ح) lalu menyebutkan sanad yang lain, disini Al Bukhari ingin menyebutkan:

  • Al Hadits (الحديث) yang merupakat istilah yang mugharabah (jarang digunakan). Karena dalam hal ini tidak ada penyingkatan sanad, sebab sanad sudah disebutkan secara sempurna. Dan sanad yang disebutkan setelahnya juga sempurna. Maka tidak ada penyingkatan di sini. Juga tidak ada tahwil (perpindahan) dari satu sanad kepada sanad yang lain.
  • Menyebutkan kho’ (خ) yang ini menurut sebagian ulama maksudnya adalah sanad tersebut kembali kepada sang penulis, yaitu Al Bukhari. Lalu beliau menyebutkan sanad lain dari Syaikh yang lain.

Intinya, kebanyakan penggunaan tanda ha’ (ح) ini adalah untuk tahwil (perpindahan) dari satu sanad ke sanad yang lain. Dan gunanya, sebagaimana yang telah kami jelaskan, adalah untuk penyingkatan sanad. Dan biasanya dilafalkan dengan “ha” saja ketika mengucapkannya, misalnya: “ha.. wa haddatsana..“, demikian pengucapan yang biasanya dilakukan para ahli hadits. Mereka menyebutkan hal ini dlaam kitab-kitab ilmu hadits.

***

Sumber: http://ar.islamway.net/fatwa/72909