Seorang saudara, menanggapi komentar saya di artikel “Hukum Asuransi” dengan komentarnya berikut ini:

APABILA ANDA SEORANG DOKTER..TENTU ANDA PAHAM MENGENAI PENYAKIT DAN OBAT
OBATAN

APABILA ANDA SEORANG PILOT..TENTUNYA ANDA PAHAM MENGENAI CARA MENERBANGKAN PESAWAT

APABILA ANDA SEORANG USTADZ ..TENTU ANDA PAHAM MENGENAI AGAMA

APABILA ANDA SEORANG AGEN ASURANSI..TENTUNYA ANDA PAHAM MENGENAI SYTEM DAN
KONSEP ASURANSI

APABILA ANDA SEORANG MUSISI GITARIS TAPI TIDAK PAHAM CARA BERGITAR MAKA
SUARANYA PUN TIDAK ENAK DIDENGARKAN JIKA MEMAINKAN GITAR

NAKH.

HALAL DAN HARAM ITU ADALAH KETETAPAN ALLAH, KETENTUAN YANG SUDAH JELAS, MANA YANG HALAL MANA YANG HARAM

YANG MENGHARAMKAN ASURANSI:

=>APAKAH ANDA SEORANG PENGURUS ASURANSI SYARIAH?? SEHINGGA ANDA
MENGHARAMKANNYA??

APAKAH ANDA SUDAH MEMBACA BUKU MENGENAI FATWA MUI (di toko buku gramedia
ada).

KALO YANG BERHUBUNGAN DENGAN HALAL ATAU HARAMNYA SUATU PRODUK/MERK/SYSTEM
PERUSAHAAN..YANG BERKAITAN DENGAN MASYARAKAT INDONESIA. SUDAH ADA MEREKA MEREKA YANG MENYELIDIKI, MEMPELAJARI, MEMAHAMI TENTANG SEMUA YANG ADA PADA PRODUK/MERK/SYSTEM
PERUSAHAAN.

JIKA PEKERJAAN MEREKA ADALAH SEPERTI ITU.. APAKAH ANDA JUGA SUDAH SAMA
SEPERTI MEREKA.. APA YANG ANDA PELAJARI MENGENAI ASURANSI SYARIAH??

BACA POSTINGAN ANDA SENDIRI !!!!!!!!!!

Alloh Ta’ala berfirman:

قُلْ
إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا
وَمَا بَطَنَ وَاْلإِثْمَ وَالْبَغْىَ
بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَن تُشْرِكُوا بِاللهِ
مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ
سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى
اللهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ

Katakanlah: “Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang
nampak maupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa
alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang
Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan
terhadap Allah apa saja yang tidak kamu ketahui (berbicara tentang Allah tanpa
ilmu)” (Al-A’raf:33)

Allah Ta’ala berfirman:

وَلاَ
تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ
الْكَذِبَ هَذَا حَلاَلٌ وَهَذَا
حَرَامٌ لِّتَفْتَرُوا عَلَى اللهِ الْكَذِبَ
إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللهِ الْكَذِبَ
لاَ يُفْلِحُونَ

Dan janganlah kamu mengatakan terhadapa apa yang disebut-sebut oleh
lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan
terhadap Allah. Sesungguhnya orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap
Allah tiadalah beruntung. (QS. An-Nahl (16): 116)

Rasulullah sholallohu ‘alaihi wassallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ
انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ وَلَكِنْ
يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ
يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu dari hamba-hambaNya
sekaligus, tetapi Dia akan mencabut ilmu dengan mematikan para ulama’.
Sehingga ketika Allah tidak menyisakan seorang ‘alim-pun, orang-orang-pun
mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh. Lalu para pemimpin itu ditanya,
kemudian mereka berfatwa tanpa ilmu, sehingga mereka menjadi sesat dan
menyesatkan orang lain. (HSR. Bukhari no:100, Muslim, dan lainnya)

Allah Ta’ala berfirman:

وَلاَ
تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ
بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ
وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُوْلاَئِكَ كَانَ
عَنْهُ مَسْئُولاً

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan
tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan
diminta pertanggunganjawabnya. (QS. Al-Isra’ : 36)

Allah berfirman:

إِنَّمَا
يَأْمُرُكُم بِالسُّوءِ وَالْفَحْشَآءِ وَأَن تَقُولُوا عَلَى
اللهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ

Sesungguhnya syaithan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji,
dan mengatakan kepada Allah apa yang tidak kamu ketahui. (QS. 2:169)

