Telah diketahui bersama bahwa sebagian ulama berpendapat tidak bolehnya mengumumkan waktu yang diperkirakan akan terjadi gerhana kepada masyarakat karena 2 hal:

  1. Waktu yang diumumkan tersebut belum tentu benar, karena hanya berdasarkan perhitungan astronomis atau hisab falakiy. Sedangkan acuan pelaksanaan shalat gerhana berdasarkan dalil-dalil adalah ru’yah.
  2. Membuat hilangnya hikmah dari gerhana yaitu membuat manusia takut akan adzab Allah sehingga mereka bersegera untuk bertaubat

Namun pendapat ini kurang tepat karena:

  1. Waktu yang diumumkan tersebut memang hanya prediksi, bukan acuan pelaksanaan shalat gerhana. Dengan prediksi tersebut orang-orang bisa bersiap untuk melakukan ru’yah dan bersiap untuk shalat. Sehingga acuan pelaksanaan shalat gerhana tetap ru’yah.
  2. Mengumumkan waktu prediksi terjadinya gerhana tidak menghilangkan hikmah dari gerhana yaitu membuat manusia takut akan adzab Allah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan:

فَإِنَّ صَلَاةَ الْكُسُوفِ وَالْخُسُوفِ لَا تُصَلَّى إلَّا إذَا شَاهَدْنَا ذَلِكَ وَإِذَا جَوَّزَ الْإِنْسَانُ صِدْقَ الْمُخْبِرِ بِذَلِكَ أَوْ غَلَبَ عَلَى ظَنِّهِ فَنَوَى أَنْ يُصَلِّيَ الْكُسُوفَ وَالْخُسُوفَ عِنْدَ ذَلِكَ وَاسْتَعَدَّ ذَلِكَ الْوَقْتَ لِرُؤْيَةِ ذَلِكَ كَانَ هَذَا حَثًّا مِنْ بَابِ الْمُسَارَعَةِ إلَى طَاعَةِ اللَّهِ تَعَالَى وَعِبَادَتِهِ

“Shalat gerhana matahari dan gerhana bulan tidak dilakukan kecuali jika kita melihatnya. Atau jika seseorang mendapatkan kabar dari orang yang jujur mengenai hal itu, atau ada prasangka kuat (bahwa akan terjadi gerhana pada suatu waktu) lalu ia meniatkan untuk shalat gerhana dengan dasar hal itu, kemudian ia bersiap-siap untuk melihat gerhana waktu yang dikabari tersebut, maka ini merupakan bentuk dukungan kepada kebaikan, termasuk bab bersegera dalam ketaatan kepada Allah Ta’ala dan beribadah kepada-Nya” (Majmu’ Al Fatawa, 24/254-262, dinukil dari http://www.saaid.net/Doat/Zugail/208.htm).

Dari penjelasan beliau di atas bisa disimpulkan:

  1. Patokan shalat gerhana menurut beliau adalah ru’yah, yaitu penglihatan mata secara langsung terhadap gerhana
  2. Boleh mengumumkan kabar yang terpercaya bahwa pada waktu jam sekian diduga kuat akan terjadi gerhana, sehingga bisa bersiap-siap untuk melihatnya dan melakukan shalat.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah juga menjelaskan bahwa jika gerhana diprediksikan sebelumnya bahwa ia akan muncul pada rentang waktu tertentu, itu tidak menafikan hikmah gerhana yaitu membuat takut manusia terhadap adzab Allah. Beliau mengatakan:

فإذا كان الكسوف له أجل مسمى لم يناف ذلك أن يكون عند أجله يجعله الله سببا لما يقضيه من عذاب غيره لمن يعذب الله في ذلك الوقت، كما أن تعذيب الله لمن عذبه بالريح الشديدة الباردة، كقوم عاد، كانت في الوقت المناسب، وهو آخر الشتاء، كما قد ذكر ذلك أهل التفسير وقصاص الأنبياء

