Masalah kampanye Pemilu*) adalah masalah turunan dari masalah Pemilu. Artinya, hukum asalnya tergantung pada hukum Pemilu itu sendiri. Sebagaimana kita ketahui, para ulama berbeda pendapat mengenai hukum ikut serta dalam Pemilu, sebagian melarang dan sebagian membolehkan jika ada maslahah. Maka, hukum asal kampanye mengikuti hukum Pemilu. Ulama yang berpendapat haram ikut Pemilu maka tentu akan berpendapat kampanye Pemilu juga haram. Demikian juga sebaliknya.

Maka demikian juga, jika kita sudah tahu bahwa masalah ikut serta dalam Pemilu adalah masalah ijtihadiyah, maka hukum kampanye pun ijtihadiyah. Namun disini yang ingin kami tekankan bahwa ulama yang membolehkan Pemilu jika ada maslahah, memberikan kriteria dan batasan bolehnya kampanye Pemilu. Simak beberapa fatwa ulama berikut:

Fatwa Syaikh Musthafa Al ‘Adawi:

Penanya berkata: “Bagaimana hukumnya jika saya suka membantu mengkampanyekan kandidat dalam Pemilu kepada para pemilih dan juga mengumumkan lawannya (si kandidat tersebut)?”

Syaikh menjawab:

Jika kandidat yang dikampanyekan adalah orang yang keadaan agamanya baik atau kandidat tersebut adalah orang yang tidak membahayakan kaum Muslimin, maka tidak mengapa.

Adapun jika kandidat yang dikampanyekan adalah kadzab (orang yang gemar berdusta), suka menipu dan ahli maksiat, maka jangan tuliskan ajakan terhadapnya. Karena Allah Ta’ala berfirman:

وتعاونوا على البر والتقوى ولا تعاونوا على الاثم والعدوان

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (QS. Al Maidah: 2).

Demikian juga, Allah Ta’ala berfirman dalam kitab-Nya yang mulia:

قَالَ رَبِّ بِمَا أَنْعَمْتَ عَلَيَّ فَلَنْ أَكُونَ ظَهِيرًا لِلْمُجْرِمِينَ

Musa berkata: “Ya Tuhanku, demi nikmat yang telah Engkau anugerahkan kepadaku, aku sekali-kali tiada akan menjadi penolong bagi orang-orang yang berdosa”” (QS. Al Qashash: 17)

yaitu maksudnya tidak menjadi penolong bagi orang-orang yang gemar berbuat dosa dalam mengerjakan perbuatan dosa mereka.

Wallahu a’lam.

Sumber: http://www.youtube.com/watch?v=4T-iGC6M4sY

Fatwa IslamWeb, Asuhan Syaikh Abdullah Al Faqih

Soal:

Bolehkah kampanye Pemilu untuk memilih salah satu partai Islam di Masjid? Saya mohon penjelasan dengan dalil yang jelas. jazaakumullah khayr.

Jawab:

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه، أما بعد

Kampanye Pemilu jika disertai dengan perdebatan dan pertengkaran serta menimbulkan keributan dan fitnah serta perselisihan di antara kaum Muslimin, maka wajib menjauhi dan membersihkan Masjid dari hal itu. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

لِيَلِنِي مِنْكُمْ أُولُو الْأَحْلَامِ وَالنُّهَى ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ـ ثَلَاثًا ـ وَإِيَّاكُمْ وَهَيْشَاتِ الْأَسْوَاقِ

Hendaklah yang tepat di belakangku (shaf pertama) adalah orang yang memiliki kecerdasan serta orang yang berakal di antara kalian, kemudian orang yang sesudah mereka kemudian orang yg sesudah mereka (3x) dan jauhilah Haisyatul Aswaq” (HR. Muslim)

An Nawawi berkata: “Haisyatul Aswaq, dengan ha di fathah dan ya di sukun dan syin panjang. Artinya mencampuri masjid dengan pertengkaran, perdebatan, ditinggikannya suara-suara, keributan dan fitnah di dalamnya”.

Adapun jika kampanye tidak mengandung itu semua, serta jika menjaga batasan-batasan syariat yaitu :

  • menghindari dusta, ghibah,
  • kampanye tersebut sesuai dengan maqashid syari’ah dalam rangka menolong ahlul haq
  • kampanye tersebut mengupayakan maslahat bagi kaum Muslimin serta memberikan nasehat bagi kaum Muslimin,
  • mafsadahnya tidak lebih besar dari maslahahnya

jika demikian maka tidak mengapa.

