Pertanyaan:

Orang yang ketiduran sehingga terlewat shalat shubuh, dan ia mengerjakannya setelah matahari terbit. Hal itu dikarenakan ia selalu pergi bekerja (hingga malam hari). Jika ia dinasehati agar tidak demikian, ia menyanggah: “hadits mengatakan bahwa pena diangkat dari tiga orang, diantaranya orang yang tertidur hingga terbangun“, padahal ia menjadikan telat shalat subuh itu sebagai kebiasaan.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah menjawab:

Tanyakan kepada orang ini: “jika pekerjaanmu jam kerjanya dimulai setengah jam setelah waktu subuh, apakah kamu akan bangun dari tidurmu ataukah akan berdalil ‘hadits mengatakan bahwa pena diangkat dari tiga orang‘?”. Tentu dia akan menjawab: “saya akan bangun”. Maka katakanlah kepadanya: “jika untuk urusan duniawimu engkau akan bangun dari tidurmu, mengapa untuk urusan akhiratmu engkau tidak bangun?”.

Kemudian mengenai orang yang tertidur sehingga terlewat shalat shubuh itu termasuk “orang yang diangkat pena darinya” jika ia tidak memiliki orang lain yang dapat membangunkan dia, atau sarana lain yang dapat membuat ia terbangun. Adapun orang yang memiliki orang lain yang dapat membangunkan dia, atau sarana lain yang dapat membuat ia terbangun, seperti jam beker, atau semacamnya, namun ia tidak mengusahakannya, maka ia tidak diberi udzur.

Maka wajib baginya untuk bertaubat kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan lebih bersungguh-sungguh lagi dalam menegakkan shalat subuh secara berjama’ah bersama kaum Muslimin.

***

Sumber: http://islamancient.com/play.php?catsmktba=10306