Pertanyaan:

Apakah benar bahwa ayat Qur’an bisa menjadi syawahid (penguat) bagi hadits-hadits dhaif lalu membuatnya jadi shahih? Lalu apakah praktek salaf pada suatu amalan (padahal haditsnya dhaif) dapat menshahihkan hadits?

Syaikh Mayhur Hasan Salman hafizhahullah menjawab:

Itu tidak dibenarkan. Karena makna ayat Qur’an pasti shahih dan ayat Qur’an itu tercukupi (tidak butuh syahid, pent). Namun disini ada catatan penting yang harus diperhatikan. Yaitu bahwa jika kita mengatakan ‘Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda…‘, lalu didatangkan ayat Qur’an. Disini yang kita inginkan bukanlah menyatakan bahwa perkatan ini haq atau batil, karena Al Qur’an itu semuanya haq, namun yang kita inginkan adalah syahid (penguat) yang membuktikan bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam telah bersabda demikian atau tidak. Apakah mungkin kita menggunakan ayat Qur’an untuk mengangkat dan memaksakan hadits yang sanadnya lemah kemudian kita mengatakan bahwa “Nabi berkata demikian“, apakah ini dibenarkan? Ayat Qur’an tidak bisa menjadi syahid bagi hadits dhaif dari sisi penguatan bukti bahwa Nabi mengucapkan suatu perkataan. Namun dari sisi penguatan bahwa suatu perkataan itu haq, maka ayat Qur’an sangat mencukupi dan ia adalah hujjah.

Adapun mengenai praktek salaf pada suatu amalan, maka ini penjelasannya panjang. Kita tidak boleh mengabaikan fakta jika suatu hadits itu lemah. Dan hadits yang kelemahannya ringan, dan ada praktek para sahabat dan tabi’in, maka jika demikian ini bisa menguatkan antara yang satu dengan yang lain. Adapun adanya praktek orang-orang masa kini terhadap suatu amalan, kemudian kita memaksakannya untuk mengangkat hadits dhaif yang di dalamnya ada perawi matruk atau majhul, maka tidak boleh. Adapun hadits yang lemahnya ringan, dan kita mengetahui bahwa para sahabat dan tabi’in mengamalkan amalan tersebut, maka inilah yang diterima. Demikian yang dikatakan oleh Ibnu Abdil Barr dan yang lainnya, wallahu a’lam.

Sumber: http://ar.islamway.net/fatwa/31124