Sumber: http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=169873

Fatwa Syaikh Ali Hasan bin Abdil Hamid Al Halaby

Fatwa beliau terkait dengan agenda Pilpres 2014, disampaikan ketika kedatangan beliau Juni 2014 lalu. Kami copas dari notes Ust. Abul Aswad

السائل : بارك الله فيك أسأل الله أن ييسر ما قد بلغتم حتي……. لكن نريد أن تركز الشيخ قضية عدم الإعلان عندما حددت بالشروط الثلاثة عدم الإعلان هل عدم الإعلان هذه المقصود بها أن كل شخص منا يلقي المحاضرة أن نقول مثلا رشحوا الذي تريدون الذي ترون فيه مصلحة أو مثلا يحدد شخصا معينا لأن تحديد شخص معين هنا يضاد قضية الإعلان هذه فبهاذا البيان هل هو عدم الإعلان هذه معناه أن كل واحد منا من الدعاة السلفيين الموجودين لا يرشح أو لا يبين شخصا معينا فقط يقولون مثلا للمدعو لكم ما ترون من الاثنين الأصلح مثلا ؟

الشيخ علي بن حسن الحلبي الأثري : أنا أسألك سؤالا المجلس الذي جمعنا الآن كم أخ إمام مسجد أو مدير مركز أو معهد يرفع يده ! كل واحد إمام مسجد أو مدير مركز أو مدير معهد أو مقدم في قومه و  أسرته و عسيرته يرفع يده !  قل ! الآن هؤلاء فقط ولا نريد من وراءهم لو أن كلا منهم أخبر من حوله ومن يعترف معه من منطقته أليس هذا له أثر كبير جدا في تأثير الدعوي فيما أنتم له فاعلون هذا أولا

 الأمر الثاني الآن أذنوا هذا المجلس انتهينا فيه إلى الرأي الآن ذاك الرأي أليس له فاعلية في الحضور ؟ ومن وراءهم ؟ الآن هل لابد أن يكن له فاعلية إلا إذا أنزلناه غدا في الفيس بوك ؟ هل لابد ؟ أم في الصحف أم في القنوات ؟ هنا البحث هنا البحث وهنا الحذر وهنا الانتباه ولماذا الحذر والانتباه ليس لذاته لما وراءه من احتمال أن يأتي العكس لما نتمنى

 لذلك هو من باب حفظ الخطر الرجعي ليس من باب المنع للإعلام والإعلان لذاته أرجو أن تفهم هذا كما قلنا نحن أنتم عفوا وليس نحن يعني إلا من باب نحن وأنتم سواء وهو كذلك إن شاء الله لكن أنتم الذين ستأخذون فعلا لهذا الأمر كمن يمش في حقل الأنغام لا قدر الله لا قدر الله لو أعلنتم واشتغلتم في الإعلان في هذا الأمر ثم حصل عكس ما تريدون لكانت هذه ضربة قاضية للدعوة السلفية (الله أكبر الله أكبر) لأجل هذا أنا قلت أرجو أن تتأملوا ما قلت و أرجو أرجو أن تعملوا بما قلت فهو خير لكم في دينكم ودنياكم وفي عاقبة أمركم كأشخاص ولدعوتكم كمنهج تريدون نشره وأنتم فارحون في اليوم بانتشاره في هذه البلاد

 الآن أول زيارتنا لأندونيسيا سنة 1997. هل 97 مثل اليوم يا إخواني الدعوة السلفية ؟ هلا أستاذ يوسف ؟ (لا) ألا هو كذلك. الآن لا قدر الله لا قدر الله لو أنكم فيشلتم في هذا المسلك السياسي سترجعون أسوء  من سبعة وتسعين للأسف ونحن لا نريد ذلك و أنتم لا تريدون ذلك ولا تحبه. هذا مقصودي حتى يفهم القول أما أن تكن في مجلس و أن تنشر تقول لهذا كذا ولهذا كذا هذا يخبر من وراءه من أسرته و أن يخبر من وراءه من زملائه