Semoga Allah merahmati anda wahai saudaraku,

Pertama, saudaraku, seolah anda mengatakan: “ustadz hanya paham agama, yang paham asuransi ya agen asuransi“. Wahai saudaraku, jangan sampai anda berpendapat bahwa para ulama itu ketika menyampaikan hukum syar’i, bahwa mereka tidak paham apa yang mereka bicarakan. Karena menuduh para ulama itu dangkal pikirannya, tidak paham sistem, tidak paham realita, dll itu adalah perilaku jahiliyah. Simak: “Perilaku Jahiliyah: Menganggap Para Ulama Itu Dangkal Pemahamannya

Kedua, kita lihat bagaimana penjelasan para ulama dunia mengenai hal ini. Mungkin anda akan mengatakan, “ah paling itu ulama anda saja“. Oh, bukan… ini para ulama dunia, yang tergabung dalam Majma’ Fiqhil Islami. Simak:

قرار رقم: 9 (9/2)[1]

بشأن

التأمين وإعادة التأمين

إن مجلس مجمع الفقه الإسلامي الدولي المنبثق عن منظمة المؤتمر الإسلامي في دورة انعقاد مؤتمر الثاني بجدة من 10 – 16 ربيع الآخر 1406هـ، الموافق 22 – 28 كانون الأول ( ديسمبر ) 1985م،

بعد أن تابع العروض المقدمة من العلماء المشاركين في الدورة حول موضوع التأمين وإعادة التأمين،

وبعد أن ناقش الدراسات المقدمة،

وبعد تعمق البحث في سائر صوره وأنواعه والمبادئ التي يقوم عليها والغايات التي يهدف إليها،

وبعد النظر فيما صدر عن المجامع الفقهية والهيئات العلمية بهذا الشأن،

قرر ما  يلي:

أولاً:      أن عقد التأمين التجاري ذي القسط الثابت الذي تتعامل به شركات التأمين التجاري عقد فيه غرر كبير مفسد للعقد. ولذا فهو حرام شرعاً.

ثانياً:      أن العقد البديل الذي يحترم أصول التعامل الإسلامي هو عقد التأمين التعاوني القائم على أساس التبرع والتعاون، وكذلك الحال بالنسبة لإعادة التأمين القائم على أساس التأمين التعاوني.

ثالثاً:     دعوة الدول الإسلامية للعمل على إقامة مؤسسات التأمين التعاوني وكذلك مؤسسات تعاونية لإعادة التأمين، حتى يتحرر الاقتصاد الإسلامي من الاستغلال ومن مخالفة النظام الذي يرضاه الله لهذه الأمة.

والله أعلم ؛؛

Ketetapan nomor 9 (9/2), Mengenai asuransi dan reasuransi

Majelis Majma’ Fiqhil Islami yang merupakan bagian dari Organisasi Konferensi Islam (OKI) dalam sesi ke-2 dari konferensi yang diadakan di Jeddah tanggal 10-16 Rabiul Akhir 1406H yang bertepatan dengan 22 – 28 Desember 1985.

Setelah menyimak paparan dari para ulama yang ikut serta dalam konferensi ini, seputar masalah asuransi dan reasuransi,

Dan setelah melakukan diskusi mendalam,

Dan setelah melakukan penelitian mendalam mengenai berbagai bentuk dan jenis asuransi, serta mengenai semua persoalan yang mendukung tujuan pembahasan ini,

Dan setelah menyimak pemaparan dari lembaga-lembaga dan dewan-dewan fiqih mengenai masalah ini,

Maka diputuskan beberapa hal berikut ini:

  1. Akad asuransi tijari (komersil) dengan premi tertentu yang diselenggarakan oleh perusahaan asuransi merupakan transaksi dengan tingkat gharar yang tinggi. Oleh karena itu maka hukumnya haram dalam syariat.
  2. Akad alternatif yang dapat menjaga landasan-landasan muamalah dalam Islam adalah akad asuransi ta’awuni yang dijalankan di atas asas tabarru’ (asas sukarela) dan ta’awwun (asas pertolongan). Demikian juga perihal reasuransi, hendaknya dijalankan di atas asas asuransi ta’awuni.
  3. Hendaknya negara-negara Islam mengajak untuk membentuk lembaga-lembaga asuransi ta’awuni juga lembaga-lembaga reasuransi yang bersifat ta’awuni. Sehingga ekonomi Islam terbebas dari eksploitasi dan dari penyimpangan pada sistemnya, sehingga tercipta sistem yang diridhai oleh Allah bagi umat ini.

