Hadits yang dijadikan dalil disyariatkannya mengadzani bayi ketika lahir ada beberapa hadits. Sebagian ulama menghasankan atau mengshahihkannya, karena saling menguatkan. Sebagian ulama lagi berpendapat hadits-hadits dalam hal ini sangat lemah hingga tidak bisa saling menguatkan. Mari kita ulas secara ringkas masing-masing hadits-nya, sehingga kita bisa melihat mana pendapat yang lebih kuat dan mendekati kebenaran.

Hadits pertama

Dikeluarkan oleh At Tirmidzi dalam Jami’-nya,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ , حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ , وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ , قَالَا : أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ , عَنْ عَاصِمِ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ , عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي رَافِعٍ , عَنْ أَبِيهِ , قَالَ : ” رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَذَّنَ فِي أُذُنِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ حِينَ وَلَدَتْهُ فَاطِمَةُ بِالصَّلَاةِ “

Muhammad bin Basyar menuturkan kepadaku, Yahya bin Sa’id dan Abdurrahman bin Mahdi menuturkan kepadaku, mereka berkata, Sufyan mengabarkan kepadaku, dari ‘Ashim bin ‘Ubaidillah, dari Abdullah bin Abi Rafi’ dari ayahnya (Abu Rafi’), ia berkata: “Aku melihat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam beradzan ditelinga Al Hasan bin Ali ketika Fathimah melahirkannya, seperti adzan untuk shalat”.

Hadits ini yang paling bagus kualitasnya dalam masalah ini. Namun permasalahannya cukup berat, yaitu pada ‘Ashim bin ‘Ubaidillah. Berikut komentar para ulama jarh wat ta’dil terhadap beliau:

  • Al Baihaqi berkata: “dhaif”
  • Abu Hatim Ar Razi berkata: “munkarul hadits, mutharibul hadits, ia tidak punya hadits yang bisa jadi pegangan”
  • Abu Daud As Sijistani berkata: “haditsnya tidak dijadikan hujjah, dan tidak ditulis haditsnya”
  • Abu Zur’ah berkata: “munkarul hadits fil ashl
  • An Nasa’i berkata: “dhaif, ia masyhur dengan kedhaifan”
  • Ahmad bin Shalih Al Jiili berkata: “laa ba’sa bihi”
  • Ibnu ‘Adi berkata: “dha’iful hadits
  • Ibnu Hajar berkata: “dha’if”
  • Ibnu Abi Ashim berkata: “tsiqah”
  • Sufyan bin ‘Uyainah: “ia salah satu Syaikh yang murni haditsnya”
  • Abdurrahman bin Mahdi berkata: “haditsnya munkar yang paling munkar”
  • Ibnu Khuzaimah berkata: “ia tidak bisa menjadi hujjah karena jelek hafalannya”
  • Ibnu Hibban Al Busti berkata: “jelek hafalannya, sering wahm, fatal kesalahannya, dan ia matruk karena banyaknya kesalahan”
  • Al Bukhari berkata: “munkarul hadits”

Bisa jadi ulama yang menguatkan hadits ini menganggap ‘Ashim bin ‘Ubaidillah perawi yang dhaif dari segi hafalan, tidak sampai munkarul hadits, sehingga haditsnya bisa terangkat dengan adanya mutaba’ah. Namun merajihkan pendapat ini sangat sulit, jika melihat jarh yang ada. Maka wallahu a’lam yang tepat bahwa ia adalah perawi yang munkarul hadits dan tidak bisa menjadi hujjah.

Terdapat jalan lain, dikeluarkan oleh Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Kabir,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْحَضْرَمِيُّ ، ثنا عَوْنُ بْنُ سَلامٍ وَجُبَارَةُ بْنُ مُغَلِّسٍ قَالا : ثنا حَمَّادُ بْنُ شُعَيْبٍ ، عَنْ عَاصِمِ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ ، عَنْ عَلِيِّ بْنِ الْحُسَيْنِ ، عَنْ أَبِي رَافِعٍ ، أَنّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” أَذَّنَ فِي أُذُنِ الْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ حِينَ وُلِدَا ، وَأَمَرَ بِهِ “

“Muhammad bin Abdillah Al Hadrami menuturkan kepadaku, ‘Aun bin Salam dan Jubarah bin Mughallis mereka berkata, Hammad bin Syu’aib menuturkan kepadaku, dari Ashim bin Ubaidillah dari Ali bin Hasan dari Abu Rafi bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam beradzan ditelinga Al Hasan dan Al Husain ketika dilahirkan, dan memerintahkannya”

dalam sanad ini juga terdapat Ashim bin Ubaidillah sehingga riwayat ini tidak menguatkan riwayat sebelumnya. Lebih lagi ada masalah lain dalam sanad ini, periwayatan Hammad bin Syu’aib di sini menyelisihi periwayatan Sufyan Ats Tsauri. Padahal Hammad bin Syu’aib statusnya dhai’f. Sedangkan Sufyan Ats Tsauri tsiqah dan lebih banyak jalannya serta lebih bagus kualitasnya.