هذا يعني لا يمكن أن يكون الانتصار للرأي دون هذا الحد, لا. وهذا الحد الأدنى له آثاره, لاكن أن ننقل هذا إلى الفيس بوك و إلى الإعلام وإلى اليوتيوب و إلى القنوات الفضائيات والصحف والجرائد وغدا …. تليفزون الرسمي. إما أن تصل إلى هدف ولم تكن منتفعا به جدا عند ذاك و إما أن لا تصل فتنكسر ولا حولا ولا قوة إلا بالله. نصيحتي لقد كتبتها الآن الذي لا يوافق على هذا الكلام نحن لا نلزمه قلنا هذا لاكن نريد ضرب شيء آخر لا أنصحه أن يصرح بالمنع لأن التصريح بالمنع فهمه بعض الإخوة أن عليه مسؤولية قائمية جزائية. أن لا تنتخب هذا حقك كما أن لك حق أن تنتخب لك حق أن لا تنتخب لاكن أن تنهى عن الانتخاب و تمنع عن الانتخاب و تحرض على عدم الانتخاب هذا عليه مسؤولية جنائية لا نحب لإخواننا أن يبتلى بها هذه نقطة أرجو أيضا أن تؤخذ من أيد الاحترام نعم.

Soal:

Semoga Allah memberkahi engkau, saya memohon kepada Allah agar memudahkan apa yang telah engkau sampaikan sehingga , , , (suara tidak terdengar jelas). Akan tetapi kami ingin dari engkau wahai syaikh untuk memfokuskan pada masalah tidak bolehnya mengumumkan sikap politik kita.

Engkau ketika membatasi masalah ini dengan tiga syarat diantaranya tidak boleh mengumukan. Apakah ketidak-bolehan ini dimaksudkan dengannya bahwa masing-masing kami memberikan ceramah, kami mengatakan misalnya pilihlah capres yang kamu pilih yang kamu pandang lebih baik , atau misalnya dengan menyebutkan capres tertentu.

Karena penyebutan capres tertentu seperti ini bertentangan dengan ketidak bolehan mengumumkan. Dengan penjelasan seperti ini, maka apakah ketidak bolehan mengumumkan ini bermakna bahwa masing-masing kami dari kalangan para dai salafiyyin yang ada tidak memilih atau tidak menerangkan kondisi capres tertentu. Namun hanya mengatakan kepada audiens: Silahkan pilih salah satu yang paling baik diantara dua capres yang ada?

Jawab:

Aku ingin bertanya kepadamu dengan sebuah pertanyaan. Majelis yang sekarang kita berkumpul di dalamnya ini berapa banyak saudara kita yang menjadi imam masjid, mudir pondok, mudir markaz dakwah angkat tangan ! Setiap masing-masing kalian yang menjadi imam masjid, mudir pondok, mudir markaz dakwah, punggawa di keluarga dan masyarakatnya angkat tangan !

Katakan ! mereka ini saja dan ini belum orang-orang di belakang mereka, seandainya masing-masing mereka ini mengabarkan pada orang-orang yang ada di belakang mereka dan pada orang-orang yang mengenalnya, bukankah ini akan membawa pengaruh sangat besar terhadap sesuatu yang sedang kalian emban. Ini yang pertama.

Yang kedua, sekarang majelis kita ini, kita berujung pada satu pendapat, bukankah pendapat kita ini akan memiliki efek yang besar bagi hadirin di sini dan juga orang-orang di belakang mereka ?

Apakah ia tidak memiliki efek melainkan jika kita posting besok di facebook ? apakah harus demikian ? atau haruskah kita publish ke channel-channel televisi, koran-koran dan majalah majalah ? di sini ada pembahasan, di sini ada pembahasan, dan di sini kita harus berhati-hati dan waspada. Kenapa harus hati-hati dan waspada ? Bukan karena larangan mempublikasikan itu sendiri, namun karena hal yang ada di balik itu semua berupa kemungkinan datangnya hal yang tidak kita harapkan.

Maka dari itu, hal ini dilihat dari sisi mengantisipasi imbas bahaya yang akan datang, bukan dilihat dari pelarangan mempublikasi di media massa itu sendiri. Aku berharap hal ini difahami dengan baik.

Hal ini sebagaimana yang kita katakan, maaf maksudku adalah kalian bukan kami. Kecuali jika hal ini dilihat dari sisi kami dan kalian sama saja, dan memang demikianlah keadaannya insya’Allah. Akan tetapi dalam hal ini kalianlah yang akan menjadi pelaku utama di dalamnya. Hal ini sebagaimana kita katakan ; seperti orang yang berjalan di ladang ranjau.

Semoga Allah tidak mentakdirkan, semoga Allah tidak mentakdirkan (dua kali) seandainya kalian sibuk mempublikasi (sikap politik dan aib-aib kubu lawan-pent) ke media-media massa . Kemudian datang hal yang tidak kalian inginkan (jago yang kalian pilih kalah-pent), maka ini akan menjadi pukulan dahsyat yang akan menghabisi dakwah salafiyyah (terdengar suara takbir beberapa kali dari hadirin-pent).

