Ketika harga BBM naik, ramai orang mengajukan protes, demonstrasi, bahkan hingga marah dan anarkis. Ketika menuntut kenaikan gaji, pun demikian. Supir angkutan umum kadang saling berkelahi karena rebutan penumpang. Ada juga orang saling bunuh karena masalah patok tanah. Ada pula orang-orang mengantri sembako gratis sampai tidak peduli menginjak-injak orang lain karena khawatir tidak kebagian.

Demikianlah, untuk ‘urusan perut’ ternyata kita (mungkin juga termasuk saya) begitu semangat, reaktif, sensitif dan ambisius. Dibela hingga titik darah penghabisan. Sikut sana, sikut sini, bahkan aturan agama pun sering diterjang demi ‘urusan perut’.

Tapi bagaimana dengan urusan akhirat? Shalat.. malas, baca Qur’an.. jarang, Belajar agama.. nanti, sering melakukan yang diharamkan.. ah ntar juga tobat, Islam direndahkan.. cuek, dipaksa ikut aturan agama lain.. nurut. Ternyata tidak seambisius ketika membela urusan perut? Wallahul musta’an…

Padahal…

Urusan akhirat juga ‘urusan perut’! Perhatikan firman Allah berikut:

وَبَشِّرِ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ كُلَّمَا رُزِقُوا مِنْهَا مِنْ ثَمَرَةٍ رِزْقًا قَالُوا هَذَا الَّذِي رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ

Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezeki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan: “Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu” (QS. Al Baqarah: 25).

مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ فِيهَا أَنْهَارٌ مِنْ مَاءٍ غَيْرِ آسِنٍ وَأَنْهَارٌ مِنْ لَبَنٍ لَمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهُ وَأَنْهَارٌ مِنْ خَمْرٍ لَذَّةٍ لِلشَّارِبِينَ وَأَنْهَارٌ مِنْ عَسَلٍ مُصَفًّى وَلَهُمْ فِيهَا مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ وَمَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ

(Apakah) perumpamaan (penghuni) jannah yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamar yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring; dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Rabb mereka” (QS. Muhammad: 15).

Inilah makanan dan minuman surga yang akan mengisi perut kita, jika Allah memberi hidayah kita agar kita sangat perhatian terhadap urusan akhirat kita.

Perhatikan juga firman Allah berikut:

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ الْكِتَابِ وَيَشْتَرُونَ بِهِ ثَمَنًا قَلِيلا أُولَئِكَ مَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ إِلا النَّارَ وَلا يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak mensucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih” (QS. Al Baqarah: 174).

As Sa’di menjelaskan: “ini adalah ancaman bagi orang yang menyembunyikan apa yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya yaitu berupa ilmu yang Allah jadikan ikatan perjanjian bagi pemiliknya untuk menyampaikannya kepada manusia dan tidak menyembunyikannya, dan juga ancaman bagi orang yang menukar ilmu dengan remah-remah duniawi dengan mengacuhkan perintah Allah” (Tafsir As Sa’di, 82).

Orang sudah tahu aturan agama namun dilanggar demi meraih remah-remah duniawi yang hina, ternyata perutnya terancam diisi api neraka. Jadi ini urusan perut juga!

Perhatikan juga firman Allah:

َذَلِكَ خَيْرٌ نُزُلًا أَمْ شَجَرَةُ الزَّقُّومِ (62) إِنَّا جَعَلْنَاهَا فِتْنَةً لِلظَّالِمِينَ (63) إِنَّهَا شَجَرَةٌ تَخْرُجُ فِي أَصْلِ الْجَحِيمِ (64) طَلْعُهَا كَأَنَّهُ رُءُوسُ الشَّيَاطِينِ (65) فَإِنَّهُمْ لَآكِلُونَ مِنْهَا فَمَالِئُونَ مِنْهَا الْبُطُونَ (66)

(Makanan surga) itukah hidangan yang lebih baik ataukah pohon zaqqum. Sesungguhnya Kami menjadikan pohon zaqqum itu sebagai siksaan bagi orang-orang yang zalim. Sesungguhnya dia adalah sebatang pohon yang ke luar dan dasar neraka yang menyala. Mayangnya seperti kepala syaitan-syaitan. Maka sesungguhnya mereka benar-benar memakan sebagian dari buah pohon itu, maka mereka memenuhi perutnya dengan buah zaqqum itu” (QS. Ash Shaffat: 62-66).

Penduduk neraka itu mengisi perutnya dengan buat zaqqum, buah dari dasar neraka. As Sa’di menjelaskan: “jangan tanya lagi bagaimana rasanya, dan jangan tanya lagi apa yang terjadi dengan lambung dan perut ketika memakannya. dan ini tidak bisa terelakkan dan tidak ada obatnya” (Tafsir As Sa’di, 704). Dijelaskan dalam ayat lain, bagaimana rasanya buah zaqqum ini:

إِنَّ شَجَرَتَ الزَّقُّومِ (43) طَعَامُ الْأَثِيمِ (44) كَالْمُهْلِ يَغْلِي فِي الْبُطُونِ (45) كَغَلْيِ الْحَمِيمِ (46)

Sesungguhnya pohon zaqqum itu,makanan orang yang banyak berdosa. (Ia) sebagai kotoran minyak yang mendidih di dalam perut, seperti mendidihnya air yang amat panas” (QS. Ad Dukhan: 43- 46)

Kalau kita cuek dengan urusan akhirat, bukan tidak mungkin perut kita akan merasakan buah zaqqum itu, nas-alullah as salamah wal afiyah. Jadi ini juga urusan perut!

Urusan akhirat kita menentukan perut kita kelak di akhirat diisi oleh makanan surga yang lezat-lezat ataukah buah zaqqum yang mendidih di dalam perut. Jadi ternyata, urusan akhirat pun urusan perut, mengapa selama ini kita melalaikannya? Dan tidak punya ambisi kepadanya? Dan terlalu lemah untuk mengejarnya? Mengapa kita malah lebih semangat mengurusi urusan perut di dunia saja yang hakikatnya fana dan sementara? Bagaimana dengan perut kita yang kekal kelak? nas-alullah as salamah wal afiyah..