Wallahu a’lam.

Sumber: http://www.fiqhacademy.org.sa/qrarat/2-9.htm

ٍSekarang, apa yang dimaksud ta’min ta’awwuni atau asuransi ta’awuni? Simak penjelasan Majma Fiqhil Islami berikut ini:

قرر مجلس المجمع بالإجماع الموافقة على قرار مجلس هيئة كبار العلماء في المملكة العربية السعودية رقم (51) وتاريخ 4/4/ 1397 ه من جواز التأمين التعاوني بدلاً عن التأمين التجاري المحرم والمنوه عنه آنفاً للأدلة الآتية.
الأول:
أن التأمين التعاوني من عقود التبرع التي يقصد بها أصالة التعاون على تفتيت الأخطار، والاشتراك في تحمل المسئولية عند نزول الكوارث، وذلك عن طريق إسهام أشخاص بمبالغ نقدية تخصص لتعويض من يصيبه الضرر، فجماعة التأمين التعاوني لا يستهدفون تجارة، ولا ربحاً من أموال غيرهم، وإنما يقصدون توزيع الأخطار بينهم والتعاون على تحمل الضرر.
الثاني:
خلو التأمين التعاوني من الربا بنوعيه: ربا الفضل، وربا النسأ، فليست عقود المساهمين ربوية، ولا يستغلون ما جمع من الأقساط في معاملات ربوية.
الثالث: أنه لا يضر جهل المساهمين في التأمين التعاوني بتحديد ما يعود عليهم من النفع، لأنهم متبرعون، فلا مخاطرة ولا غرر ولا مقامرة بخلاف التأمين التجاري، فإنه عقد معاوضة مالية تجارية.
الرابع: قيام جماعة من المساهمين، أو من يمثلهم باستثمار ما جمع من الأقساط لتحقيق الغرض الذي من أجله أنشئ هذا التعاون، سواء كان القيام بذلك تبرعاً، أو مقابل أجر معين

Majma Fiqhil Islami sepakat dengan ketetapan Haiah Kibaril Ulama di kerajaan Saudi Arabia no 55 tanggal 4/4/1397 mengenai bolehnya ta’min ta’awuni sebagai alternatif dari ta’min tijari yang diharamkan. Dan disebutkan alasan-alasannya sebagai berikut ini:

  1. Ta’min ta’awuni adalah akad tabarru‘ (hibah) yang murni berniat untuk saling menolong meringankan bebab kerugian, dan ikut andi menanggung beban penderitaan saat terjadi musibah. Dengan cara membayar sejumlah uang tunai yang dikhususkan untuk menggantu kerugian orang yang ditimpa musibah. Maka sekelompok orang yang tergabung dalam ta’min ta’awuni tidak bertujuan komersial, meraup laba dari harta orang lain. Semata-mata tujuan mereka adalah pemerataan resiko di antara mereka dan saling tolong-menolong dan menanggung beban resiko.
  2. Ta’min ta’awuni harus terbebas dari segala bentuk riba. Baik riba fadhl maupun riba nasi’ah. Transaksi para peserta asuransi tidak termasuk akad riba. Dan pengelola tidak akan menggunakan dana yang terhimpun dari para peserta untuk suatu transaksi riba dalam bentuk apapun.
  3. Ketidak-jelasan besarnya klaim ganti rugi yang akan diterima peserta ta’min ta’awuni pada saat akad dilangsungkan tidak mempengaruhi keabsahan akad, karena akad ini adalah akad hibah. Dan gharar dalam akad hibah dibolehkan serta tidak termasuk judi. Berbeda dengan asuransi komersial, akad yang terjadi adalah akad muawadhah (pertukaran) harta.
  4. Oleh sekelompok pemegang saham, atau wakil-wakil dari mereka, dana premi boleh diinvestasikan dalam rangka untuk mencapai tujuan dari lembaga asuransi ta’awuni ini, yaitu untuk mengembangkan kerjasama ta’awun (bukan untuk cari keuntungan). Baik itu dilakukan secara sukarela atau orang yang mengembangkannya diberi gaji tertentu.

Dinukil dari: http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=7394

Sangat jauh dari praktek sebagian perusahaan “asuransi syariah” yang tetap menjadikan asuransi sebagai bisnis bukan ta’awun.

Jadi saudaraku, mohon koreksi saya jika tersalah…