Islam melarang sikap berlebih-lebihan dalam membelanjakan harta (israf) dan juga melarang membelanjakan harta untuk hal yang sia-sia (tabzir), dan pelaku tabzir ini disebut mubazir. Dan kedua perbuatan ini terkadang dalam bahasa Indonesia sama-sama disebut dengan mubazir. Mari kita simak lebih jelas apa definisi dan batasan dari israf dan mubazir, karena banyak sekali yang salah paham dalam memahaminya. Penjelasan dan nukilan-nukilan berikut diambil dari Mausu’ah Akhlaqiyah di web Ad Durar As Saniyah binaan Syaikh Alwi bin Abdil Qadir As Segaf.

Makna Israf Secara Bahasa

الإسراف: مجاوزة القصد، مصدر من أسرف إسرافًا، والسَّرَف اسم منه، يقال: أسرف في ماله: عجل من غير قصد، وأصل هذه المادة يدُلُّ على تعدِّي الحدِّ، والإغفال أيضًا للشيء

Al Israf adalah adalah lebih dari tujuan. Dari fi’il asrafa – israfan. As Saraf isim (mashdar) darinya juga. “asrafa fi maalihi” artinya bersegera (mengeluarkan harta) tanpa tujuan. Dan asal makna dari kata ini menunjukkan pada sikap melebihi batas dan sembrono dalam melakukan sesuatu (Maqayis Al Lughah, 3/153, Lisanul Arab 9/148, Misbahul Munir, 1/247).

Makna Israf Secara Istilah Syar’i

الإسراف: هو صرف الشيء فيما لا ينبغي زائدًا على ما ينبغي

Israf artinya membelanjakan / memberikan sesuatu untuk hal yang tidak selayaknya sebagai tambahan atas apa yang selayaknya (Al Kuliyat, 113)

Ar Raghib Al Asfahani menyatakan:

السرف: تجاوز الحد في كلِّ فعل يفعله الإنسان، وإن كان ذلك في الإنفاق أشهر

As Saraf artinya setiap perbuatan manusia yang melewati batas, walaupun istilah ini lebih masyhur dalam masalah pembelanjaan harta (Mufradat fi Gharibil Qur’an, 407).

Al Jurjani menyatakan:

الإسراف: هو إنفاق المال الكثير في الغرض الخسيس. وقيل تجاوز الحدِّ في النفقة، وقيل: أن يأكل الرجل ما لا يحلُّ له، أو يأكل مما يحل له فوق الاعتدال، ومقدار الحاجة. وقيل: الإسراف تجاوز في الكمية، فهو جهل بمقادير الحقوق

Al Israf artinya membelanjakan harta yang banyak untuk tujuan yang sangat sedikit. Sebagian pendapat menyatakan, artinya melebihi batasan dalam pembelanjaan harta. Sebagian pendapat menyatakan, artinya seseorang memakan harta yang tidak halal baginya atau memakan yang halal baginya memlebihi batas dan melebihi kadar kebutuhan. Sebagian pendapat menyatakan, artinya melebihi kuantitas yang normal, karena tidak memahami batasan kuantitas yang menjadi haknya (At Ta’rifat, 24)

Makna Tabzir (Mubazir) Secara Bahasa

التبذير: التفريق، مصدر بذَّر تبذيرًا، وأصله إلقاء البذر وطرحه، فاستعير لكلِّ مضيع لماله، وبذر ماله: أفسده وأنفقه في السرف. وكل ما فرقته وأفسدته، فقد بذرته، والمباذر والمبذِّر: المسرف في النفقة؛ وأصل هذه المادة يدلُّ على نثر الشيء وتَفْرِيقه

At Tabzir artinya pemecah-belahan, sebagai mashdar dari badzara – tabziran. Makna aslinya, melempar bibit. Kata ini juga dipakai untuk mengatakan segala bentuk penyia-nyiaan harta. “badzara maalahu” artinya ia merusak hartanya atau membelanjakannya secara berlebihan. Juga dipakai untuk menyebutkan segala bentuk pemecah-belahan harta dan perusakan harta, maka ia dikatakan “badzarahu“. Al Mubaadzir atau al mubadziir, artinya orang yang berlebih-lebihan dalam membelanjakan harta. Dan asal makna dari kata ini menunjukkan pada sikap perusakan terhadap sesuatu dan pemecah-belahan terhadapnya (Maqayis Al Lughah, 1/216, Al Mufradat fi Gharibil Qur’an, 114, Lisanul Arab 9/148)

Makna Tabzir (Mubazir) Secara Istilah Syar’i

Imam Asy Syafi’i menyatakan,

التبذير إنفاق المال في غير حقِّه

At Tabzir artinya membelanjakan harta tidak sesuai dengan hak (peruntukan) harta tersebut (Al Jami li Ahkam Al Qur’an, 10/247).

sebagian pendapat menyatakan,

التبذير صرف الشيء فيما لا ينبغي

At Tabzir artinya membelanjakan untuk sesuatu yang tidak selayaknya dibelanjakan (At Ta’rifat, 24, Al Kuliyat, 113)

sebagian pendapat menyatakan,

هو تفريق المال على وجه الإسراف

At Tabzir artinya memecah-belah harta dalam bentuk yang termasuk berlebih-lebihan (At Ta’rifat, 51, At Taufiq ‘alal Muhimmat At Ta’arif, 90, Lisanul Arab, 4/50)

Perbedaan Israf dan Tabzir

الإسراف: صرف الشيء فيما لا ينبغي زائدًا على ما ينبغي بخلاف التبذير؛ فإنه صرف الشيء فيما لا ينبغي

Al Israf itu membelanjakan harta untuk sesuatu yang tidak selayaknya dibelanjakan sebagai tambahan dari sesuatu yang memang selayaknya dibelanjakan, sedangkan At Tabzir itu membelanjakan harta untuk sesuatu yang tidak selayaknya (At Ta’rifat, 24)

فبينهما عموم وخصوص إذ قد يجتمعان فيكون لهما المعنى نفسه أحيانًا، وقد ينفرد الأعم وهو الإسراف

Diantara keduanya ada yang lebih umum maknanya dan ada yang lebih khusus. Jika mereka disebutkan bersamaan terkadang maknanya sama, dan terkadang salah satunya lebih umum dari yang lain, yaitu Al Israf (Nudhratun Na’im, 9/4115).

Sumber: