Ibnul Qayyim pernah ditanya: “jika Allah memberikan seorang insan sebuah kenikmatan, bagaimana mengetahui hal itu adalah sebuah fitnah (ujian) atau sebuah nikmat?”

Beliau menjawab: “jika hal tersebut tambah mendekatkan ia kepada Allah maka itu nikmat, namun kalau hal tersebut tambah menjauhkan ia dari Allah, maka itu fitnah (ujian)”