Ringkasnya, jika kita kuatkan Ashim bin Ubaidillah ini statusnya dhaif (tidak sampai munkarul hadits), maka tetap sangat sulit sekali terangkat dari status hadits dha’if kecuali ada mutaba’ah untuk ‘Ashim bin Ubaidillah atau adanya syahid yang cukup kuat.

Hadits kedua

Dikeluarkan oleh Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman,

أَخْبَرَنَا عَلِيُّ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ عَبْدَانَ ، أنا أَحْمَدُ بْنُ عُبَيْدٍ الصَّفَّارُ ، نا مُحَمَّدُ بْنُ يُونُسَ ، نا الْحَسَنُ بْنُ عُمَرَوْ بْنِ سَيْفٍ السَّدُوسِيُّ ، نا الْقَاسِمُ بْنُ مُطَيَّبٍ ، عَنْ مَنْصُورِ بْنِ صَفِيَّةَ ، عَنْ أَبِي مَعْبَدٍ ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ، أَنّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” أَذَّنَ فِي أُذُنِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ يَوْمَ وُلِدَ ، فَأَذَّنَ فِي أُذُنِهِ الْيُمْنَى ، وَأَقَامَ فِي أُذُنِهِ الْيُسْرَى “

“Ali bin Ahmad bin ‘Abdan mengabarkan kepadaku, Ahmad bin ‘Ubaid Ash Shaffar mengabarkan kepadaku, Muhammad bin Yunus menuturkan kepadaku, Al Hasan bin ‘Amr bin Yusuf bin Saif As Sadusi menuturkan kepadaku, Al Qasim bin Muthayyib menuturkan kepadaku, dari Manshur bin Shafiyyah, dari Abu Ma’bad, dari Ibnu ‘Abbas: Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam adzan di telinga kanan Al Hasan bin Ali pada hari kelahirannya dan iqamah di telinga kirinya”

Masalahnya terdapat pada Al Hasan bin ‘Amr,

  • Al Hakim berkata: “matrukul hadits
  • Abu Hatim Ar Razi berkata: “matruk
  • Ibnu ‘Adi berkata: “ia punya banyak hadits gharib dan banyak hadits hasan, semoga ia tidak mengapa”
  • Ibnu Hajar berkata: “matrukul hadits
  • Ali bin Al Madini berkata: “kadzab (pendusta)”
  • Al Bukhari berkata: “kadzab
  • Muslim bin Hajjaj berkata: “matrukul hadits

maka jelas ia adalah perawi yang minimalnya matruk atau bahkan kadzab, sehingga hadits ini maudhu‘ karena terdapat perawi yang matruk atau kadzab. Tidak bisa menjadi penguat untuk hadits Abu Rafi’.

Hadits ketiga

Dikeluarkan oleh Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman,

( أَخْبَرَنَا أَبُو مُحَمَّدِ بْنُ فِرَاسٍ بِمَكَّةَ ، أنا أَبُو حَفْصٍ الْجُمَحِيُّ ، نا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ ، نا عَمْرُو بْنُ عَوْنٍ ، أنا يَحْيَى بْنُ الْعَلاءِ الرَّازِيُّ ، عَنْ مَرْوَانَ بْنِ سَالِمٍ ، عَنْ طَلْحَةَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْعُقَيْلِيِّ ، عَنِ الْحُسَيْنِ بْنِ عَلِيٍّ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” مَنْ وُلِدَ لَهُ مَوْلُودٌ فَأَذَّنَ فِي أُذُنِهِ الْيُمْنَى ، وَأَقَامَ فِي أُذُنِهِ الْيُسْرَى رُفِعَتْ عَنْهُ أُمُّ الصَّبِيَّاتِ “

“Muhammad bin Firas di Mekkah mengabarkan kepadaku, Abu Hafsh Al Jumahi mengabarkan kepadaku, Ali bin Abdul Aziz mengabarkan kepadaku, Amr bin ‘Auf mengabarkan kepadaku, Yahya bin ‘Ala Ar Razi mengabarkan kepadaku dari Marwan bin Salim, dari Thalhah bin ‘Abdillah Al ‘Uqaili, dari Al Hasan bin Ali, ia berkata: Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Barangsiapa yang baru lahir bayinya lalu ia beradzan di telinga kanannya dan iqamah di telinga kirinya, maka ummu shabiyyat tidak akan memberi bahaya baginya“”