Demi untuk hal ini aku menyatakan larangan ini, aku berharap kalian mau merenungkan apa yang aku katakan. Dan aku berharap, aku berharap (syaikh mengulangi dengan nada tinggi) agar kalian melaksanakan apa yang aku katakan ini. Ini yang terbaik untuk kalian, baik untuk  urusan dunia kalian maupun agama kalian, demikian pula untuk masa depan kalian dari sisi perorangan.

Dan ia baik bagi dakwah kalian dari sisi manhaj, dakwah yang ingin kalian sebarkan, dakwah yang kalian merasa bahagia pada hari ini karena ia telah tersebar luas di negri ini. Sekarang, kedatangan kami ke Indonesia pada tahun 1997. Apakah dakwah salafiyyah pada tahun 97 seperti dakwah salafiyyah pada hari ? apakah tidak demikian ustadz (syaikh menyebut nama seseorang). Tidak

Ya benar demikianlah keadaannya. Dan sekarang semoga Allah tidak mentakdirkan, semoga Allah tidak mentakdirkan jika kalian gagal di dalam melakukan manuver politik ini, maka kalian akan kembali pada keadaan yang jauh lebih buruk, lebih buruk 180 deraja,t bahkan lebih buruk lagi dari keadaan kala itu. Dan kami tidak menginginkannya, kalian juga tidak menginginkannya dan tidak menyukainya.

Ini yang aku maksudkan, agar perkataan ini difahami dengan baik. Adapun jika dikatakan : kalian ada di majelis lalu kalian menyebarkan bahwa ini begini, itu begitu, yang ini memberitahu yang lain, orang-orang yang ada di belakangnya, keluarga dan sahabat-sahabatnya. Lalu dikatakan dengan cara seperti ini kita tidak mungkin menang, TIDAK TIDAK demikian.

Cara ini pasti memiliki pengaruh, namun jika kita mem-publish hal ini ke facebook, ke media massa, ke you tube ke channel-channel televisi, Koran-koran dan majalah-majalah, kemudian besok . . .(suara tidak terdengar jelas) televisi resmi. Bisa jadi kalian akan sampai pada tujuan kalian, dan kalian tidak mengambil manfaat banyak ketika itu. Atau bisa jadi kalian tidak sampai pada tujuan kalian, sehingga kalian akan hancur la haula wala quwwata illa billah.

Dan nasehatkau, aku telah menulisnya hari ini, bagi orang yang tidak menyetujui perkataan ini, aku tidak maumemaksakan pendapatku. Kami katakan ini namun kami ingin sampaikan sesuatu yang lain, aku tidak menasehatkan untuk terang-terangan melarang nyoblos. Karena melarang nyoblos dengan terang-terangan difahami oleh sebagian ikhwan. Ia akan bertanggung jawab atas resiko yang akan terjadi.

Engkau tidak nyoblos itu hakmu, engkau memiliki hak untuk nyoblos sebagaimana engkau memiliki hak untuk tidak mencoblos. Akan tetapi jika engkau melarang dari mencoblos, mencegah dari mencoblos dan memprovokasi untuk tidak mencoblos, maka ia bertanggung jawab secara kriminal dan ini tidak kami inginkan jika menimpa ikhwan kami. Hal ini kami harapkan untuk diterima dengan santun, na’am.

[selesai perkataan Syaikh Ali Hasan]

***

Kesimpulan:

Hukum kampanye Pemilu adalah turunan dari hukum Pemilu. Ulama yang berpendapat haram ikut Pemilu maka tentu akan berpendapat kampanye Pemilu juga haram. Sedangkan yang berpendapat boleh ikut serta dalam Pemilu maka hukum asal kampanye adalah boleh. Hukum boleh ini bisa berubah menjadi haram jika melanggar batas-batas syariat atau jika menimbulkan mafsadat bagi dakwah atau bagi kaum Muslimin seperti penjelasan Syaikh Ali bin Hasan.

 

*) Maaf jika tulisan ini memang out of date, karena masa kampanye sudah berlalu. Namun sejujurnya tulisan ini ingin memberi penjelasan pada sebagian ikhwah yang serampangan menyalahkan atau merendahkan sebagian ustadz yang berijtihad untuk melakukan kampanye Pilpres.