Pertanyaan:

Terdapat hadits:

أنه لا خير في دين ليس فيه صلاة

tidak ada kebaikan pada agama yang tidak ada ibadah shalatnya

apakah berarti shalat yang ada pada agama-agama terdahulu semisal dengan shalat yang ada pada Islam ataukah berbeda?

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah menjawab:

Mengenai hadits ini saya tidak mengetahuinya, dan saya mengira hadits bahwa ini tidak shahih.  Namun pada agama-agama terdahulu memang terdapat ibadah shalat. Dan memang benar bahwa dalam shalat mereka itu terdapat rukuk dan sujud juga. Berdasarkan firman Allah Ta’ala tentang Nabi Ismail:

وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلاةِ وَالزَّكَاةِ

Dan ia menyuruh keluarganya untuk bersembahyang dan menunaikan zakat, dan ia adalah seorang yang diridhai di sisi Tuhannya” (QS. Maryam: 55).

Dan firman Allah Ta’ala:

يَا مَرْيَمُ اقْنُتِي لِرَبِّكِ وَاسْجُدِي وَارْكَعِي مَعَ الرَّاكِعِينَ

Hai Maryam, taatlah kepada Tuhanmu, sujud dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku‘” (QS. An An’am: 43).

Dan firman Allah setelah menyebutkan beberapa orang Nabi:

إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آيَاتُ الرَّحْمَنِ خَرُّوا سُجَّداً وَبُكِيّاً

Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis” (QS. Maryam: 58).

Ayat-ayat yang semisal ini banyak sekali, dan menunjukkan bahwa shalat itu ada pada syariat-syariat sebelumnya. Karena shalat adalah penghulunya amalan ibadah, dan ia adalah ibadah yang paling utama setelah dua kalimat syahadat. Oleh karena itu pendapat ulama yang rajih (kuat) mengenai orang yang meninggalkan shalat karena lalai dan malas adalah bahwa orang tersebut kafir, murtad dari Islam, dan dihukumi sebagai orang kafir.

***

Sumber: http://islamancient.com/play.php?catsmktba=10295