Masalahnya terdapat pada Yahya bin ‘Ala Ar Razi,

  • Ibnu ‘Adi berkata: “hadits-nya tidak dapat di-mutaba’ah, dan semuanya tidak mahfuzh. kalau tidak dhaif haditsnya, maka riwayatnya yang dhaif”
  • Ad Dulabi berkata: “matruk fil hadits
  • Al Baihaqi berkata: “matruk
  • Abu Hatim Ar Razi berkata: “laysa bi qawiy
  • Ahmad bin Hambal berkata: “ia dha’if, seorang rafidhah, suka memalsukan hadits”
  • Ibnu Hajar berkata: “tertuduh suka memalsukan hadits, ia sangat lemah”
  • Ad Daruquthni: “matrukul hadits
  • Adz Dzahabi berkata: “para ulama meninggalkan haditsnya”
  • Al Bukhari berkata: “matrukul hadits
  • Abu Daud As Sijistani berkata: “para ulama mendhaifkannya”

Dari data ini juga jelas bahwa ia perawi yang matruk, bahkan tertuduh suka memalsukan hadits, sehingga haditsnya dihukumi hadits maudhu’. Tidak bisa menjadi penguat untuk hadits Abu Rafi’.

Hadits keempat

Dikeluarkan oleh Tammam Ar Razi dalam Al Fawaid,

أَخْبَرَنَا أَبُو عَلِيٍّ أَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ ، ثنا أَبُو شُعَيْبٍ الْحَرَّانِيُّ ، ثنا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرٍو الأُمَوِيُّ ، عَنِ الْقَاسِمِ بْنِ حَفْصٍ الْعُمَرِيِّ ، ثنا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ دِينَارٍ ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ ، أَنّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ” أَذَّنَ فِي أُذُنِ الْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا ، حِينَ وُلِدَا “

“Abu ‘Ali Ahmad bin Abdullah bin Umar mengabarkan kepadaku, Abu Syu’aib Al Harrani menuturkan kepadaku, Ubaidullah bin ‘Amr Al Umawi menuturkan kepadaku, dari Al Qasim bin Hafsh Al Umari dari Abdullah bin Dinar, dari Ibnu Umar, bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam adzan di telinga Al Hasan dan Al Husain radhiallahu’anhuma pada hari kelahirannya”

Masalahnya terdapat pada Al Qasim bin Hafsh Al Umari,

  • Ibnu ‘Adi berkata: “keumuman haditsnya tidak bisa di-mutaba’ah
  • Abu Hatim Ar Razi berkata: “matrukul hadits”
  • Abu Daud As Sijistani berkata: “haditsnya tidak ditulis selamanya, dan aku tidak peduli padanya”
  • Ahmad bin Hambal berkata: “kadzab, suka memalsukan hadits, haditsnya ditinggalkan”
  • An Nasa’i berkata: “matrukul hadits”
  • Ibnu Hajar berkata: “matrukul hadits”
  • Adz Dzahabi berkata: “para ulama meninggalkan haditsnya”
  • Ad Daruquthni berkata: “dhaif matruk”

Juga Ubaidullah bin ‘Amr Al Umawi hanya terdapat komentar dari Ibnu Hibban: “ia terkadang menyelisihi riwayat dan terkadang salah”.

Sehingga hadits ini juga dihukumi maudhu’ karena adanya perawi yang matruk bahkan kadzab. Tidak bisa menjadi penguat untuk hadits Abu Rafi’.

Kesimpulan

Hadits Abu Rafi’ yang paling baik kualitasnya dalam masalah ini, bermasalah pada perawi ‘Ashim bin Ubaidillah yang statusnya munkarul hadits. Andaikan dirajihkan pendapat ulama yang mengatakan ‘Ashim bin Ubaidillah ini statusnya dhaif, maka perlu di-mutaba’ah atau adanya syahid yang bisa menguatkan riwayat ini.

Hadits-hadits dhaif bisa saling menguatkan jika banyak jalannya dan kelemahannya ringan. Namun hadits Ibnu Abbas, Ibnu Umar, dan Al Hasan bin ‘Ali terlalu berat kelemahannya bahkan sampai pada derajat maudhu‘ (palsu), sehingga tidak bisa menguatkan hadits Abu Rafi’. Dan kami belum mengetahui kemungkinan lain yang bisa jadi pertimbangan untuk mengangkat derajat hadits ini. Sehingga yang tepat hadits Abu Rafi’ ini dha’if.

Inilah yang dikuatkan sebagian ulama diantaranya:

  • Ibnu Hibban dalam Al Majruhin
  • Asy Syaukani dalam Nailul Authar
  • Al Albani dalam Silsilah Al Ahadits Adh Dha’ifah
  • Abu Ishaq Al Huwaini, di sini

Wallahu a’lam.