“Jika gerhana diketahui memiliki rentang waktu tertentu, ini tidak menafikan bahwa pada rentang waktu tersebut Allah akan menjadikannya sebab turunnya adzab kepada yang Allah takdirkan untuk diadzab pada waktu tersebut. Sebagaimana Allah pernah mengadzab suatu kaum dengan angin yang sangat dingin, dan adzab Allah kepada kaum Ad, itu semua turun pada waktu tertentu yaitu pada akhir musim dingin. Sebagaimana yang disebutkan oleh para ahli tafsir dan kisah para Nabi” (Majmu’ Al Fatawa, 35/175, dinukil dari http://www.saaid.net/Doat/alsakran/63.htm)

Syaikh Sa’ad bin Turkiy Al Khatslan memberikan rincian yang bagus dalam masalah ini:

والذي نستطيع أن نقول إن المخبر قد يصل إلى درجة القطع في إخباره بوقت الكسوف والخسوف، فربما يقطع السامع بصدق خبر هذا المخبر، وحينئذ فلا بأس بالاستعداد بالكسوف والخسوف وإخبار الناس بذلك، كما حصل قبل ثلاثة أشهر كسوف جزئي للشمس، وكثير من الناس لم يصلوا صلاة الكسوف بسبب أنهم لم يعلموا؛ لأنه كان في وقت غفلة لم يتنبه له كثير من الناس، إخبار الناس قبل ذلك حتى يستعدوا ويتهيئوا للصلاة لا بأس به، بل هو كما قال شيخ الإسلام ابن تيمية: هو من قبيل المسارعة للطاعات .

أما إذا كان ليس وقت غفلة ويغلب على الظن أن أكثر الناس سوف ينتبهوا وسوف يصلون، سوف ينتبهون ويصلون، فالأولى عدم إخبارهم لأجل أن يكون لتلك الآية وقع في نفوسهم، هذا التفصيل هو الذي يظهر في هذه المسألة، والله تعالى أعلم

“yang bisa kami katakan dalam masalah ini, jika pemberi kabar akan terjadinya gerhana telah sampai kepada derajat pasti tentang pengabarannya. Dan orang yang mendengar pun biasanya akan merasa yakin dengan kabar tersebut. Maka tidak mengapa untuk bersiap melihat gerhana matahari dan gerhana bulan serta mengabarkan orang tentang hal itu. Sebagaimana terjadi tiga bulan yang lalu pada kejadian gerhana matahari parsial. Ketika itu kebanyakan orang tidak melaksanakan shalat gerhana karena mereka tidak tahu. Itu disebabkan karena mereka berada dalam masa-masa lalai, kebanyakan orang tidak ngeh sama sekali. Maka mengabarkan orang sebelum terjadinya gerhana sehingga mereka bersiap untuk shalat gerhana, ini tidak mengapa. Bahkan ini sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah: ‘termasuk bab bersegera dalam ketaatan’.

Adapun jika orang-orang tidak dalam masa-masa lalai, dan ada prasangka kuat bahwa mayoritas orang pasti akan menyadari adanya gerhana, dan mayoritas mereka akan melakukan shalat ketika menyadarinya, maka yang lebih utama adalah tidak mengabarkan mereka. Agar pengaruh hikmah dari ayat Allah ini (gerhana) muncul di jiwa mereka. Inilah rincian yang kami pandang lebih tepat dalam masalah ini, wallahu a’lam.” (Syarah Fiqhun Nawazil, http://www.taimiah.org/index.aspx?function=item&id=927&node=2530).

Dan telah kita ketahui bersama bahwa umumnya masyarakat di negeri kita ini masih awam agama, mereka awam terhadap tanda-tanda akan terjadinya gerhana dan awam terhadap tuntunan agama ketika terjadi gerhana, kecuali sedikit orang saja yang sudah memahaminya. Sehingga andai tidak diumumkan, disangka kuat akan sedikit sekali yang menjalankan sunnah shalat gerhana.

Oleh karena itu mengumumkan terjadinya gerhana sebelum terjadinya, sebagaimana yang dilakukan sebagian orang dan juga dilakukan oleh Kementrian Agama -semoga Allah merahmati mereka-, adalah hal yang dibolehkan. Wallahu a’lam.