Kalau seorang muslimah berkata: “Saya sudah tahu bahwa pakai jilbab itu tidak boleh ketat, tapi saya sedang ‘berproses’”. Atau seorang berkata, “saya tahu rokok itu haram, tapi dulu saya merokok sebungkus sehari, sekarang sementara 5 batang sehari dulu, lagi proses“. Ini sikap yang salah.

Perlu dibedakan, dalam menanggapi orang lain, kita memang mesti husnuzhan dan mencari-cari udzur. Muhammad bin Manazil berkata:

الْمُؤْمِنُ يَطْلُبُ مَعَاذِيرَ إِخْوَانِهِ ، وَالْمُنَافِقُ يَطْلُبُ عَثَرَاتِ إِخْوَانِهِ

Seorang mu’min itu mencari udzur (alasan-alasan baik) terhadap saudaranya. Sedangkan seorang munafik itu mencari-cari kesalahan saudaranya” (HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman 10437).

Misalnya dalam menanggapi saudara kita yang awam dan masih salah dalam menjalankan agama kita katakan “oh mungkin dia baru belajar”, “oh mungkin dia belum tau“, “oh mungkin dia belum ada biaya“, dll. Dengan tetap menasehatinya dan mengajarinya.

Beda lagi dengan sikap untuk diri sendiri, semestinya kita suuzhan para diri kita. Ibnul Qayyim mengatakan:

أما سوء الظن بالنفس فإنما احتاج إليه؛ لأنَّ حسن الظن بالنفس يمنع من كمال التفتيش، ويلبس عليه، فيرى المساوئ محاسن، والعيوب كمالًا

“Adapun suuzhan kepada diri kita sendiri, ini sangat dibutuhkan. Karena husnuzhan kepada diri sendiri akan menghalangi kesempurnaan introspeksi diri, dan akan membuat merasa dirinya sudah baik, seseorang akan melihat keburukan dirinya sebagai kebaikan, dan melihat aib-aib dirinya sebagai kesempurnaan”

Beliau juga mengatakan:

ولا يسيء الظن بنفسه إلا من عرفها، ومن أحسن ظنه بنفسه فهو من أجهل الناس بنفسه

“Tidaklah seseorang suuzhan pada dirinya kecuali ia benar-benar mengenal dirinya. Dan orang yang ber-husnuzhan pada dirinya, adalah orang yang paling tidak mengenal dirinya” (Madarijus Salikin, 189).

Maka semestinya kita suuzhan pada diri kita, misalnya dengan mengatakan “jika saya tidak segera berubah jadi lebih baik sekarang, saya akan semakin jauh dari kebaikan”, “kalau saya tidak segera berhijrah, saya khawatir mati dalam keadaan belum baik”, dan semisalnya.

Dan tidak boleh mencari-cari alasan atau apologi untuk tidak melaksanakan ajaran agama yang benar, semisal dengan alasan “saya sedang proses” atau “kelak saya akan berubah”. Sikap orang yang beriman adalah ketika mengetahui perintah dan larangan Allah, ia langsung mendengar dan taat. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Hanya ucapan orang-orang beriman, yaitu ketika mereka diajak menaati Allah dan Rasul-Nya agar Rasul-Nya tersebut memutuskan hukum diantara kalian, maka mereka berkata: Sami’na Wa Atha’na (Kami telah mendengar hukum tersebut dan kami akan taati). Merekalah orang-orang yang beruntung” (QS. An Nuur: 51).

Jadi jika sudah sampai hujjah, ilmu dan keterangan bahwa sesuatu itu haram, namun tetap kita lakukan, maka itu dosa. Atau kita sudah tahu bahwa sesuatu itu diwajibkan namun kita tidak laksanakan, maka juga berdosa.

Juga, bagi diri sendiri, tidak boleh beralasan dengan “masih lemah”. Misalnya, seorang muslimah berkata “saya masih lemah, belum bisa pakai jilbab yang syar’i, jadi sementara yang ketat dulu”. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

وأَهْلُ النَّارِ خَمْسَةٌ: الضَّعِيفُ الذي لا زَبْرَ لَهُ

Penghuni neraka ada 5 macam, yang pertama adalah orang lemah yang tidak memiliki zubraa (keinginan keras untuk taat pada agama)… ” (HR. Muslim 2865).

Ali Al Qari menjelaskan: “maksudnya orang yang tidak punya pikiran dan akal untuk berpikir yang bisa mencegahnya untuk melakukan hal yang tidak semestinya dilakukan” (Mirqatul Mafatih, 7/3107).

Beliau juga menjelaskan: “At Turibisyti berkata: ‘maksudnya yaitu ia tidak bisa istiqamah, karena jika maknanya adalah tidak punya akal, maka artinya tidak ada taklif baginya. Lalu bagaimana mungkin ia dihukumi sebagai penghuni neraka’. Dan aku melihat bisa juga ditafsirkan dengan: tidak tamaasuk (berpegang teguh pada ajaran agama).  Karena para ahli bahasa mengatakan bahwa laa zubra artinya tidak ber-tamaasuk, dan ini sesuai dengan kata asalnya. Sehingga kesimpulan maknanya: laa zubra artinya tidak berpegang teguh pada ajaran agama ketika datang godaan syahwat sehingga ia tidak menolak melakukan keburukan dan enggan wara’ terhadap perkara yang haram” (Mirqatul Mafatih, 7/3107).

Ringkasnya, kalau terhadap orang lain, boleh ber-husnuzhan bahwa ia “sedang proses”. Tapi untuk diri sendiri, jangan ber-husnuzhan dan ber-apologi dengan dengan alasan “sedang proses”, “kelak saya akan berubah”, dan semisalnya untuk melakukan perkara yang dilarang agama.

“Proses” adalah hal yang terkadang perlu dimaklumi, namun bukan apologi. Lagipula, sejujurnya kita semua, yang awam ataupun yang alim, semua sedang berproses hingga hasil akhirnya kita dapatkan di akhirat kelak. Tidak ada diantara kita yang sudah sempurna dan berhenti berproses. Allah Ta’ala berfirman,

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

Beribadahlah kepada Tuhanmu sampai datang kepadamu Al-Yaqin (kiamat)” (QS. Al-Hijr: 99).

Imam Ahmad bin Hambal pernah ditanya tentang sampai kapan kita “berproses” :

متى يجد العبد الراحة ؟؟ قال : عند أول قدم يضعها في الجنة

kapan seorang hamba bisa beristirahat? Beliau menjawab: ketika menginjakkan kaki di surga kelak

Wallahu a’lam.

Advertisements