Soal:

متى يعرف الزوج أن عدم وجودها بكراً من غير الزنا؟

Bagaimana seorang calon suami mengetahui bahwa calon istrinya itu masih perawan dan belum pernah berzina?

Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjawab:

هذا لا يلزم إلا إذا عرف أنها عن فاحشة؛ لأن البكارة قد تزول بالحيض، وقد تزول بأسباب أخرى؛ من الوثبة ونحو ذلك، وقد تكون مكرهة، والمكرهة حكمها حكم من لم تفعل شيئاً، وقد تكون أيضاً لأمر رابع فعلته عن موافقة، ولكن الله تاب عليها، وتحسنت حالها بحسن توبتها وندمها

Ini tidak wajib untuk ditanyakan kecuali jika memang sudah diketahui bahwa ia wanita yang pernah berbuat zina. Karena terkadang tanda keperawanan itu hilang karena haid, dan terkadang juga karena sebab yang lainnya. Atau terkadang juga karena dipaksa (baca: diperkosa). Wanita yang diperkosa hukumnya seperti wanita yang tidak melakukan apa-apa. Dan memang mungkin saja disebabkan oleh sebab ke empat, yaitu ia melakukan zina dengan sama-sama mau. Namun bisa jadi Allah telah menerima taubatnya dan ia menjadi baik keadaannya dengan taubatnya yang tulus dan juga penyesalannya.

***

Sumber: http://ar.islamway.net/fatawa/category/27

Faedah:

Dari nasehat Syaikh Ibnu Baz diatas dapat diambil faedah bahwa tidak perlu seorang yang melamar itu mempertanyakan wanita yang dilamar masih perawan atau tidak selama kita melihat bahwa keadaannya yang sekarang ia adalah wanita Muslimah yang shalihah yang menegakkan kewajiban-kewajiban agama.

***

Catatan:

Sebagian pembaca salah memahami uraian di atas, mereka memahami bahwa dalam memilih calon istri tidak perlu mencari mempertimbangkan ia wanita baik-baik atau bukan. Tentu bukan demikian yang dimaksud oleh Syaikh. Dalam mencari calon istri tentu wajib menjadi wanita yang shalihah yang menegakkan kewajiban-kewajiban agama, namun dalam proses melamar tidak perlu bertanya “kamu masih perawan atau tidak?“, dengan alasan yang dijelaskan di atas. Mengenai kriteria yang diajarkan Islam dalam memilih pasangan bisa dibaca para artikel “Memilih Pasangan Idaman”.